Ticker

6/recent/ticker-posts

Negeri Para Hedon

Oleh: M. Ridwan
 
Jika kita membaca berbagai literatur sejarah, maka akan didapatkan fakta banyak terjadi peristiwa kehancuran umat-umat terdahulu. Katakanlah, umat Nuh yang diterjang banjir raksasa atau kaum Sodom yang dihujani batu-batu panas dan memusnahkan semua penduduk Sodom. Demikian pula, Kaum Fir’aun ditimpa bencana alam berupa paceklik, wabah kutu, kodok dan belalang. Bencana juga terjadi kepada kaum Saba’ dengan bobolnya bendungan Maghrib yang menjadi kebanggaan dan tumpuan kemakmuran mereka. Akibatnya, mereka kelaparan dan negeri mereka berubah menjadi tandus dan kering. Atau, kisah Kaum Pompeii (79 M) yang dimusnahkan oleh letusan gunung Vesuvius di Itali. Peristiwanya terjadi di malam hari sehingga mereka tidak sempat menyelamatkan diri. Kaum ini ternyata gemar melakukan aksi perzinahan, gladiator dan kemaksiatan lainnya. Banyak peristiwa kehancuran lainnya yang terukir dalam sejarah namun tidak ditulis dalam artikel singkat ini.

Jika kita amati peristiwa kehancuran berbagai umat terdahulu, maka setidaknya ada beberapa kesamaan yaitu: 
Pertama, kehancuran umat terdahulu itu pasti memiliki faktor penyebab. Biasanya berupa kemaksiatan yang dilakukan secara konsisten dan sistemik, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Kedua, umat yang ditimpa bencana itu biasanya tidak merasa bersalah. Mereka mengganggap tidak berdosa (innocent). Mereka enjoy saja. Anggapan mereka, bahwa semua yang dilakukan adalah hal biasa atau konsekuensi dari kecerdasan atau budaya. Sehingga, mereka merasa aneh jika ada yang mencoba mengingatkan apalagi melarang perbuatan itu. Silahkan cermati peristiwa-peristiwa ini di dalam kitab suci, bagaimana para rasul dan penyeru kebaikan saat itu mendapat cemoohan karena dianggap sebagai anti kemajuan, sok suci dan jadul.
Ketiga, berbagai kemaksiatan yang dilakukan merupakan akumulasi dari keinginan untuk selalu mencari kesenangan ragawi. Misal, mendapatkan harta untuk kesenangan, mabuk-mabukan, berjudi, berzina, berjoget, atau bernyanyi-nyanyi. Kesenangan-kesenangan ini sangat diutamakan. Sehingga apapun yang menghalangi proses kesenangan ini harus dihindari termasuk penyerunya. Makanya, mereka sangat membenci para nabi yang selalu mengajak mereka menghindari “kesenangan-kesenangan” tersebut.  

Sejarah Hedonis

Jaman terus berubah. Kendati berbagai cerita kehancuran umat terdahulu banyak dijelaskan oleh berbagai kitab suci namun manusia sering lupa atau mungkin pura-pura lupa :) mengambil pelajaran. Kenapa?, tidak lain karena kencedrungan untuk mencari kesenangan itu memang inheren di dalam diri manusia. Itulah yang sering disebut dengan sifat hedonis. Kata hedonis berasal dari Yunani hedonismos yang berarti kesenangan. Istilah ini muncul pada tahun 433 SM. Yah, sekitar 2448 tahun lalu.

Ceritanya, seorang filosof bernama Socrates gemar sekali mempertanyakan segala hal kepada orang yang dijumpainya. Dia bertanya, kenapa harus bekerja?, kenapa harus makan?, kenapa harus nikah? Kenapa harus tidur bahkan kenapa harus mati?. Nah, salah satu pertanyaannya juga adalah “Apa sih sebenarnya tujuan akhir manusia?”. Dari sinilah muncul berbagai jawaban. Salah satu jawaban itu dikemukakan oleh Aristippos dan Krene (433-355 SM).

Menurut mereka, tujuan akhir manusia adalah kesenangan (hedonis). Mereka beragumen bahwa sejak kecil manusia selalu mencari kesenangan, tidak ada yang lain. Logis juga ya..?

Oh, ya, ada juga Filosof lain bernama Epikuros (341-270 SM). Menurutnya, memang, kesenangan itu merupakan hal yang dicari manusia, namun kesenangan itu tidak hanya ragawi, tapi juga kesenangan rohani. Misalnya, hilangnya kegelisahan, atau kesedihan. Itu juga adalah kesenangan.

