Oleh: M. Ridwan
Jika Anda memiliki pengeluaran
dalam rentang $ 2-40 per-hari (kira-kira sekitar 20-400 ribu Rupiah), maka Anda
boleh berbahagia karena menurut Asian Development Bank, Anda termasuk kelas
menengah Indonesia. Memang, banyak kriteria untuk mengukur kelompok kelas
menengah. Ada yang membuat rentang antara
$12-50 perhari yaitu berdasarkan tingkat purchasing power parity (PPP), dimana
pendapatan Brazil sebanyak $ 12 sebagai batas bawah (floor) dan Italia
sebanyak $50 sebagai batas atas (ceiling). Ada juga kriteria Bank Dunia
yang mensyaratkan pendapatan sekitar 1-6 juta rupiah perbulan. Saya menggunakan kriteria
ADB, karenadirasa lebih cocok untuk negara-negara berkembang terutama di Asia.
Selain itu, negara-negara Asia berbeda dengan Eropah bukan?.
Terma “Kelas Menengah” memang sedang
ramai diperbincangkan dan selalu dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Bahkan, kelas menengah juga menjadi sorotan ketika dikaitkan dengan perkembangan
ekonomi syariah di negeri ini. Lembaga riset yang khusus mengkaji konsumen
kelas menengah Indonesia, Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS)
menyebutkan konsumen kelas menengah Muslim semakin makmur dan relijius terutama
dalam penggunaan lembaga keuangan syariah.
Benar, kelas menengah Indonesia
menjadi semacam kebanggaan. Dari mulai menjamurnya gera-gerai makanan dan
minuman ala Starbucks, 7-Eleven, Pizza Hut, sampai pada peningkatan kemacetan kendaraan
di kota-kota Indonesia. Semuanya selalu dikaitkan dengan kelas menengah. Saya
kira, fenomena meningkatnya peminat batu akik juga bisa dikaitkan dengan kelas
menengah ini. :)
Diperkirakan, kelas menengah
Indonesia saat ini telah berjumlah lebih 134 juta jiwa atau sekitar 56,5 % dari
populasi penduduk Indonesia. Sebuah jumlah yang cukup signifikan.
Kelas menengah di Indonesia,
selain mendapat pujian, tapi juga sering
mendapat cibiran. Cibiran terutama terkait dengan fenomena kelas menengah yang dianggap
dominasi kelas konsumer saja. Lihat, bagaimana gandrungnya kelas menengah
ini mengantri untuk memiliki seri terbaru gadget atau kendaraan. Tak heran, beberapa
produsen gadget dan kendaraan memanfaatkan Indonesia sebagai tempat lauching perdana
produk-produk anyar mereka.
Lihat pula, hebohnya kelas
menengah ini dalam meramaikan berbagai eksibisi properti dan peluncuran produk
perbankan. Atau, membludaknya penonton konser-konser yang mendatangkan penyanyi dari luar negeri. Selalu sold out.
Bagi para pengkritik, fenomena ini menunjukkan bahwa kelas menengah masih senang berkutat pada sisi konsumsi saja. Seharusnya, mereka bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat kelas bawah untuk meningkatkan ekonomi mereka. Sebuah harapan yang mungkin terlalu muluk-muluk juga. Kendati demikian, saya kira, anggapan ini bisa benar dan juga tidak.
Bagi para pengkritik, fenomena ini menunjukkan bahwa kelas menengah masih senang berkutat pada sisi konsumsi saja. Seharusnya, mereka bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat kelas bawah untuk meningkatkan ekonomi mereka. Sebuah harapan yang mungkin terlalu muluk-muluk juga. Kendati demikian, saya kira, anggapan ini bisa benar dan juga tidak.
Anggapan ini bisa benar, jika
hanya dilihat dari sisi aktifitas konsumsi mereka semata. Padahal, tidak ada
yang salah dari konsumsi. Sah-sah saja. Ada konsumen pasti ada produsen.
Peningkatan jumlah konsumsi pasti berdampak pada peningkatan jumlah produksi
juga. Artinya, fenomena peningkatan kelas menengah bisa meningkatkan taraf
ekonomi kelas masyarakat lainnya.
Namun, saya setuju, jika kelas
menengah memang harus lebih memperhatikan cash management. Artinya,
kemampuan konsumsi harus seimbang dengan kemampuan investasi dan charity (kedermawanan). Kelas
menengah jangan terjebak kepada prilaku konsumtif an-sich. Ketimbang
merasa bangga dengan label kelas menengah, bukankah lebih arif jika mulai saat
ini mencoba untuk berinvestasi dan berderma.
Dalam ekonomi Islam, prilaku
konsumsi harus berpedoman pada prioritas tiga kebutuhan yaitu kebutuhan pokok
(daruriah), sekunder (hajiyat) dan tersier (tahsiniyat). Jangan hanya karena
mengejar prestise dan gengsi (gaya-gayaan), prioritas ini dikesampingkan.
Simpelnya seperti ini saja. Saat
ini, kan potensi zakat kita seharusnya bisa mencapai angka 220 trilyunan
per tahun, namun dalam kenyataannya hanya terealisasi sekitar 1,2 trilyunan
saja. Ada something wrong, entah karena mentalitas memberi yang masih
minim atau promosi lembaga zakat yang kurang menarik dan minim. Nah, jika kelas
menengah di Indonesia mau membuka paradigma baru dengan mulai melek dan rajin
berzakat atau berderma, katakanlah 2,5% dari konsumsi hariannya, maka saya
yakin kelas menengah Indonesia memang pantas untuk mendapatkan acungan jempol.
Kelas ini akan menjadi kebanggan bangsa dan pujian di mata Tuhan juga.
Sebaliknya, jika realisasi zakat
ini tidak tercapai. Maka kelas menengah Indonesia mungkin masih asyik bergaya-gayaan saja alias mengejar kesenangan (hedonis) semata. Semoga tidak !!. Selamat datang di zona
kelas menengah…

0 Comments