By: M. Ridwan
Jadwal penerbangan itu KETAT dan presisinya
hampir sempurna. Katakan, jarak tempuh Medan ke Jakarta sekitar 2 jam. Kalau tak
ada halangan berarti, DIPASTIKAN pesawat akan tiba di Bandara Soekarno Hatta sesuai
waktu, ON TIME. Ketika pesawat telah take off, penumpang PASTI akan IKHLAS
dengan waktu yang ditentukan dan kemana PILOT membawa. Tidak mungkin ada yang misalnya,
karena ingin lebih CEPAT minta diturunkan di Palemang atau Selat Sunda. Atau, karena ingin melihat keindahan GUNUNG
SALAK, Jawa Barat selama 2 jam, lantas meminta PILOT untuk menunda pendaratan.
Gak ada, bukan?
Semua penumpang RELA mengikuti jadwal yang telah
ditentukan. Meskipun, ada penumpang yang DIKEJAR WAKTU, mau apalagi?
Meski ada MEETING mendesak, mau ketemu KLIEN
prospektif bahkan kalau ADA MUSIBAH KELUARGA,
tak ada pengecualian. PILOT akan mengendalikan PESAWAT sepenuhnya sesuai
JADWAL. Tidak boleh MEMBANTAH dan INTERVENSI.
Kecuali, dalam kasus PEMBAJAKAN PESAWAT…!!
Dalam kasus ini, pembajak atau HIJACKERS memaksa
pilot secara PAKSA. Dengan kemauan dan ancaman, ia MEMAKSA PILOT merubah HALUAN,
mempercepat landing atau meneruskan PENERBANGAN. Pokoknya, horror, banget. Masih ingat dengan pembajakan pesawat ketika kejadian 911,bukan?
Tak dapat dibayangkan bagaimana perasaan
dan emosi para pembajak ketika itu. TERLEBIH para penumpang. Perasaan bercampur
aduk. Mungkin dipenuhi KEMARAHAN, dan KETAKUTAN,
AROGANSI atau PIKIRAN KALUT. Apapun alasannya, PEMBAJAKAN pesawat adalah tindakan
PENGECUT karena mengorbankan orang lain demi kepentingan PRIBADI mereka.
Nah, PESAWAT RAMADHAN juga RENTAN DIBAJAK,
lho.
Cara membajaknya tidak dengan mengancam
pake senjata. Membajak RAMADHAN dilakukan dengan merubah HALUAN HATI. Misal, mulai tidak IKHLAS
dan KALUT dengan suasana RAMADHAN. Mudah bete dan disorientasi, mungkin miirin LEBARAN atau MUDIK. Karena PANIK, ia lantas ingin cepat MENDARAT,
kemudian memaksa PESAWAT RAMADHAN untuk
turun sebelum waktunya. Inilah PEMBAJAKAN RAMADHAN secara nyata.
Atau, seseorang dianggap PEMBAJAK RAMADHAN kalau ia MENYERAH
dengan aktifitas ibadah. Bosan dnegan tarawih, capek baca Alquran, takut sedekah atau gak tahan puasa. HATINYA sudah KEPINCUT ingin cepat EXIT kendati ia tidak
makan dan minum.
Atau, seseorang dianggap membajak Ramadhan jika prilaku dan
hatinya tidak mencerminkan karakter penumpang Ramadhan yang ikhlas. Misal, ia masih tetap
IRI DENGKI, PESIMIS, SOMBONG, MUBAZIR, GHIBAH atau FITNAH. Panca inderanya pun
TAK TERJAGA.
Setujukah Anda dengan kriteria di atas?
Kita tentunya tidak mau dianggap sebagai PEMBAJAK RAMADHAN…
Kita pasti TIDAK RELA meninggalkan RAMADHAN
DENGAN PAKSA
Kalaupun ada suasana hati yang sedang
GUNDAH, insyallah akan dibantu oleh ALLAH. Bersabarlah dan nantikan keajabain, buah dari KESABARAN. Ucapkan kembali "LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH"
Ingat, Ramadhan adalah bulan MENUJU LEVEL
TAQWA. Salah satu indikator taqwa adalah adanya JALAN KELUAR dari semua masalah
yang kita hadapi. Sehingga, seandainya ada problem yang belum
terselesaikan dan hajat belum terwujud di bulan RAMADHAN, mungkin saja, nilai KETAQWAAN
kita terganggu. Namun, tentunya bisa diperbaiki dan dipoles di tahun 2018 ini. Asal saja, dilakukan dengan sepenuh hati.
Moga Allah memberi kekuaatan kepada kita
untuk mampu BERSYUKUR atas karunia RAMADHAN yang diberikan serta menggunakan
semua fasilitas yang ada dengan maksimal.
Semoga LABEL PEMBAJAK RAMADHAN tidak DISEMATKAN
kepada kita ya. Amin…
Wallahu a’lam..


0 Comments