Oleh: M. Ridwan
Memang, hasrat menjadi nomor satu
selalu “se-body” dengan naluriah makhluk. Tidak hanya manusia, kalangan jin
seperti Iblis pun memilikinya. Bahkan konflik abadi Iblis dan manusia dipercikkan
pertama kali karena adanya hasrat “menjadi nomor satu” ini. Iblis yang besar kepala merasa berhak dengan gelar
“The Best” hanya karena ia terbuat dari api. Adam yang terbuat dari tanah adalah “nobody”
dalam pandangannya.
Sayangnya, setelah kejatuhan
manusia pertama di bumi, yaitu Adam dan Hawa, hasrat ini bukannya hilang atau
memudar. Hasrat ini semakin membuncah, menular. Makanya, manusia sekelas Qabil
(anak Adam sendiri) menjadi korban perasaan iri dengan saudaranya Habil yang dianggapnya hanya kelas “ Wong
Ndeso” dan tak pantas mendapatkan kemuliaan menikahi saudarinya yang jelita. Ia
merasa harus menjadi nomor satu. The best.
Hasrat menjadi nomor satu
dimiliki semua manusia. Perbedaannya, ada yang mampu mengendalikannya ke arah
hal yang positif namun sayangnya, banyak yang tidak mampu. Tokoh-tokoh seperti
Fir’aun, Namrud, Hitler, Stalin atau Polpot bisa dikategorikan manusia yang
memiliki hasrat nomor satu sangat dominan namun tidak mampu menjadikan mereka
lebih bermartabat dan bermanfaat. Di benak mereka hanya ada keinginan, dipuja
atau dipuji, dianggap pahlawan yang dielu-elukan hebat, dan merasa layak dengan
semua penghormatan dan keagungan dari manusia lain.
Demikianpun, manusia tanpa hasrat
untuk menjadi nomor satu juga berbahaya. Manusia seperti ini mungkin tidak akan
memiliki daya dorong untuk berprestasi. Mungkin saja, ia akan apatis dan
menyerahkan nasib kepada kehidupan dan orang lain. Makanya, saya menggaris
bawahi, bahwa yang penting dilakukan bukan membuang hasrat menjadi nomor satu,
tapi kendalikanlah supaya menjadi manfaat, maslahat dan kemulian di mata Tuhan.
Menjadi seperti Sulaiman, Yusuf, Umar bin Khattab, atau Umar bin Abdul Aziz,
bukan seperti Jalut, Fir’aun, atau Namrudz.
Namun, mungkinkah kita akan
mendapatkan para pemimpin yang memiliki hasrat nomor satu yang bermanfaat, dan bermartabat,
dalam PIlkada hari ini?
Jangan pesimis dulu. Saya tidak
mengajak pembaca untuk memberi penilaian negatif terhadap proses Pilkada di
negeri ini. Proses ini saya kira sudah demokratis dan bisa dianggap sebagai
representasi hak rakyat yang tertinggi. Wong dulunya, Fir’aun atau Hitler
dipilih tanpa pemilu bukan?. Makanya, bersyukurlah bisa mengikuti pemilihan
pemimpin, entah itu pilpres, pilkada atau pil-pil lainnya.
Konsen saya adalah pada kualitas
pemimpin yang akan kita pilih.
DR. Jamil – Ketua MUI Binjai sekaigus
senior di kampus- dalam siaran TV Sumut beberapa lalu, menyampaikan bahwa
pemimpin yang layak dipimpin itu harus memiliki beberapa kriteria unggulan, , seperti
keimanan dan ketaqwaan, kualitas ilmu (hikmah) dan “telah selesai dengan
dirinya sendiri”. Maksudnya, ia telah
mampu mengendalikan hasrat duniawinya, nepotisme, atau interest pribadinya.
Pemimpin begini yang layak dipilih.
Ada komentar yang menarik dari
pemirsa waktu itu, “Apakah pemimpin seperti itu masih “tersisa” saat ini?.
Pemirsa itu sangat pesimis bahwa saat ini masih ada pemimpin ala Umar bin
Khattab, Umar bin Abdul Aziz, Yusuf atau Sulaiman yang sangat ideal. “Kita tidak
usahlah bermimpi. Sekarang para pemimpinnya semuanya “murahan”, orientasi mengejar
duit. Sayangnya, para pemilih juga melakuannya karena duit, recehan lagi”
demikian yang saya ingat ketika menjadi moderator acara ini dan mencatat komentar
pesimisnya. Saya yakin, bapak itu tidak akan memberikan hak suaranya pada hari
ini. Lha, dia sendiri tidak yakin dengan kualitas yang dipilihnya, iya
kan.
Lalu, kita harus seperti apa?.
Memilih salah dan tidak memilih juga salah. Maju kena mundur kena, bukan?.
Tapi, tidak mungkin tidak memilih
hari ini. Itu adalah hak kita, dan porsi saham kita untuk memperbaiki negeri
ini. Kalau tidak digunakan, rugi sendiri. Malah mungkin berdosa dan kita akan
dimintai pertanggung jawaban karena masa bodo dengan kondisi negeri. Maka
gunakan saja. Ijtihad kita mendapat ganjaran lho. Bismillah.
Untuk para pemimpin yang hari ini
akan dipilih, saya kira, kita pantas memberikan apresiasi yang besar kepada
mereka. Mengapa?
1. Dari sekian banyak manusia di negeri ini, bukankah hanya
merekalah yang berani mengambil “risiko” utuk berjanji mensejahterakan
kita?.
2. Bukanah, mereka telah siap bertanggungjawab dan menjamin menghilangkan
kemiskinan di kota, atau Kabupaten kita?.
3. Tidakkah, mereka bersedia bertanggung jawab memastikan bahwa
misi kekhalifahan kita di hadapan Tuhan tidak terganggu?.
4. Masih ingatkah kita, bahwa mereka akan memastikan narkoba tidak
menyebar, dan prostitusi tidak membudaya di lingkungan kita?.
5. Bukankah mereka berjanji, rela tidak tidur ketika kita nantinya
tidur, dan mereka rela lapar hanya untuk memastikan bahwa kita, para rakyatnya,
tidak kelaparan. Bukankah kita tidak
mampu melakukan itu?. Lalu, mengapa tidak memilih mereka?
Saya salut dengan para calon
pemimpin yang akan kita pilih hari ini karena mereka berani “memegang bara
api neraka” yang akan digunakan untuk membakar diri mereka sendiri jika terbukti
tidak adil, tidak becus dan hanya memperkaya diri sendiri dan kroninya.
Makanya, jangan ragu lagi. Pilih
dan coblos saja dengan dengan niat yang tulus. Tentu saya berasumsi, kita bukanlah
pemilih yang didorong oleh uang recehan sebagaimana dikhawatirkan pemirsa tadi.
Pemimpin yang cerdas memang dihasilkan oleh pemilih yang cerdas, walaupun
kondisi seperti ini entah kapan akan terwujud. Selamat mencoblos :)

0 Comments