Ticker

6/recent/ticker-posts

Bisnis Kawasan Pantai (Bag. 2)

By: M. Ridwan

Kawasan pantai itu memang indah. Syukurnya, Indonesia dianugerahkan Tuhan pantai yang luas dan menawan. Hampir tidak ada propinsi di Indonesia yang tidak memilikinya. Jadi tidak perlu jauh-jauh untuk ke luar negeri untuk mendapatkan sensasi liburan pantai. Cukup di Indonesia saja. Mau merasakan sensasi pantai Samudera Hindia?, Silahkan pergi ke pantai-pantai di kawasan Lhoknga, Lampuuk, Anoi Hitam Sabang, Sibolga, Nias, Mentawai, Kepulauan Seribu, Parangtritis, Madura, Lombok,  Dream Island, Sanur, Kuta di Bali atau Nusa Dua. 

Pantai dan laut di Sulawesi atau Kalimantan juga tak kalah indahnya. Kunjungi saja Bunaken, Wakatobi, Losari atau Kepulauan Derawan di Kaltim dan Singkawang, Kalbar. Dahsyat.

Atau mau merasakan sensasi pantai  laut Arafuru yang dalam?. Silahkan main-main ke pantai Papua seperti Raja Ampat dan kawasan kepala burung. Ada yang tahu info tentang laut di Papua?. Kalau ada yang sudah pernah ke sana, ceritakan ya..Saya belum pernah, sih.

Kadang kita memaklumi, jika akhirnya banyak orang yang rela menghabiskan uangnya dengan berburu pantai. Saya pernah bertemu seorang Bapak yang baru pulang dari Hawaii, kepulauan Pasifik. Menurutnya, Hawaii hanya keren di iklan. Kenyataannya? keindahannya masih kalah dengan Indonesia. Menurutnya, di sana hanya ada beberapa pohon kelapa saja.  Kepulauan Malvinas juga sama. 

Lucu, Kenapa juga jauh-jauh ke sana, Pak??. Ternyata, Si Bapak sudah kelebihan uang sih .

Memang, ada beberapa keunikan pantai atau laut yang tidak dimiliki Indonesia. Misalnya, karena nilai sejarah yang dimiliki. Saya bermimpi bisa menikmati laut dan pantai-pantai di Samudera Atlantik, pantai Turki, Spanyol, Afrika atau mungkin Arab. Saya mau tahu bagaimana Islam menyebar di dunia dengan perantaraan lautan. 
Saya ingin merasakan sensasi Selat Gibraltar misalnya, sekedar mau tahu bagaimana Tariq bin Ziyad mengarugi lautan ganas itu untuk mencapai Spanyol. Seru. 

Atau, Anda  mungkin ingin berlayar di lautan dimana nampak pembatas antara dua laut. sebagaimana dilansir oleh Alquran? Silahkan telusuri lautan Mediterania. Nant Anda akan ketemu dengan laut Atlantik di Selat Gibraltar tadi. Lho, kita akan bertemu di situ. Hehehe. 

Saya tidak bercanda. Pertemuan laut Mediterania dan Atlantik di Selat Gibraltar itulah bukti kebenaran tentang adanya pemisah dua lautan. Jelas sekali kelihatan pemisahnya. Adapun yang menceritakannya adalah seorang teman yang sudah pernah ke sana.

Mungkin saja ada peminat sejarah ekonomi yang ingin merasakan sensasi lautan Karibia tempat dimana pelaut Viking dan Eropa berperang memperebutkan harta karun dan menjadi kuburan kapal-kapal bajak laut dan padagang? Laut-laut itu menjadi saksi era Merkantilisme lho..Silahkan saja nikmati.

Namun, betapun hebatnya sejarah yang dimiliki lautan Eropa, namun secara iklim, lautan mereka berbeda. Sehingga, kita tidak bisa menikmatinya di setiap musim. Memangnya enak berenang di pantai ketika musim dingin? Bisa beku itu badan. Belum lagi jika ketemu hiu-hiu dan paus putih ganas yang hanya mau tinggal di laut dalam dan dingin seperti Eropa. Seram....

Kondisi ini tentu berbeda sekali dengan laut yang dimiliki negeri ini. Iklim tropis yang dimiliki Indonesia membuat laut-laut kita special. Selalu hangat. Ikan hiunya juga "jinak-jinak". Coba saja, :)

Back to judul.
Supaya jangan terlalu jauh ngalur ngidul, saya kembali ke judul. 

Bisnis kawasan pantai itu sebenarnya boleh saja, terutama terkait wisata. Kita boleh menghiasi pantai, atau pulau dan melengkapi fasilitasnya dengan tujuan wisata sehingga bisa membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat pantai yang tinggal di sekitarnya. 

Yang tidak boleh adalah komersialisasi pantai seperti apa yang dikenal saat ini dengan istilah reklamasi pantai. Sebenarnya, reklamasi pantai itu beda dengan komersialisasi pantai. Reklamasi dilakukan dengan memperbaiki areal pesisir sehingga tidak tergesur gelombang dan melindungi habitat hayatinya. Wah, seperti guru Biologi ya.

Saya agak heran saja. Kok reklamasi yang ditunjukkan sekarang dilakukan bukan dengan memperbaiki struktur kawasan pantai tapi malah membuat pulau?. Membuat pulau itu tidak sama dengan reklamasi pantai. Membuat pulau itu pure untuk bisnis, kan?sedangkan reklamasi pantai bertujuan untuk keberlangsungan masa depan pantai dan lingkungan. Istilahnya, sustainability ekonomi dan sosial juga. Caiile....

Saya serius nih. Ini aneh. Kenapa kita harus capek-capek membuat pulau padahal banyak pulau-pulau kita yang saat ini tidak terurus?

Upps, mungkin ada yang membantah dengan mengatakan kok Dubai bisa melakukan itu? Kok Dubai boleh membuat pulau buatan yang dikenal dengan Palm Jumeirah itu?

Saya cerita dikit tentang Palm Jumeirah.
Ini kawasan elite di dunia. Pulau buatan yang menyerupai pohon palem. Harganya mahal sekali sehingga orang seklas David Beckham saja yang bisa membeli property di sana. Bagi pengamat ekonomi syariah tentu masih ingat bahwa Dubai World -si pengembang Palm Jumeirah- pernah kesulitan membayar imbal hasil atas sukuk yang mereka terbitkan. 

Dubai World mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasinya yang jatuh tempo pada akhir November 2009. Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah (sukuk) 3,5 miliar dolar AS yang jatuh tempo pada 14 Desember 2009 dan utang lain senilai 980 juta dolar AS yang jatuh tempo 13 Mei 2010.
Hampir saja orang tidak percaya kepada instrumen keungan Islam bernama sukuk ini. Syukurlah, pemerintah Dubai mengucurkan bailout kepada Dubai World. 

Nah, hemat saya, Palm Jumeirah itu beda dengan reklamasi pantai di Indonesia khususnya di Teluk Jakarta. Beda niat maksudnya. Dubai kan ngak punya pulau seperti kita? Wajar dong mereka membuat pulau buatan. Nah, pulau-pulau kita, kan banyak?.

Saya hanya berdoa, moga-moga daerah lain tidak latah membuat pulau-pulau buatan ala Jakarta ya. Mendingin, uangnya digunakan untuk pemberdayaan dan peningkatan kualitas masyarakat pesisir, cocok?

Sudah ah, capek menulis di smartphone ini.....nanti saja kita sambung lagi....

Post a Comment

0 Comments