Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#22 Seri Syawal 2016: Andaikan Tuhan Me-Reshuffle Malaikat

By: M. Ridwan

Publik Indonesia memang jago bicara politik. Pagi ini saja, pemilik bengkel sekaligus tukang tambal di dekat rumah saya sangat fasih menjelaskan prihal reshuffle menteri jilid II oleh Presiden Jokowi yang dilakukan kemarin. Menurutnya, keputusan Presiden menarik. Dalam pandangannya, memang ada menteri yang layak namun juga tidak layak di-reshuffle. Berbagai analisis dia sampaikan, termasuk prospek Indonesia ke depan dengan adanya resuffle ini.

Wah, rupanya si abang ini pakar politik juga ya. Mungkin karena banyak membaca dan mengikuti perkembangan politik Indonesia. Padahal bulan lalu, saya masih ingat ketika dia masih sibuk membincangkan maling yang mengambil barang jualannya, termasuk kekecewaannya karena aparat hukum justru cuek dengan laporannya. "Nilai kehilanganmu cuma 300 ribu, tidak bisa diproses", demikian kata aparat sebagaimana yang dituturkannya, dengan masyghul. Nah, kali ini, si abang justru lebih tertarik membahas politik Indonesia. Cerita maling tadi hilang. Hehe...

Tidak hanya si abang, media cetak, elektronik dan medsos juga marak dengan reshuffle ini. Jutaan komentar muncul. Tak terkecuali di laman FB saya. Sejujurnya, semakin dibaca semakin membuat bingung.  Saya bingung, karena analisis yang muncul sangat tajam dan sepertinya mengena, tepat dan benar. Artinya, warga negeri ini memang jago politik, atau minimal ompol (omong politik). I don't know...

Tentu saja, saya tidak sedang mengkritik fenomena itu. Sah-sah saja, namanya juga hak kita sebagai warga negeri ini untuk merespon keputusan pemimpinnya. Apalagi, keberadaan para menteri di Kabinet Jokowi tentu sangat menentukan keberlangsungan negara ini dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah Jokowi adalah sandaran ratusan juta penduduk Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan mereka. Sehingga, keputusan memilih dan memecat menteri juga akan berdampak kepada kehidupan berbangsa dan bernegara warga negeri ini. Wajar, kita terlibat toh, minimal mempertanyakan. Wah, kali ini saya sepeti penasehat presiden pula ya...Hehe..

Tapi, tulisan kali ini tidak menyoroti reshuffle menteri ini-lah. Lebih enak membaca komentar para analisis saja lah. Saya tidak akan membahas profil-profil mereka termasuk tidak akan mengkaitkan, misalnya,  pergantian Rizal Ramli, dengan kebijakan reklamasi pantai Jakarta yang digagas Ahok. Demikian juga saya tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk membahas prospek ekonomi dan keuangan Indonesia pasca bergantinya Pak Bambang Brojonegoro dengan Sri Muyani. Soalnya, kedua orang ini jago-jago, lho.  Mereka powerfull dan terkenal. Meski, saya berdoa, moga di era Sri Mulyani nanti,  perhatian terhadap ekonomi Islam di Indonesia juga terus digaungkan oleh Sri Mulyani yang saya baca kok sering dicurigai sebagai pengikut ekonomi liberal dan Barat oriented. Buktikan saja ya bu..

Saya tentu tidak akan lancang bertanya mengapa menteri Anies Baswedan dicopot sedangkan menteri B tidak, seperti komplain para rekan FB. "Menteri yang bagus kok dicopot namun menteri yang hanya "pamer" senyum kok tidak?'. Saya kira, teman ini sangat subjektif-lah. Soalnya, dia tidak pernah tahu bagaimana watak dan karakter asli menteri yang di reshuffle termasuk juga ia pasti tidak pernah bertemu dengan menteri yang dia komplain,.  Lucu ya, tapi inilah manusia. Ini negeri merdeka.

Saya berandai-andai saja. Bagaimana ya sekiranya Tuhan mereshuffle para malaikat?.
Misalnya, Malaikat Jibril -sang penyampai wahyu dan pimpinan malaikat- direshuffle menjadi malaikat pemberi rejeki. Atau, malaikat Malik yang beringas dan berwajah garang dipindah menjadi penjaga surga. Malaikat Ridwan yang murah senyum kemudian direshuffle menjadi penjaga neraka. Mungkinkah, senyumnya akan hilang ya...?,

Atau, malaikat Izrail dipindahkan menjadi petugas pencatat amal manusia sehingga dia bisa langsung bisa mencabut manusia yang bermaksiat. Lalu, malaikat Raqib dan Atid dipindahkan menjadi interrogator di alam kubur menggantikan Nunkar dan Nakir. Iya kan?

