Ticker

6/recent/ticker-posts

Mereka Rela “Mengenggam Api Neraka”: Khawatir Memilih Pemimpin Murahan?



Oleh: M. Ridwan

Memang, hasrat menjadi nomor satu selalu “se-body” dengan naluriah makhluk. Tidak hanya manusia, kalangan jin seperti Iblis pun memilikinya. Bahkan konflik abadi Iblis dan manusia dipercikkan pertama kali karena adanya hasrat “menjadi nomor satu” ini.  Iblis yang besar kepala merasa berhak dengan gelar “The Best” hanya karena ia terbuat dari api.  Adam yang terbuat dari tanah adalah “nobody” dalam pandangannya.

Sayangnya, setelah kejatuhan manusia pertama di bumi, yaitu Adam dan Hawa, hasrat ini bukannya hilang atau memudar. Hasrat ini semakin membuncah, menular. Makanya, manusia sekelas Qabil (anak Adam sendiri) menjadi korban perasaan iri dengan saudaranya  Habil yang dianggapnya hanya kelas “ Wong Ndeso” dan tak pantas mendapatkan kemuliaan menikahi saudarinya yang jelita. Ia merasa harus menjadi nomor satu. The best.

Hasrat menjadi nomor satu dimiliki semua manusia. Perbedaannya, ada yang mampu mengendalikannya ke arah hal yang positif namun sayangnya, banyak yang tidak mampu. Tokoh-tokoh seperti Fir’aun, Namrud, Hitler, Stalin atau Polpot bisa dikategorikan manusia yang memiliki hasrat nomor satu sangat dominan namun tidak mampu menjadikan mereka lebih bermartabat dan bermanfaat. Di benak mereka hanya ada keinginan, dipuja atau dipuji, dianggap pahlawan yang dielu-elukan hebat, dan merasa layak dengan semua penghormatan dan keagungan dari manusia lain.

Demikianpun, manusia tanpa hasrat untuk menjadi nomor satu juga berbahaya. Manusia seperti ini mungkin tidak akan memiliki daya dorong untuk berprestasi. Mungkin saja, ia akan apatis dan menyerahkan nasib kepada kehidupan dan orang lain. Makanya, saya menggaris bawahi, bahwa yang penting dilakukan bukan membuang hasrat menjadi nomor satu, tapi kendalikanlah supaya menjadi manfaat, maslahat dan kemulian di mata Tuhan. Menjadi seperti Sulaiman, Yusuf, Umar bin Khattab, atau Umar bin Abdul Aziz, bukan seperti Jalut, Fir’aun, atau Namrudz.

Namun, mungkinkah kita akan mendapatkan para pemimpin yang memiliki hasrat nomor satu yang bermanfaat, dan bermartabat, dalam PIlkada hari ini?

Jangan pesimis dulu. Saya tidak mengajak pembaca untuk memberi penilaian negatif terhadap proses Pilkada di negeri ini. Proses ini saya kira sudah demokratis dan bisa dianggap sebagai representasi hak rakyat yang tertinggi. Wong dulunya, Fir’aun atau Hitler dipilih tanpa pemilu bukan?. Makanya, bersyukurlah bisa mengikuti pemilihan pemimpin, entah itu pilpres, pilkada atau pil-pil lainnya.
Konsen saya adalah pada kualitas pemimpin yang akan kita pilih.

DR. Jamil – Ketua MUI Binjai sekaigus senior di kampus- dalam siaran TV Sumut beberapa lalu, menyampaikan bahwa pemimpin yang layak dipimpin itu harus memiliki beberapa kriteria unggulan, , seperti keimanan dan ketaqwaan, kualitas ilmu (hikmah) dan “telah selesai dengan dirinya sendiri”.  Maksudnya, ia telah mampu mengendalikan hasrat duniawinya, nepotisme, atau interest pribadinya. Pemimpin begini yang layak dipilih.

Ada komentar yang menarik dari pemirsa waktu itu, “Apakah pemimpin seperti itu masih “tersisa” saat ini?. Pemirsa itu sangat pesimis bahwa saat ini masih ada pemimpin ala Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz, Yusuf atau Sulaiman yang sangat ideal. “Kita tidak usahlah bermimpi. Sekarang para pemimpinnya semuanya “murahan”, orientasi mengejar duit. Sayangnya, para pemilih juga melakuannya karena duit, recehan lagi” demikian yang saya ingat ketika menjadi moderator acara ini dan mencatat komentar pesimisnya. Saya yakin, bapak itu tidak akan memberikan hak suaranya pada hari ini. Lha, dia sendiri tidak yakin dengan kualitas yang dipilihnya, iya kan.

Lalu, kita harus seperti apa?. Memilih salah dan tidak memilih juga salah. Maju kena mundur kena, bukan?.

Tapi, tidak mungkin tidak memilih hari ini. Itu adalah hak kita, dan porsi saham kita untuk memperbaiki negeri ini. Kalau tidak digunakan, rugi sendiri. Malah mungkin berdosa dan kita akan dimintai pertanggung jawaban karena masa bodo dengan kondisi negeri. Maka gunakan saja. Ijtihad kita mendapat ganjaran lho. Bismillah.

      Untuk para pemimpin yang hari ini akan dipilih, saya kira, kita pantas memberikan apresiasi yang besar kepada mereka. Mengapa? 
     1. Dari sekian banyak manusia di negeri ini, bukankah hanya merekalah yang berani mengambil “risiko” utuk berjanji mensejahterakan kita?.
      2.    Bukanah, mereka telah siap bertanggungjawab dan menjamin menghilangkan kemiskinan di kota, atau Kabupaten kita?.
     3.  Tidakkah, mereka bersedia bertanggung jawab memastikan bahwa misi kekhalifahan kita di hadapan Tuhan tidak terganggu?. 
       4.  Masih ingatkah kita, bahwa mereka akan memastikan narkoba tidak menyebar, dan prostitusi tidak membudaya di lingkungan kita?. 
       5.     Bukankah mereka berjanji, rela tidak tidur ketika kita nantinya tidur, dan mereka rela lapar hanya untuk memastikan bahwa kita, para rakyatnya, tidak kelaparan. Bukankah kita  tidak mampu melakukan itu?. Lalu, mengapa tidak memilih mereka?

Saya salut dengan para calon pemimpin yang akan kita pilih hari ini karena mereka berani “memegang bara api neraka” yang akan digunakan untuk membakar diri mereka sendiri jika terbukti tidak adil, tidak becus dan hanya memperkaya diri sendiri dan kroninya.

Makanya, jangan ragu lagi. Pilih dan coblos saja dengan dengan niat yang tulus. Tentu saya berasumsi, kita bukanlah pemilih yang didorong oleh uang recehan sebagaimana dikhawatirkan pemirsa tadi. Pemimpin yang cerdas memang dihasilkan oleh pemilih yang cerdas, walaupun kondisi seperti ini entah kapan akan terwujud. Selamat mencoblos :)







Post a Comment

0 Comments