Ticker

6/recent/ticker-posts

#Day11 Seri Ramadhan 2018: NARROW WORLD, LARGE SKY

By: M. Ridwan
Ada yang mengatakan bahwa IMAN itu ibarat naik pesawat. JIka ia SEMAKIN TINGGI maka DUNIA akan terlihat SEMAKIN KECIL. Sebaliknya, jika ia semakin RENDAH, maka DUNIA akan terlihat semakin besar dan membuat SESAK di dada.


Entah siapa yang mencetuskan statement itu, namun saya kira benar juga ya, kendati yang dimaksud dengan DUNIA adalah BUMI yang semakin kecil.

DUNIA dan BUMI adalah dua kata yang berbeda. Dunia menjelaskan KEHIDUPAN sebelum AKHIRAT, sifatnya abstrak, sedangkan BUMI lebih identik dengan nama sebuah PLANET dan sifatnya fisikal. Sampai saat ini, kehidupan DUNIA memang banyak dilakukan di atas BUMI, namun beberapa puluh tahun ke depan, bisa saja, kehidupan dunia akan dilakukan di MARS, SATURNUS atau di galaksi lain, why not?.

Alquran menyebut DUNIA sebagai TEMPAT SENDA GURAU, wahana MAINAN, TIPUAN atau COBAAN. Terserah kita mau pilih yang mana.  Yang jelas, ketika DUNIA semakin DOMINAN di dalam hati, maka pasti ruang untuk NON DUNIA atau AKHIRAT semakin TERGUSUR, SEMPIT atau malah KOSONG.   

PENELITIAN mengungkapkan bahwa ketika seseorang berada di ketinggian langit LANGIT, maka perasaan HARU mudah muncul. Manusia gampang meneteskan air mata. Hatinya menjadi begitu LEMBUT.  RUH seperti menemukan TEMPAT BERMAIN-nya. Menurut ilmuwan, kondisi ini semata-mata karena kerapatan oksigen yang berkurang di ketinggian. Namun, saya yakin, kondisi ini disebabkan tarikan RAGAWI/FISIK  yang mulai lemah dan diambil alih RUH.

Memasuki RAMADHAN ke-11 ini, biasanya RUH juga mulai DOMINAN menguasai RAGA. Ia semakin NAIK dan meninggalkan DUNIA. Dominasi RUH memunculkan RASA SPIRITUAL yang juga besar.  “Gravitasi” fisik semakin lemah, KERAPATAN NAFSU menjadi LONGGAR.

Efeknya, seorang SHAIM akan mudah TERSENTUH, iba dan CINTA KASIH. Kalau sholat atau membaca ALquran, ia bisa menangis tersedu-sedu. Imam di mushalla kami bahkan sudah menangis pada hari pertama tarawih. Ayat yang dibacanya mampu merasuk ke sukma.

Jangan silap, hal ini terjadi bukan karena ia cengeng, atau melo, lho. Ini terjadi karena RUH nya mampu menyentuh dimensi LANGIT yang SUPER LEBAR itu. Bahkan, dalam beberapa kejadian, seseorang bisa saja berteriak. Perasaannya tidak bisa dilukiskan dengankata-kata. Alam malakut terbuka di hadapannya.

Makanya, patut dipertanyakan, kalau ada seseorang yang justru MERASA SEMPIT di bulan RAMADHAN. Cukup aneh kalau ada yang merasa SUMPEK dan STRESS. Pasti ada something wrong kalau yang  DITANGISI justru DUNIA. Bukan muslim banget tuh, kalau HATI nya maih KERAS dan tidak suka dengan KEBENARAN. Jangan-jangan, yang mengambil alih justru TARIKAN DUNIA ya. Sayang banget..

RAMADHAN itu IBARAT NAIK KE LANGIT, namun untuk TURUN KEMBALI.

Kendati asyik berada di LANGIT dengan KENYAMANAN dan KELEMBUTAN AWAN, namun kita harus turun juga. Soalnya, RUH kita masih harus menyatu dengan FISIK. Belum meninggal lho.

Makanya, di bulan ini, kendati ada waktu untuk tafakkur, namun kita juga diharuskan untuk TURUN LANGIT, menyusuri bumi menebar kebaikan dan cinta kasih. Menghibur orang yang menangis dan meringankan BEBAN ORANG yang MEMBUTUHKAN.

Kita juga menaikkan IMAN di bulan ini adalah dengan MENURUNKAN TENSI HATI yang PANAS, menggantinya DENGAN KELEMBUTAN dan CINTA KASIH. Mencari persamaan sebagai manusia.

Yes,,,

MANUSIA adalah MAKHLUK RUHANI yang menempati RAGA FISIK, bukan MAKHLUK FISIK yang sekedar memiliki RUHANI. So, jangan mudah terkecoh kesenangan fisik..(mode tausiyah : on)

Moga iman dan ketaqwaan kita bertambah di bulan ini. Amin..

Wallahu a’lam.

  






Post a Comment

0 Comments