Ticker

6/recent/ticker-posts

Belajar Dari "Kegagalan" Yahoo

By: M. Ridwan

Hari Minggu begini enaknya memang jalan-jalan. Saya memilih pergi ke negeri Paman Sam. Tentu tidak dengan fisik tapi menelusuri dunia maya. Lebih mudah, hemat dan riil. Iseng-iseng, saya mau tahu, apa kabar Yahoo sekarang ini ya?

Yahoo adalah mesin pencari (search engine) yang lebih dulu populer ketimbang Google. Pembuatnya adalah David Filo dan Jerry Yang. Jelasnya, mereka bukan orang Indonesia, ya. Jangan cemburu...:)

Yahoo sempat merajai jagad dunia maya. Google belum dikenal dan belum lahir ketika Yahoo menunjukkan dirinya. Saya yakin, semua yang pernah mengikuti perkembangan internet pasti berhutang budi dengan si Yahoo ini. Saat itu, Yahoo memfasilitasi banyak kebutuhan, baik berita, email dan komunitas.

Kini, Yahoo kalah pamor dibandingkan Google. Penggunanya menurun sehingga pertumbuhannya negatif. Penyebabnya karena kurang visioner. Salah membaca pasar, atau juga terlalu merasa nyaman sehingga lupa mengantisipasi kompetitor.
Memang sih, eksekutif  Yahoo pernah mencoba mengakuisisi situs terkenal www.broadcast.com dan e-Bay. Sayangnya tidak berkembang.  Mereka salah perhitungan.

Yahoo pernah juga mencoba membeli Facebook seharga 1 Milyar Dollar. Sayangnya, penawaran mereka ditolak oleh si Mark Zukernberg karena harganya diangap terlalu murah. Seandainya saja waktu itu transaksi ini berhasil, tak dapat dibayangkan kiprah si Yahoo saat ini, bukan?

Saat ini, saham Yahoo! bergerak di kisaran
US$ 30 per saham, menyentuh level terendah sejak 2013. Jika dihitung sejak awal 2016, harga saham Yahoo! telah terpangkas hingga 18,5%. Pemicunya adalah, pendapatan operasional Yahoo! anjlok 50% menjadi US$ 342 juta di sepanjang 2015, dari sebelumnya US$ 755 juta pada 2014 lalu.

Berbeda dengan Yahoo, Mbah Google malah berhasil membeli Youtube. Dapat dibayangkan, kinclongnya pertumbuhan si Google ini. Pilihan mereka sebagai one stop service bagi pengguna internet menjadikan laju Google hampir tak terbendung.

Apakah ini berarti kiamat bagi Yahoo?
Belum tentu juga. Kabarnya, mereka sedang mempersiapkan fitur-fitur andalan baru di layanan email. Misalnya, akan ada fasilitas memberitahukan kondisi seseorang ketika menerima email. Misalkan, saya mengirim ke seorang teman di Benua Antartika. Ketika ia menerima email dari saya yang berasal dari negeri tropis ini, maka smartphonenya akan langsung menjadi hangat. Sebaliknya, ketika ia membalas email saya, maka otomatis handphone saya menjadi dingin. Keren juga ya? Saya belum tahu bagaimana pula jika seseorang sedang marah ketika mengirim email. Apakah handphone saya akan berteriak dan berwarna merah? :)

Kendati, mungkin tidak semua kita suka ekspresi dan perasaan jiwa ini diketahui, tapi ide kreatif Yahoo boleh juga sih.

Kabarnya, Yahoo juga banyak menutup perwakilan mereka, misalnya di China dan Indonesia. Mereka juga melakukan PHK terhadap karyawan mereka di seluruh dunia.

Saya yakin, Yahoo akan bangkit kembali. Pesan yang dapat kita tangkap dari kejadian ini bahwa sebuah visi yang tak mampu menangkap perubahan akan menyebabkan sebuah institusi atau korporasi terjerembab ke dalam jurang keterpurukan.

Itupun jika memiliki visi. Bayangkan pula jika sebuah institusi dan korporasi tidak memiliki visi yang jelas dan mampu diimplementasikan dengan baik? dimana anggota di dalamnya hanya mengejar kepentingan pribadi, ambisius dan mengejar short term interest semata?. Wah wah, Bersiaplah menuju "kiamat" kecil.
Happy weekend...!!!!

Post a Comment

0 Comments