Oleh: M. Ridwan
Tahun 2013 lalu, kementerian
Kesehatan RI mencatat setidaknya ada 18 juta jiwa masyarakat Indonesia
mengalami gangguan kejiwaan ringan. Gangguan ringan berupa cepat marah, murung
dan tidak bisa mengendalikan emosi. Sedangkan penderita gangguan berat seperti
depresi akut maupun gila “beneran” mencapai angka 1 juta
jiwa. Sehingga totalnya adalah 19 juta
jiwa.
Sehingga, kalau kita membuat
rasio dengan jumlah keseluruhan penduduk Indonesia, akan didapatkan perbandingan
1: 10. Artinya, dari sepuluh penduduk Indonesia, dipastikan ada 1 orang mengalami
gangguan kejiwaan. Data ini bahkan lebih bagus dari Survey Mental Kesehatan
Rumah Tangga tahun 2007 lalu justru yang menunjukkan rasio 1:5. Namun, berapapun
rasionya, faktanya jelas memprihantinkan bahwa ternyata orang yang mengalami
gangguan jiwa di Indonesia cukup banyak. Bahkan, saya yakin, jumlah yang ada di
lapangan melebihi dari angka yang mampu dipaparkan oleh lembaga-lembaga riset.
Fakta ini mencengangkan.
Pertanyaannnya, bagaimana mungkin hal ini terjadi? Bukankah setiap hari banyak orang Indonesia yang masih tersenyum-senyum?. Bukankah, di
kantor, di pasar, mall atau sekolah-sekolah kita melihat banyak sekali orang yang
kelihatan happy saja.
Atau, bukankah setiap malam kita menyaksikan
berbagai tayangan di TV dimana penontonnya berjingkrak-jingkrak kesenangan
dihibur oleh berbagai aksi panggung para artis, penyanyi, atau pelawak? .
Tidakkah mereka itu sedang bahagia?. Jika demikian, lalu dimana orang-orang stress
yang disampaikan oleh survey tadi?
Yang jelas, angka yang disajikan
oleh Depkes atau lembaga survey lainnya pasti berdasarkan fakta dan menunjukkan
sebuah kebenaran. The truth is.. memang banyak warga negeri ini yang mengalami stress bahkan depresi. Sehingga,
tampilan kasat mata berupa wajah senang para penonton ketika mempelototi TV atau
panggung hiburan, bisa jadi hanya sebuah “eskapisme”, yaitu bentuk pelarian dari masalah kehidupan yang sebenarnya.
Sebuah penelitian di Amerika
menemukan fakta bahwa ternyata semakin banyak kuantitas seseorang dalam menonton
TV, maka tingkat stress yang dialaminya justru semakin meningkat. Penemuan ini
membantah anggapan bahwa menonton TV itu bisa mengurangi stress. Mengejutkan
bukan?.
Senyum dipaksakan?
Artinya, wajah-wajah masyarakat tersenyum
di negera ini, mungkin saja merupakan tampilan kebohongan atau dipaksakan. Maklum, banyak sekali masalah mendera. Dari harga
BBM, listrik dan air yang terus naik,
kriminalitas yang semakin meningkat, bencana alam, kisruh politik, dsb.
Saya menduga-duga lagi,
jangan-jangan, senyuman di wajah teman, pasangan, anak, atau rekan kerja kita
setiap harinya, hanyalah upaya menyembunyikan tekanan kejiwaan yang mereka
sembunyikan?. Jangan-jangan justru kita sendiri yang menyembunyikan stress dan
depresi dengan menyajikan senyum di wajah pula?. Wallahu a’lam. Maafkan
saya yang terlalu membawa pembaca untuk menduga-duga. :)
Negeri ini memang terkenal dengan
senyumannya. Setiap turis yang ditanya tentang kesan pertama mereka terhadap Indonesia,
pasti akan menjawab bahwa penduduk negeri ini terkenal sangat murah senyuman. Saya pernah mendapatkan
cerita bahwa orang luar negeri kadang heran melihat penduduk Indonesia yang masih
bisa tersenyum kendati sedang mendapat bencana. Mereka heran, kok masih bisa?
