Ticker

6/recent/ticker-posts

Belajar Dari "Keberhasilan" Kompas Gramedia

By: M. Ridwan

Kemarin sore, saya menyempatkan diri mengunjungi toko buku Gramedia yang terletak di Jalan Gajah Mada Medan. Si Aisha sudah merengek-rengek menagih janji ayahnya. Daya ingatnya kuat sekali jika terkait buku. Kebetulan, ada diskon buku pula, nih. Sekalian saja.

Gramedia di Jalan Gajah Mada ini cukup ramai dikunjungi. Parkirnya sempit sampai ke luar areal. Setahu saya, usia Gramedia di Medan ini sudah lama juga, ya.

Setelah belajar "kegagalan" Yahoo di tulisan sebelumnya, tentu ada baiknya kita belajar dari  keberhasilan Kompas Gramedia dalam bidang penerbitan dan media.

Kompas Gramedia (KG) atau dikenal juga dengan sebutan Kelompok Kompas Gramedia didirikan pada tanggal 21 Juni 1965. Pendirinya adalah  P.K. Ojong dan Jakob Oetama. Umurnya sudah cukup tua, ya. Pantesan, berpengalamam sekali.

Saat ini, Kompas Gramedia memiliki beberapa anak perusahaan atau unit bisnis yang bervariasi. Misalnya, media massa, toko buku, percetakan, penerbit, radio, hotel, forum pendidikan, hingga event organizer.
Pokoknya, semua lini mereka masuki. Sederet nama media atau koran pasti akrab di telinga kita. Sebut saja, Koran Kompas, National Geographic, Tribun atau dikenal dengan dengan Pers Daerah, Media Elex Komputindo, atau majalah remaja dan anak-anak seperti Hai, Bobo atau Mombi. Banyak sekali.

Saya sendiri, sampai saat ini, tetap berlangganan majalah anak Mombi yang dikirim rutin ke rumah. Saya memberikan acungan dua jempol untuk layanan mereka. Biasanya di awal bulan, bocah-bocah kecil ini selalu teriak, "Ayah, Mombi kami sudah datang,". 

Lalu, dimana kunci keberhasilan Kompas Gramedia?
Saya kira, kata kuncinya adalah pada Improvement innovation (Peningkatan Inovasi). Hal ini merupakan kekuatan utama Gramedia untuk maju tumbuh berkembang serta berdaya saing.

Kalau bahasa kerennya, Kompas Gramedia mampu berpikir melebihi realitasnya. Ketimbang berpikir dan bertindak ala rutinitas penerbit kebanyakan, mereka memilih untuk melakukan inovasi tiada henti.

Hasilnya?
Ya, seperti yang kita lihat saat ini. Ketika ratusan penerbit lain bertumbangan, KG justru berkibar dan seolah tidak bergeming dengan arus kompetisi yang kuat.

Itulah hebatnya visi. Wujudnya memang tak terlihat, tapi dampaknya itu, lho. Luar biasa.

Visi itu hebat. No Vision No Life.
Saya jadi teringat dengan sebuah kata-kata inspiratif, " If You have a clear vision, you will forget your breakfast". (Jika kamu memiliki visi yang jelas, kamu akan melupakan  sarapanmu?.
Lalu, apakah ini berarti bahwa manusia yang ngak punya visi adalah orang yang selalu ingat dengan sarapannya?  Hehehe, kesimpulan ini terlalu mengada-ada, kok. Jangan dipercaya...!! :)

Post a Comment

0 Comments