By: M. Ridwan
Tulisan ini dibuat tahun 2016. Bagi yang membacanya di tahun 2116, -seratus tahun dari sekarang, maka saya sampaikan bahwa saat ini warga bumi dihebohkan oleh sebuah game bernama Pokemon Go. Prinsip game-nya sebenarnya sederhana, sama seperti game lain yang mampu membangkitkan adiksi (kecanduan), misalnya Angry Bird atau Flappy Bird. Untuk manusia di tahun 2116, game ini mungkin sudah sangat ketinggalan jaman ya.. Pokemon Go ini cukup keren dibandingkan game sejenis di tahun 2016 karena memanfaatkan GPS dan lokasi tertentu sehingga pemain bisa merasakan sensasi virtual dan nyata. Game ini disebut Augmented Reality.
Iseng-iseng, saya mencoba menginstall game ini di smartphone jadul saya. Tidak memerlukan waktu lama, aplikasi ini berhasil di-install. Oh ya, saya tidak menginstallnya dari Google Store, belum nemu sih. Katanya masih belum di ada lisensi untuk Indonesia. Ada sebuah situs yang berbaik hati memberikan APK-nya. Meskipun, mungkin belum diverifikasi dan bisa saja ada Trojan-nya, tapi gak apa-apa lah. Anggap saja sebagai bahan IT Forensic ya..:)
Iseng-iseng, saya mencoba menginstall game ini di smartphone jadul saya. Tidak memerlukan waktu lama, aplikasi ini berhasil di-install. Oh ya, saya tidak menginstallnya dari Google Store, belum nemu sih. Katanya masih belum di ada lisensi untuk Indonesia. Ada sebuah situs yang berbaik hati memberikan APK-nya. Meskipun, mungkin belum diverifikasi dan bisa saja ada Trojan-nya, tapi gak apa-apa lah. Anggap saja sebagai bahan IT Forensic ya..:)
Game ini memerlukan aktifasi GPS di smartphone. Ketika diaktifkan pertama kali, seorang Professor muda bernama Wilmor memberikan instruksi permainan dan apa yang harus dilakukan. Tugas utamanya ya mencari Pokemon yang julukannya bisa macam-macam. Wah, Professor suka main game juga ya...?
Singkat cerita, saya mencoba memainkan game ini. Dan, Pokemon pertama yang saya tangkap tepat berada di kepala si Ibnu, salah seorang rekan yang jagoan IT UINSU. Dengan menembakkan sebuah Pokeball, maka saya resmi memiliki sebuah Pokemon. Meskipun saya tidak tahu untuk apa Pokemon ini ditangkap. Katanya sih untuk dilatih sehingga nanti bisa bertarung. Wah, wah.
Saya tidak meneruskan cerita game ini. Dulu, saya termasuk orang yang suka dengan game, entah itu komputer atau Play Station. Namun, karena sudah setua ini, dan waste of time, maka hobby main game ini sudah sirna.
Kita pantas salut kepada si pembuat Pokemon Go ini. Nama penemunya, adalah Jhon Hanke. Tapi, jangan kira kesuksesannya diperoleh secara instan. Ia telah mengembangkan game ini sejak tahun 1996 ketika masih menjadi mahasiswa. Nah, kerja keras yang membuahkan hasil, bukan?
Jhon Hanke berhasil memanfaatkan kecendrungan manusia yang memang suka dengan dunia ilusi dan fantasi. Ia mengkemasnya dengan teknologi teranyar berbasis reality. Klop-lah jadinya. Oh ya, dia membutuhkan dana lebih dari 25 juta Dollar lho untuk membuat game ini. Tentunya, banyak sponsornya. Termasuk dari Google, NItondo dan Niantic. Maklumlah, si Jhon Hanke ini adalah mantan penggagas Google Earth. Pantesan,..
