Oleh: M. Ridwan
Ternyata berbagai fenomena sosial,
politik, ekonomi dan budaya yang menerpa negeri ini tidak terlepas dari salah
kaprah penggunaan bahasa. Bahkan, maraknya prostitusi di negeri dipastikan juga
merupakan dampak dari salah kaprah berbahasa. Lho, salah kaprah bahasa?.
Apa mungkin?.
Tetu saja sangat mungkin. Bahasa adalah
keajaiban. It is a miracle. Bahasa adalah kreasi Tuhan yang luar biasa. Ketika
penciptaan manusia dilakukan, maka Tuhan juga menciptakan bahasa. Terutama
bahasa lisan. Diperkirakan ada ratusan ribu bahasa lisan yang pernah eksis di
muka bumi ini. Banyak bahasa telah mengalami kepunahan dan sebagian lain
mengalami metamorfosis dan berganti-ganti. Saat ini, diperkirakan ada sekitar
7000 bahasa yang masih aktif digunakan manusia di dunia. Jutaan kata yang dihasilkan dalam bahasa dipergunakan
di berbagai bidang seperti ekonomi, sosial budaya, politik, maupun agama.
Eufemisme adalah sebuah gaya bahasa.
Tujuannya untuk mengganti sebuah kata yang dianggap jadul dan tidak sopan
menjadi kata yang lebih santun. Tujuannya baik, setidaknya pada awalnya, yaitu mengurangi
kevulgaran dan ketidak-etis-an sebuah kata. Atau bahasa keren-nya, menghilangkan
kerendahan makna (peyoratif) sebuah kata. Dengan kultur bangsa Indonesia yang
menjunjung tinggi sopan santun, maka eufemisme memang menemukan
tempatnya.
Misal, kata “kencing” dirubah
menjadi “buang air kecil” atau “ke toilet”. “Babu” diganti
“pembantu rumah tangga”. “Mati” diganti dengan “tewas atau
meninggal”. “Kafir” menjadi “tidak
beriman”, dsb.
Namun, seiring waktu, penggunaan eufemisme
ternyata menjadi upaya untuk menyembunyikan kebenaran dan fakta. Berbagai keboborokan
dan kegagalan sebuah kebijakan politik, ekonomi dan budaya ternyata bisa dipoles
dengan eufemisme. Bahkan, eufemisme terkesan bisa digunakan juga untuk
“mengelabui” Tuhan. Kok bisa?
Mari lihat contohnya. Kata “kenaikan
harga” itu bisa berefek pada sebuah kepanikan. Kata ini kemudian dirubah
menjadi “penyesuaian harga atau tarif”. Akibatnya, efek kenaikan harga menjadi lebih ramah
dan rasional. Minimal di pikiran dulu. Atau kata, “busung lapar” yang
terkesan mengerikan diganti menjadi kata “gizi buruk”, lebih humanis,
bukan?. Konon, katanya, Rezim Orde Baru sangat piawai mengemas kata-kata ini.
Atau, kata “Korupsi” yang
terkesan bombastis diganti menjadi “salah prosedur”. Lebih nyaman bukan?. Makanya, banyak koruptor
yang merasa nyaman dan senyum sumringah saja dengan status terdakwa dan terpidana
mereka. Wong, mereka tidak salah kok. Salah prosedur, gitu lho...
Lalu, bagaimana dengan “mengelabui”
Tuhan yang saya maksud?.
Mari kita cermati. Seorang
pelacur adalah hina dimata tuhan. Mereka adalah pelaku perzinaan. Tidak ada satupun
agama di dunia yang membenarkannya. Tuhan telah menetapkan bahwa pelacuran merupakan
sebuah kenistaan. Pelacur wajib masuk ke dalam neraka-Nya. Nah, karena
cukup mengerikan, manusia berimprovisasi mengganti kata “pelacur” dan “penzina”
menjadi “Pekerja Seks Komersial”. Canggih bukan?.
Saya geleng kepala melihat
kebodohan ini. Mengapa tidak?. Apakah sudah ada konsorsium bidang studi atau
profesi yang mensertifikasi pelacuran menjadi sebuah profesi?. Artinya, kalau
pelacuran adalah profesi, maka apakah kita diperbolehkan mendirikan Program
Studi Kepelacuran (Department of Prostitution) atau Diploma Kepelacuran
di kampus-kampus negeri ini?. Tentu tidak, bukan?
Dengan eufemisme, maka si pelacur
akan nyaman dengan dosanya karena mereka mendapat label sebagai “pekerja profesional”. Hak Asasi Mereka harus
dilindungi. Hak untuk apa? Tidak lain hak untuk menggunakan semua resources
yang mereka miliki. Mereka menuntut perlindungan, karena merasa sama martabatnya
dalam memperjuangkan ekonomi keluarga.
Saya kira, kita harus arif dan
memperhitungkan benar penggunaan istilah “pekerja” untuk seorang pelacur
atau penzina. Bukan karena apa-apa. Saya hanya tidak ingin, jika ternyata nanti,
kita akan terkaget-kaget, pabila suatu hari
murid-murid SD atau SMP di sekolah-sekolah negeri ini mengacungkan jari, ketika
ditanya oleh sang guru “Anak-anak, apa cita-cita kalian?”. Mereka menjawab
serentak dan mantap, “Kami ingin menjadi Pekerja Seks Komersial, bu Guru,
keren lho, …”. Gimana..? :(


0 Comments