Money Talks adalah judul sebuah
film yang dibintangi Chris Tucker di tahun 1997. Aktor yang sering berpatner
dengan Jackie Chen di beberapa serial film laga ini terkenal lucu dan banyak
bicara. Kebiasaannya ini sangat memuakkan bagi para bandit-bandit yang berinteraksi
dengannya. Namun, film-film yang dibintanginya terbilang sukses. Kesuksesan ini
ditengarai juga karena kebanyolan si Chris Tucker ini.
Judul film ini menarik yaitu Money
Talks. Dalam bahasa Indonesia bisa diartikan dengan “Uang Berbicara”
atau “Uang Berkuasa”. Sang sutradara
sepertinya paham bahwa uang memang memiliki kekuasaan besar. Bahkan sangat
besar untuk “berbicara” dan berkuasa. Sepanjang film, memang diperlihatkan hebatnya
kemampuan uang sebagai biang kerok semua konflik yang terjadi.
Meskipun di
akhir film, si Tucker lebih memilih membuang berlian mahal yang diperolehnya.
Dia lebih memilih kebahagiaan diri dan temannya ketimbang limpahan kekayaan. Mungkin,
ini adalah tindakan “terbodoh” dalam anggapan sebagian besar penonton. Tapi,
itulah film.
Dalam kehidupan nyata, uang
memang kadang lebih nyaring berbicara ketimbang idealisme dan fakta. Atas nama
uang, banyak kebenaran yang dibuang dan ditertawakan. Dia ibarat sabda raja.
Kendati perlu digaris bawahi, bahwa manusia-lah yang memberikan kekuasaan bagi uang
untuk berbicara dan bukan karena dirinya sendiri.
Makanya, rupiah tidak bisa “berbicara”
di Amerika atau Inggeris karena “kemampuan bicara” si rupiah diredam di negeri
Paman Sam dan London. Mereka hanya memberikan kesempatan “berbicara” kepada
Dollar atau Poundsterling.
Oh ya, saya pernah memiliki pengalaman dengan seorang peramal di jalanan kota London. Alkisah, si peramal menyetop saya dan beberapa teman dari Indonesia. Menurutnya, ia bisa meramal masa depan saya. Tertarik mengetahui modus yang akan digunakan, saya mencoba "jasa" ramalnya. Meskipun beberapa teman saya bersikeras untuk melanjutkan tour di kota London saja ketimbang melayaninya. Setelah bla-bla selama 10 menit, dengan menunjukkan foro-foto wajah para pemimpin dunia akhirnya si peramal meminta uang jasa. "Give me ur money..!!". Setengah memaksa dan mungkin bermaksud menghipnotis. Menurut info teman seorang warga Jerman yang hari itu menemani, modus itu biasanya digunakan untuk menipu para turis di London.
Nah, saya sengaja mengeluarkan uang pecahan 5000 rupiah untuk melihat responnya. Merasa tidak mengenal uang ini, dia lantas meminta saya memberikan Pound. Saya bersikeras mengatakan bahwa uang ini hebat di negara saya. Dibandingkan dengan Pound yang hanya berdenominasi 1-50 Pound, uang Indonesia lebih memiliki banyak angka nol, lihat ini, 5000 rupiah. Nolnya ada tiga buah. Take it or leave it...!! Silahkan ambil saja. Mungkin karena termakan kata-kata saya dan membandingkannya dengan angka nol yang tertera di lembaran Pound, dia akhirnya membawa uang 5000 rupiah itu dengan penasaran. Entah kemana dibelanjakannya. :)
Saya mencoba mengambil kesimpulan, bahwa uang kita memang tidak memiliki gengsi di negara lain. Suaranya nyaris tak terdengar. Makanya, negara-negara di dunia berupaya menaikkan kemampuan “bicara” mata uang yang dimilikinya. Semakin nyaring maka semakin bergengsi dan berkuasa. Makanya pula, banyak orang memburu mata uang yang lebih “nyaring” berbicara. Mereka memegangnya dengan setia dan bangga. Sebagian lagi menjadikannya ajang spekulasi. Mungkin demikian, analogi sederhananya.
