Ticker

6/recent/ticker-posts

Salah Kaprah Eufemisme



Oleh: M. Ridwan

Ternyata berbagai fenomena sosial, politik, ekonomi dan budaya yang menerpa negeri ini tidak terlepas dari salah kaprah penggunaan bahasa. Bahkan, maraknya prostitusi di negeri dipastikan juga merupakan dampak dari salah kaprah berbahasa. Lho, salah kaprah bahasa?.  Apa mungkin?.  

Tetu saja sangat mungkin. Bahasa adalah keajaiban. It is a miracle. Bahasa adalah kreasi Tuhan yang luar biasa. Ketika penciptaan manusia dilakukan, maka Tuhan juga menciptakan bahasa. Terutama bahasa lisan. Diperkirakan ada ratusan ribu bahasa lisan yang pernah eksis di muka bumi ini. Banyak bahasa telah mengalami kepunahan dan sebagian lain mengalami metamorfosis dan berganti-ganti. Saat ini, diperkirakan ada sekitar 7000 bahasa yang masih aktif digunakan manusia di dunia.  Jutaan kata yang dihasilkan dalam bahasa dipergunakan di berbagai bidang seperti ekonomi, sosial budaya, politik, maupun agama.

Eufemisme adalah sebuah gaya bahasa. Tujuannya untuk mengganti sebuah kata yang dianggap jadul dan tidak sopan menjadi kata yang lebih santun. Tujuannya baik, setidaknya pada awalnya, yaitu mengurangi kevulgaran dan ketidak-etis-an sebuah kata. Atau bahasa keren-nya, menghilangkan kerendahan makna (peyoratif) sebuah kata. Dengan kultur bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santun, maka eufemisme memang menemukan tempatnya.

Misal, kata “kencing” dirubah menjadi “buang air kecil” atau “ke toilet”. “Babu” diganti “pembantu rumah tangga”. “Mati” diganti dengan “tewas atau meninggal”.  Kafir” menjadi “tidak beriman”, dsb.

Namun, seiring waktu, penggunaan eufemisme ternyata menjadi upaya untuk menyembunyikan kebenaran dan fakta. Berbagai keboborokan dan kegagalan sebuah kebijakan politik, ekonomi dan budaya ternyata bisa dipoles dengan eufemisme. Bahkan, eufemisme terkesan bisa digunakan juga untuk “mengelabui” Tuhan. Kok bisa?

Mari lihat contohnya. Kata “kenaikan harga” itu bisa berefek pada sebuah kepanikan. Kata ini kemudian dirubah menjadi “penyesuaian harga atau tarif”.  Akibatnya, efek kenaikan harga menjadi lebih ramah dan rasional. Minimal di pikiran dulu. Atau kata, “busung lapar” yang terkesan mengerikan diganti menjadi kata “gizi buruk”, lebih humanis, bukan?. Konon, katanya, Rezim Orde Baru sangat piawai mengemas kata-kata ini.

Atau, kata “Korupsi” yang terkesan bombastis diganti menjadi “salah prosedur”.  Lebih nyaman bukan?. Makanya, banyak koruptor yang merasa nyaman dan senyum sumringah saja dengan status terdakwa dan terpidana mereka. Wong, mereka tidak salah kok. Salah prosedur, gitu lho...

Lalu, bagaimana dengan “mengelabui” Tuhan yang saya maksud?.

Mari kita cermati. Seorang pelacur adalah hina dimata tuhan. Mereka adalah pelaku perzinaan. Tidak ada satupun agama di dunia yang membenarkannya. Tuhan telah menetapkan bahwa pelacuran merupakan sebuah kenistaan. Pelacur wajib masuk ke dalam neraka-Nya. Nah, karena cukup mengerikan, manusia berimprovisasi mengganti kata “pelacur” dan “penzina” menjadi “Pekerja Seks Komersial”. Canggih bukan?.

Saya geleng kepala melihat kebodohan ini. Mengapa tidak?. Apakah sudah ada konsorsium bidang studi atau profesi yang mensertifikasi pelacuran menjadi sebuah profesi?. Artinya, kalau pelacuran adalah profesi, maka apakah kita diperbolehkan mendirikan Program Studi Kepelacuran (Department of Prostitution) atau Diploma Kepelacuran di kampus-kampus negeri ini?. Tentu tidak, bukan?

Dengan eufemisme, maka si pelacur akan nyaman dengan dosanya karena mereka mendapat label sebagai “pekerja  profesional”. Hak Asasi Mereka harus dilindungi. Hak untuk apa? Tidak lain hak untuk menggunakan semua resources yang mereka miliki. Mereka menuntut perlindungan, karena merasa sama martabatnya dalam memperjuangkan ekonomi keluarga.    

Saya kira, kita harus arif dan memperhitungkan benar penggunaan istilah “pekerja” untuk seorang pelacur atau penzina. Bukan karena apa-apa. Saya hanya tidak ingin, jika ternyata nanti, kita  akan terkaget-kaget, pabila suatu hari murid-murid SD atau SMP di sekolah-sekolah negeri ini mengacungkan jari, ketika ditanya oleh sang guru “Anak-anak, apa cita-cita kalian?”. Mereka menjawab serentak dan mantap, “Kami ingin menjadi Pekerja Seks Komersial, bu Guru, keren lho, …”. Gimana..?  :(





Post a Comment

0 Comments