Ada yang mengatakan bahwa IMAN itu ibarat naik pesawat. JIka ia SEMAKIN TINGGI maka DUNIA akan terlihat SEMAKIN KECIL. Sebaliknya, jika ia semakin RENDAH, maka DUNIA akan terlihat semakin besar dan membuat SESAK di dada.
Entah siapa yang mencetuskan statement itu,
namun saya kira benar juga ya, kendati yang dimaksud dengan DUNIA adalah BUMI
yang semakin kecil.
DUNIA dan BUMI adalah dua kata yang
berbeda. Dunia menjelaskan KEHIDUPAN sebelum AKHIRAT, sifatnya abstrak, sedangkan
BUMI lebih identik dengan nama sebuah PLANET dan sifatnya fisikal. Sampai saat
ini, kehidupan DUNIA memang banyak dilakukan di atas BUMI, namun beberapa puluh
tahun ke depan, bisa saja, kehidupan dunia akan dilakukan di MARS, SATURNUS
atau di galaksi lain, why not?.
Alquran menyebut DUNIA sebagai TEMPAT SENDA
GURAU, wahana MAINAN, TIPUAN atau COBAAN. Terserah kita mau pilih yang mana. Yang jelas, ketika DUNIA semakin DOMINAN di
dalam hati, maka pasti ruang untuk NON DUNIA atau AKHIRAT semakin TERGUSUR,
SEMPIT atau malah KOSONG.
PENELITIAN
mengungkapkan bahwa ketika seseorang berada di ketinggian langit LANGIT, maka
perasaan HARU mudah muncul. Manusia gampang meneteskan air mata. Hatinya menjadi
begitu LEMBUT. RUH seperti menemukan
TEMPAT BERMAIN-nya. Menurut ilmuwan, kondisi ini semata-mata karena kerapatan
oksigen yang berkurang di ketinggian. Namun, saya yakin, kondisi ini disebabkan
tarikan RAGAWI/FISIK yang mulai lemah
dan diambil alih RUH.
Memasuki
RAMADHAN ke-11 ini, biasanya RUH juga mulai DOMINAN menguasai RAGA. Ia semakin
NAIK dan meninggalkan DUNIA. Dominasi RUH memunculkan RASA SPIRITUAL yang juga besar.
“Gravitasi” fisik semakin lemah, KERAPATAN
NAFSU menjadi LONGGAR.
Efeknya, seorang
SHAIM akan mudah TERSENTUH, iba dan CINTA KASIH. Kalau sholat atau membaca
ALquran, ia bisa menangis tersedu-sedu. Imam di mushalla kami bahkan sudah
menangis pada hari pertama tarawih. Ayat yang dibacanya mampu merasuk ke sukma.
Jangan silap,
hal ini terjadi bukan karena ia cengeng, atau melo, lho. Ini terjadi karena RUH
nya mampu menyentuh dimensi LANGIT yang SUPER LEBAR itu. Bahkan, dalam beberapa
kejadian, seseorang bisa saja berteriak. Perasaannya tidak bisa dilukiskan
dengankata-kata. Alam malakut terbuka di hadapannya.
Makanya, patut
dipertanyakan, kalau ada seseorang yang justru MERASA SEMPIT di bulan RAMADHAN.
Cukup aneh kalau ada yang merasa SUMPEK dan STRESS. Pasti ada something
wrong kalau yang DITANGISI justru DUNIA.
Bukan muslim banget tuh, kalau HATI nya maih KERAS dan tidak suka dengan
KEBENARAN. Jangan-jangan, yang mengambil alih justru TARIKAN DUNIA ya. Sayang
banget..
RAMADHAN itu
IBARAT NAIK KE LANGIT, namun untuk TURUN KEMBALI.
Kendati asyik
berada di LANGIT dengan KENYAMANAN dan KELEMBUTAN AWAN, namun kita harus turun
juga. Soalnya, RUH kita masih harus menyatu dengan FISIK. Belum meninggal lho.
Makanya, di
bulan ini, kendati ada waktu untuk tafakkur, namun kita juga diharuskan untuk
TURUN LANGIT, menyusuri bumi menebar kebaikan dan cinta kasih. Menghibur orang
yang menangis dan meringankan BEBAN ORANG yang MEMBUTUHKAN.
Kita juga menaikkan
IMAN di bulan ini adalah dengan MENURUNKAN TENSI HATI yang PANAS, menggantinya
DENGAN KELEMBUTAN dan CINTA KASIH. Mencari persamaan sebagai manusia.
Yes,,,
MANUSIA adalah
MAKHLUK RUHANI yang menempati RAGA FISIK, bukan MAKHLUK FISIK yang sekedar memiliki
RUHANI. So, jangan mudah terkecoh kesenangan fisik..(mode tausiyah : on)
Moga iman dan
ketaqwaan kita bertambah di bulan ini. Amin..
Wallahu a’lam.


0 Comments