Oh ya, saya pernah memiliki pengalaman dengan seorang peramal di jalanan kota London. Alkisah, si peramal menyetop saya dan beberapa teman dari Indonesia. Menurutnya, ia bisa meramal masa depan saya. Tertarik mengetahui modus yang akan digunakan, saya mencoba "jasa" ramalnya. Meskipun beberapa teman saya bersikeras untuk melanjutkan tour di kota London saja ketimbang melayaninya. Setelah bla-bla selama 10 menit, dengan menunjukkan foro-foto wajah para pemimpin dunia akhirnya si peramal meminta uang jasa. "Give me ur money..!!". Setengah memaksa dan mungkin bermaksud menghipnotis. Menurut info teman seorang warga Jerman yang hari itu menemani, modus itu biasanya digunakan untuk menipu para turis di London.
Nah, saya sengaja mengeluarkan uang pecahan 5000 rupiah untuk melihat responnya. Merasa tidak mengenal uang ini, dia lantas meminta saya memberikan Pound. Saya bersikeras mengatakan bahwa uang ini hebat di negara saya. Dibandingkan dengan Pound yang hanya berdenominasi 1-50 Pound, uang Indonesia lebih memiliki banyak angka nol, lihat ini, 5000 rupiah. Nolnya ada tiga buah. Take it or leave it...!! Silahkan ambil saja. Mungkin karena termakan kata-kata saya dan membandingkannya dengan angka nol yang tertera di lembaran Pound, dia akhirnya membawa uang 5000 rupiah itu dengan penasaran. Entah kemana dibelanjakannya. :)
Saya mencoba mengambil kesimpulan, bahwa uang kita memang tidak memiliki gengsi di negara lain. Suaranya nyaris tak terdengar. Makanya, negara-negara di dunia berupaya menaikkan kemampuan “bicara” mata uang yang dimilikinya. Semakin nyaring maka semakin bergengsi dan berkuasa. Makanya pula, banyak orang memburu mata uang yang lebih “nyaring” berbicara. Mereka memegangnya dengan setia dan bangga. Sebagian lagi menjadikannya ajang spekulasi. Mungkin demikian, analogi sederhananya.
Kembali ke laptop....
Lalu, bagaimana sikap kita terhadap uang?
Lalu, bagaimana sikap kita terhadap uang?
Mungkin pertanyaan itu terkesan lucu dan bodoh. Masak sih, menyikapi uang saja tidak tahu. Anak SD juga tahu. Sebagian orang pasti mengatakan bahwa menyikapi uang itu mudah. Ya, dibelanjakan sesuai kebutuhan, ditabung atau diinvestasikan. Selesai. Adapun yang susah dan menjadi masalah adalah justru cara mencarinya. Piye toh mas?. Apakah demikian?
Saya kira pendapat di atas bisa
jadi benar tapi ternyata banyak salahnya. Menyikapi uang berbeda dengan
menggunakan uang. Menyikapi uang memiliki makna lebih luas. Lebih holistik
dimana melibatkan cara pandang yang benar. Adapun menggunakan uang hanyalah
salah satu cara menyikapi uang.
Lalu bagaimana cara menyikapi
uang?
Dari beberapa arsip perpustakaan
yang bisa kita baca, setidaknya ada beberapa panduan untuk menyikapi uang
secara arif. Saya coba rangkum sebagai berikut:
Pertama, perbaiki
paradigma tentang uang. Bila selama ini uang dianggap sumber prestise dan
kebanggan. Maka rubahlah. Jadikan uang sebagai sebuah sarana untuk memberi
manfaat bagi kehidupan dan memperlancar misi sebagai pengabdi pada pencipta. Atau,
kalaupun sangat ingin ssekali unjuk prestise, setidaknya, jadikan prestise-nya produktif
yaitu prestise yang bisa membangkitkan semangat dan menjadi inspirasi orang
lain untuk bertindak dengan cara yang benar. (Saya yakin istilah ini tidak ada
dalam kamus :) ). Umar bin Khattab pernah mengatakan bahwa jadikan uang itu di
genggaman saja dan bukan di dalam hati. Sehingga, jika ia bertambah dan
berkembang, hatimu sedikitpun tidak terpengaruh dan menjadi takabbur. Demikian
juga, jika ia berkurang, hilang, atau mungkin dicuri orang, maka hatimu juga
tidak akan gundah dan tersiksa.