Hemat saya, Pokemon Go ini pasti bisa membuat pemainnya melupakan realitas sekitarnya. Bayangkan, demi mencari sebuah/seekor Pokemon, ratusan orang rela berjalan tak tentu arah. Bisa saja ia ke taman, berlari ke jalan raya atau memanjat gunung. Hehe, saya jadi terbayang ratusan orang yang berkumpul di Monas ketika mencari Pokemon ini. :). Dan, menurut info, sudah ada korban jiwa dari game ini.
Makanya, banyak pihak yang mengkhawatirkan keberadaan Pokemon Go. Termasuk pihak Istana Merdeka. Wajarlah. Namanya juga bisa memicu kecanduan. Meskipun saya yakin, sebenarnya ketenaran game ini memang direncanakan. Strategi marketingnya ditata apik. Tak heran, jika dari game ini, berbagai perusahaan kecipratan rejeki, termasuk Google dan Apple. Tentu saja, Jhon Hanke dan perusahaannya juga. Denger-denger mereka meraup 2 juta dollar per-hari.
Apapun ceritanya, ilusi dan realitas memang dua hal yang terkadang
sulit dipisahkan saat ini. Dukungan teknologi menyebabkan sesuatu yang
bersifat ilusi diterima sebagai sebuah kenyataan. Lihat bagaimana sebuah
film dan tayangan TV berhasil mengiring penonton untuk meyakini sesuatu
yang "tidak ada" menjadi ada. Manusia kini, bahkan bisa lebih
mempercayai sebuah "nilai" yang disampaikan media hiburan ketimbang
nilai yang dan ditemukan dan dipraktikkan dalam kenyataan. Kita menjadi
kesulitan menentukan mana variabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi.
Namun,
kalau terkait ilusi. Sebenarnya dunia tempat kita tinggal ini sebenarnya
kehidupan ilusif sih. Saya menyebutnya dengan "Dunia Go". Apakah ini game jenis
baru?. Tentu saja, kaena Alquran, memang menyebut bahwa dunia ini memang permainan. Pemainnya adalah milyaran manusia yang hidup di atasnya. Ada pemain yang stress,
bergembira dan tentu saja sebagian besar kecanduan. Dunia bisa mengobok-obok ilusi dan
pikiran kita, bukan?. Lalu, jika dunia ini adalah sebuah ilusi yang manakah realitanya?. Jawabannya, bahwa realita itu akan kita dapatkan justru sesudah mati. Ketika ruh berpisah dari jasad, maka kita akan memasuki kehidupan nyata. Alam barzakh yang kemudian dilanjutkan dengan alam akhirat.
Konsern kita sebaiknya di game bernama Dunia Go tadi.
Apa yang kita cari?. "Pokemon" apa yang kita latih? serta jalan dan teknik apa yang kita tempuh untuk menemukannya?
Alquran menyebut bahwa yang kita cari adalah keridhaan dan rahmat Allah. Dan, untuk mendapatkannya kita harus melatih diri ini (fisik, nafsu dan ruhani) untuk terampil menemukannya. Rahmat dan kasih sayang Allah berada di mana-mana. Baik di rumah, tempat kerja, pasar, ataupun aktifitas dunia lainnya. Temukan saa rahmat Allah di dalamnya.
Caranya?, kita harus mengikuti petunjuk dari Alquran dan Sunnah termasuk merujuk kepada para ulama terdahulu. Tanpa itu, kita akan bertemu dengan "Pokemon" peliharaan setan. Hehe...
Mudah-mudahan, game bernama Dunia Go ini bisa kita mainkan dengan baik. Di install di alam bawah sadar dan sadar kita untuk selanjutnya dimainkan dengan baik sesuai petunjuk pembuat game nya.
Dan, untuk Pokemon Go, saya kira, gak usahlah di pertahankan di smartphone kita. Bukan saja karena ia sangat menyiakan-nyiakan waktu, namun game ini berpotensi merusak pandangan kita tentang dunia ilusi.

0 Comments