Saya kira penilaian ini ada
benarnya juga, jika dibandingkan dengan wajah penduduk negara lain yang
terkesan serius, ketat dan curiga. Lihat saja wajah-wajah Eropah,
Rusia atau Timur Tengah sekalipun.
Menurut saya, bagamana kalau hobi
senyum ini saja yang dikembangkan menjadi
potensi dahsyat bangsa?. Bukankah kita bisa menjual senyuman?.
TV kebablasan?
Saya juga tidak jengkel-jengkel banget
melihat tayangan TV yang amburadul
saat ini. Berpikiran positif saja, mungkin, pemilik TV nya sedang dikejar setoran
sehingga mereka masa bodoh untuk menyajikan acara yang bermanfaat bagi otak
dan hati penonton. Atau, mereka mungkin
masih memerlukan pundi-pundi lebih banyak lagi sehingga tidak sempat
memperhatikan etika dan moralitas tayangan. Harap maklum ya..:(
Saya mencoba tersenyum meski
pahit ketika pada tanggal 13 Mei lalu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kembali
mengeluarkan peringatan keras kepada pengelola TV untuk menghindarkan acara
yang mengekploitasi perempuan. KPI setuju bahwa banyak acara TV yang menyalahi
ketentuan, seperti menampilkan aurat, pornoaksi
atau bergaya hedonistik dan materialistik. Bagi KPI acara seperti ini dapat memicu
“daya khayal dan kepanikan emosional” penonton. KPI mengancam akan
mencabut hak siar tayangan tersebut. Saya setuju. Kendati, setahu saya, walaupun
KPI telah sering memberi peringatan seperti ini, biasanya akan dilanggar lagi. Dalam
hal ini, KPI sering kewalahan.
Oleh karena itu, jika KPI terus saja
kewalahan mengendalikan berbagai acara TV yang sering kebablasan itu, mengapa tidak sekalian
saja kita mem-branding Indonesia sebagai negeri penghibur?.
Alasan ini saya kira logis. Negeri ini selalu kalah dari negara-negara lain hampir
di semua bidang, katakanlah, IPTEK, pertanian, kelautan bahkan budaya dan
agama. Maka, mengapa tidak dibebaskan saja TV
atau “insan hiburan” untuk berkreasi sepenuhnya. Kita tidak akan kekurangan para penghibur. Jumlah mereka membludak. Lihat saja, setiap hari panggung audisi selalu penuh peminat. Makanya, silahkan, sajikan acara yang mengumbar aurat,
jingkrak-jingkrak, lawakan, atau takhyul dan horror. Tidak usah dilarang lagi. Toh,
penontonnya juga membludak dan bahagia. Ada demand ada supply. Mana tahu, hal ini bisa menjadi keunikan
bangsa kita di mata dunia. Hmm, Menjadi negeri penghibur bangsa lain, bukanah
itu keren?
Oh ya, saya pernah bertemu dengan
seorang Arab yang kaget dan panik sekali melihat berbagai tayangan TV kita. Ceritanya,
dia sedang bertugas di Indonesia dengan membawa keluarga. Suatu hari, dia
mencoba menonton TV bersama keluarganya. Betapa kagetnya dia melihat acara TV
kita. Menurutnya, bagaimana mungkin negeri muslim terbesar ini punya acara yang
“aneh-aneh” begini?. Pamer aurat, acara hantu-hantu, ketawa-ketiwi atau
pamer harta. Menurutnya, tidak ada yang bisa dinikmati dan menambah ilmu. Dia betul-betul
panik dan meminta segera dipasangkan TV kabel di rumahnya. Dia ingin mengakses
siaran dari negerinya sendiri. Permintaannya memang akhirnya dipenuhi kendati
dia masih terus geleng kepala melihat Indonesia. Si Arab ini tidak paham kesenangan kita ya..? :)
Ayo, kita buat negera-negara lain
tertawa terbahak-bahak melihat kebanyolan dan kekonyolan kita. Mana tahu tingkah kita
bisa membahagiakan seisi dunia ini. Siapa yang setuju..?

0 Comments