Kedua, rubahlah metode
mencari uang. Rubah “Money Talks” (uang berbicara), menjadi “Human
Talks” (Manusia yang bicara). Uang memang dapat diperoleh dengan
mengabaikan etika dan moral misalnya, dengan KKN (korupsi, kolusi atau
nepotisme), prostitusi (seperti kasus artis yang lagi marak beberapa hari ini),
berjudi, spekulasi atau riba. Namun, kekayaan dari proses demikian hanya bersifat
jangka pendek (short run term) dan manambah penderitaan batin si
pemiliknya. Kata orang, “uang setan dimakan hantu”. Silahkan coba kalau
tidak percaya…
Ketiga, miliki karakter entrepreneurship.
Karakter entrepreneur antara lain disiplin, kreatif, inovatif, pantang
menyerah, inklusif, kooperatif, dan
bertanggung jawab. Harus diakui bahwa karakter ini telah lama hilang dari
tradisi bangsa ini. Makanya tidak heran, banyak yang gelap mata, panik, dan
mengambil jalan pintas untuk menjadi kaya dalam waktu singkat. Makanya, saya
bersyukur ketika kasus artis prostitusi berhasil diungkap.
Saya tidak dapat membayangkan
sekiranya ini tidak terungkap, maka mungkin generasi muda bangsa
Indonesia ini hanya akan memiliki satu impian saja. Apa itu? apalagi kalau bukan untuk menjadi artis atau selebriti. Soalnya, mencari uangnya gampang sih. Bermodal
wajah dan aksi nyentrik. Kemudian narsis dan pamer sana-sini, di sorot
kamera, dapat order film dan iklan dan akhirnya menjadi tajir serta masuk
surga. Anak-anak kita pasti akan berpikir sesederhana itu. Silahkan tanya kepada
mereka, apakah masih tertarik menjadi guru, petani atau nelayan? :)
Keempat, bila uang telah
dimiliki dengan jalan yang benar, maka berdayakan orang lain. Bantu mereka merubah
paradigma tentang uang dan kehidupan. Penuhi hak-hak mereka dan makmurkan bumi
dengan kekayaan yang dimiliki. Setelah itu, gunakan uang untuk konsumsi diri
dan keluarga secara proporsioanal dan berkecukupan.
Dalam kajian ekonomi syariah, Al-Ghazali
yang merupakan seorang tokoh yang sangat mashyur, mengatakan bahwa uang ibarat cermin.
Ia hanya merefleksikan benda yang ada di depannya. Tanpa benda, cermin tidak
akan berfungsi apa-apa. Worthless, meaningless. Dengan demikian,
uang tidak akan bernilai tanpa nilai yang diberikan manusia. Bukan sebaliknya, uang
yang memberi nilai kepada manusia. Katakanlah, si A bernilai 80 juta, si B 100
juta, atau si C 1 milyar, murah sekali
bukan?.
Selain itu, menurutnya, uang ibarat air. Ia harus
dialirkan. Uang akan menjadi busuk seperti air di comberan got jika
tidak dialirkan. Makanya, menujukkan deposito milyaran rupiah itu sama dengan
menunjukkan kebusukan air jika ternyata tidak banyak yang dialirkan. Hitungannya
sederhana. Jika Anda memiliki uang 40 milyar dan idle di tabungan, maka
zakat Anda adalah 1 milyar setahun. Jika memiliki 40 juta, maka zakatnya adalah
1 juta, dst.
It’s time to talk to money.
Saatnya berbicara kepada uang. Berani mencoba?


0 Comments