Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#21 Seri Syawal 2016: Trade Off, Mbah Agus dan Balada Negeri Orang Baik

By: M. Ridwan

Trade off adalah pengorbanan yang dilakukan seseorang ketika melakukan satu pilihan tertentu. Istilah ini memang lazim dipakai untuk menggambarkan pilihan seseorang dalam aktifitas ekonomi. Misal, seseorang yang memutuskan membeli roti, maka ia mengorbankan keinginan membeli baju. Asumsinya, uang yang dimilikinya terbatas. Dalam konteks negara, contoh yang biasa dipakai biasanya mengenai keputusan negara antara memproduksi senjata atau makanan?. Pilihan sulit bukan? Soalnya, keduanya perlu. Senjata untuk mempertahankan negara, dan makanan untuk keberlangsungan hidup penduduknya. Tentara juga butuh makan, bukan?. Namun, karena harus ada pilihan, maka terpaksa harus ada yang dikorbankan. Indonesia juga pernah dihadapkan pada pilihan trade off ini ketika dihadapkan pada pilihan untuk bangun pertanian atau pesawat terbang?. Pilih impor beras atau bangun pertanian?. Impor mobil atau buat mobil nasional?. Termasuk, impor tenaga kerja luar negeri atau penduduk lokal?. 

Nah, trade off juga bisa diberlakukan dalam pilihan apa saja. Misal, seseorang yang memutuskan melanjutkan ke jenjang S-2 dan mengorbankan kesempatan bekerja. Atau, seseorang yang memutuskan untuk bekerja dan menunda pernikahan. Banyak contoh bisa dikemukakan. Kalau bisa berbarengan sih oke. Tapi, biasanya harus ada yang dikorbankan.

Bahkan, hakikat hidup di dunia inipun adalah contoh konkret trade off sebenarnya. Pilih mengorbankan peluang surga (ingat akhirat) atau neraka (ngebet dunia)?. This is a sutupid question, isn't? Kita tentu kita surga dong, kendati manusia sebenarnya secara kasat mata lebih rela mengorbankan surganya. Yang ngomong begini Alquran, lho. Manusia itu lupa dengan akhiratnya.

Berita baiknya, penduduk Indonesia sangat berpotensi besar masuk surga. Penduduk muslimnya 80% bukan?. Artinya, tiket ke surga sudah dipegang. Tinggal lagi, apakah tiket ini bisa terus digenggam sampai akhir hayat. Nah, disinilah kita perlu konkritisasi iman yaitu amal sholeh, kita harus memperbanyak kebaikan. Negeri inipun harus memproduksi banyak "orang baik". Dan, itu harus dilakukan secara massif.

Tugas siapakah itu? Tentu saja tugas kita semua. Terutama dalam proses "membaikkan" diri kita terlebih dahulu. Start up nya adalah diri ini, bro. Kita harus memastikan bahwa orang "baik" pertama yang kita temui adalah orang yang benar-benar "baik". Dan, orang pertama itu adalah diri kita. Logis, bukan?. Tanpa itu, kita pasti akan kesulitan menemukan orang "baik" ke-2, ke-3, dst.

Nah, Mbah Agus itu contoh yang tepat model orang baik di negeri ini. Berita tentang dirinya ramai diperbincangkan publik dalam minggu ini. Oh ya, Mbah Agus adalah polisi di Brebes yang kerjanya menyeberangkan anak-anak sekolah setiap hari. Saat ini, ia akan memasuki usia pensiun. Selama bertugas, ia hidup dalam kekurangan meski terbuka peluang untuk memperkaya diri dari jalan tidak benar. "Aku takut akhirat" katanya merendah. "Aku tidak ngiri, orang lain lebih kaya dan mewah dari diriku" katanya mantap. Ia bahkan menolak pemberian ikhlas orang tua murid yang ikhlas memberi. "Ini tugasku" katanya.

Inilah yang saya sebut "balada negeri orang baik," dimana biasanya orang seperti Mbah Agus ini jumlahnya sedikit. Kebaikannya mungkin dipuji dan dikagumi namun berapa banyak yang mau melakoni kehidupan seperti dirinya? Seribu satu alasan mungkin akan mengemuka. Gengsi dong?. Si Mbah gak pintar cari duit sih. Maklumlah, si Mbah gak punya isteri, dll.",Apakah demikian komentar kita?.

Terserah apa komentar kita akan si Mbah. Yang jelas, ia telah melakukan pilihannya sendiri, kendati mungkin terlihat mengorbankan dunia. Tapi, saya yakin, dia mashyur di langit lho...

Memang, kebaikan itu biasanya lebih enak dibincangkan, tapi tidak diwujudkan. Kita suka menunggu-nunggu orang lain melakukannya. Kita jaim disebut orang baik karena identik dengan orang kalah dan tidak keren? Mau bukti?, kita lihat saja nanti, akankah muncul Mbah Agus lain di tahun ini..Hehe..Ngaco lah..

Alquran bilang, manusia ini sukanya ngomong doang. Malah, perbincangan yang dilakukanpun mungkin tidak pula menambah kebaikan. Tapi, saya tidak anti diskusi dan dialog, lho. Dialog itu adalah salah satu kebiasaan Tuhan. Kita tentu layak meniru-Nya. Lihat, apa yang dilakukan-Nya dengan malaikat dan rasul-Nya. Dia berdialog, bukan? Tapi, bukan berdebat tak tentu ujung akhirnya.

Menurut nabi, kebaikan kita harus bertambah setiap hari. Pundi amalnya harus terus berisi, harus surplus dan melimpah. Orang-orang yang memiliki banyak kebaikan-lah yang bisa memberi kebaikan. Lubuk dan tambang kebaikan itu banyak. In abundance. Melimpah ruah dan bebas dimiliki, dikembangkan dan tentunya diwariskan.

Masalahnya tentu karena adanya trade off tadi. Sehingga, kita dihadapkan pada tantangan untuk bisa melakukan pilihan yang benar tanpa mengorbankan sesuatu yang benar-benar berharga, bernama kebaikan itu. Mampukah?

Bukan, apa-apa sih. Soalnya, banyak manusia yang katanya melakukan pilihan kebaikan, namun sebenarnya ia justru sedang membuangnya. Contoh, orang yang berebut kekuasaan, namun dilakukan dengan cara zalim dan penuh intrik iri dan dengki. Sehingga, kekuasaan yang diperolehnya nanti tidak akan berguna. Wong, untuk kebaikan dirinya saja tidak dapat, konon pula untuk orang lain. Atau, orang yang suka sekali berkoar dan pamer kebaikan. I am the hero...."Kalian hanya mampu ngomong saja".Wah, kondisi jadi  ribet, bukan?

Lalu, bagaimana cara menumbuhkembangkan kebaikan?
Nabi mengajarkan kiatnya dengan memperbaiki niat atau mengajukan pertanyaan "why?" Mengapa kita melakukan ini dan itu?. Mengapa, dan apa niat hati kita memilih aktifitas ini?. Mengapa harus aku yang berkuasa?. Mengapa aku harus mengejar kesuksesan ini? Jika jawabannya masih kabur, tendensius dan individulis, maka bersiap-siaplah kehilangan kebaikan dan berganti keburukan. So be wise..Teladani si Mbah Agus-lah..

Dengan mendudukkan niat secara benar, maka semua perbuatan kita insyallah akan melahirkan kebaikan. Tuhan akan membimbing dan menjauhkan kita dari keburukan. Negeri ini akan bangkit kok. Insyallah, wallahu a'lam..

Post a Comment

0 Comments