Saya melihat, bahwa dalam perkembangan sejarah manusia. Sikap mencari kesenangan atau hedonisme akhirnya diidentikkan dengan ragawi semata. Sedangkan, untuk kesenangan rohani biasanya dikaitkan dengan istilah kebahagiaan, atau kebijaksanaan. Sehingga hedonis lebih diidentikkan dengan sesuatu yang bersifat materi saja dan berkonotasi negatif. Begitulah kalau saya tidak salah menyimpulkan :)

Point tulisan ini tentu bukan tentang filsafat hedonisme. Maklum, banyak orang yang tidak tertarik dengan filsafat. Katanya sih ribet, bahkan sebagian orang menganggap sesat juga.

Saya lebih tertarik untuk melihat kondisi kita saat. Saya kira kondisi masyarakat hedonis telah terbentuk hampir sempurna di masa ini. Masyarakat ini dicirikan dengan prilaku mengejar kesenangan ragawi secara massif. Segala sesuatu diukur dengan kesenangan. Bahkan, untuk mendefinisikan sebuah kebenaran juga dilihat dari kacamata kesenangan. Sebuah kesenangan bisa menjadi kebenaran. Sebaliknya, sebuah kebenaran bisa menjadi salah jika tidak meyenangkan.  

Makanya, tidak mengherankan jika saat ini kita menyaksikan banyak sekali upaya “membungkus dan menjual kesenangan.” Apa saja. Dan, media TV adalah pembungkus dan penjual kesenangan yang sempurna. Kendati kesenangannya bersifat semu, artifisial dan jangka pendek, tapi siapa yang peduli?. TV telah menjadikan pencarian kesenangan manusia negeri ini menjadi seragam dan terjadwal.

Di malam hari, kita ditawarkan kesenangan dengan tertawa bersama menyaksikan film, lawakan atau hiburan berupa kontes penyanyi berbakat. Di paginya, kita ditawarkan kesenangan dengan tersenyum-senyum melihat tingkah polah selebriti yang digosipkan. Kita berdecak kagum akan selebritas dan keberhadilan mereka. Di siang harinya, kita bertepuk tangan menyaksikan lakon para politikus atau pelaku krimanal yang berhasil ditangkap. Semuanya menjadi menyenangkan. Sesekali ada kesedihan dan bencana yang ditunjukkan, namun dalam hitungan jam airmata ini akan hilang berganti dengan tayangan “menyenangkan” yang baru.

Pendeknya, semua dikemas dengan menyenangkan. Bahkan, dakwah agama harus diupayakan jadi menyenangkan. Kalau tidak, siap-siap rating TV akan turun dan si pengisi materi dakwah mungkin akan digantikan dengan yang orang bisa lebih menyenangkan :) Coba perhatikan, kalau saya tidak salah nih, biasanya bahan dakwah di TV  sangat minim pembahasan tentang ancaman neraka. Mungkin, karena sangat tidak menyenangkan ya?. Mungkin di pikiran produser, mana ada penonton yang mau ditakut-takuti dengan ancaman api?. Bisa rugi TV, dong, kalau para pengiklan kabur mencari channel TV yang lebih menawarkan hiburan dan kesenangan. Kok, pembahasan jadi ke TV ya....:?

Lihat pula berbagai latar belakang penyebab kriminalitas. Biasanya selalu diawali dengan upaya memenuhi kesenangan. Saya sangat yakin, bahwa motivasi para koruptor melakukan perbuatannya tidak lain demi kesenangan semata. Buktinya, uang hasil korupsi biasanya dibelikan barang-barang mewah, property, plesir ke luar negeri bahwa menambah isteri.

Oh ya, kita bahkan rela memfasilitasi kesenangan ini dengan biaya tinggi. Katakanlah, membuatkan lokalisasi prostitusi demi kesenangan para kaum pemburu syahwat. Atau, lokalisasi judi untuk kesenangan orang bertaruh atau miras. Lucu juga...

Masih banyak lagi……. Apalagi jika dikaitkan dengan prilaku para remaja kita yang setiap detik, hati dan pikiran mereka dicekoki dengan materi-materi bernuansa hedonis.

Saya takut, negeri ini ternyata telah dipenuhi para hedon karena bukti-buktinya amat jelas. Saya khawatir kita pula salah satu pelakunya.

Mudah-mudahan, negeri kita bukanlah target kemurkaan tuhan berikutnya sama seperti nasib umat-umat hedonis sebelumnya yang telah dimusnahkan dari muka bumi. Na’uzubillah..




  
 

Post a Comment

0 Comments