Pengandaian yang saya buat itu terkesan ngaco ya?. Tapi, namanya, juga blog gaya-gayaan.
Andaikan hal di atas terjadi, maka saya kira tidak ada masalah bagi Tuhan. Kitapun tdak bisa protes, komplain, atau demon kepada-Nya. Kita harus menerimanya dengan tulus dan ikhlas. Kita harus percaya kepada kehendak Tuhan. Namanya juga hamba Allah.

Syukurlah, kita pun tidak pernah tahu bagaimana mekanisme penempatan tugas para malaikat di alam langit dan dunia. Tapi, yang jelas, malaikat yang ditugaskan oleh Allah itu sangat profesional. Ketika mereka mendapat tugas, mereka loyal dan langsung kerja. Kabinet kerja yang sejati itu ya kabinet kerja malaikat ini. Mereka tidak pernah komplain, apalagi merencakan kudeta. Para malaikat tidak pintar berpolitik, meng-akali, termasuk juga tidak bisa mengintervensi dan diintervensi oleh rekan, mitra bisnis atau publik langit. Perfomance mereka terukur. Makanya, Tuhan tidak me-reshuffle mereka, logis bukan?

Anda mungkin protes. Mana mungkin membandingkan manusia dengan malaikat bukan?. Tidak apple to apple. Mungkin ada yang mengatakan bahwa wajarlah malaikat itu patuh-patuh, wong mereka tidak punya nafsu. Malakat itu adalah makhluk berjiwa statis dan stabil. Mereka tidak mudah emosional dan tendensius seperti kita manusia yang lucu-lucu dan suka pamer ini.

Adapun yang pintar ngakalin itu ya Iblis. Yang suka memprovokasi, culas dan menebarkan propoganda itu ya makhluk api ini. Dia pernah memprovokasi Adam dan Hawa dengan mengarang cerita bohong bahwa Allah melarang mereka makan buah khuldi karena Dia tidak ingin menjadikan mereka sebagai malaikat. Makanya Adam menjadi waswas dan takut.
Dia juga pernah memanas-manasi Qabil -anak Adam-. "Masak orang seganteng kami menikah dengan wanita jelek?", demikian kira-kira bahasa gaulnya yang disampaikannya. Akhirnya, Qabil membunuh saudaranya Habil demi memperebutkan seorang wanita.

Iblis itu politisi senior yang sangat kotor. Aliran machivelian sejati, kali :). The end justifies the means. Tujuan menghalalkan segala cara.
Bagi dirinya, tidak ada lawan dan kawan yang abadi. Semua kita akan menjadi lawannya jika dekat dengan Tuhan dan menjadi kawan akrabnya jika kita melawan Tuhan. Menariknya, Iblis memiliki pasukan yang juga setia kepadanya sehingga Iblis tidak pernah terdengar mereshuffle para setan, bukan?. Ada Iblis yang spesialis di pasar, di jalan raya, di pantai atau bahkan di gedung-gedung pejabat publik.  Hehe...Orang profesioal dan berperfomance tinggi biasanya tidak akan direshuffle kecuali di alam manusia.

Ya, ternyata, tradisi reshuffle ini adalah budaya manusia. Itu adalah sifat alamiah dasar manusia yang memang suka mencari teman yang setia, nyaman atau menentramkan.

Lalu, bagaimana cara mengukur sebuah reshuffle itu layak atau tidak?
Jawabannya tentu ada pada Tuhan. Manusia hanya mampu mereka-reka. Hanya sejarah yang bisa menceritakan bagaimana akhir ceritanya.

Jadi, kalau mau tahu bagaimana kualitas reshuffle kabinet Jokowi kali ini, ya biarkan saja waktu yang menjawabnya. Kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan sukses mengantarkan Indonesia ke arah kebaikan. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Reshuffle telah terjadi. Lagi pula, sekecewa dan seyakin apapun kita, maka kebersamaan dan niat tulus itu harus dikedepankan untuk membangun negeri ini.

Jangan sampai, dikarena nantinya kinerja pemerintah hasil reshuffle tidak lebih bagus, atau negeri ini tidak lebih sejahtera di tangan kita,  lalu Tuhan nanti malah mengutus malaikat-Nya untuk menggantikan kita mengurus Indonesia ini. Mungkin saja bukan?. Nah, kalau Tuhan sudah tidak percaya kepada kita, itu adalah bencana besar. Berabe bukan?.

Mudah-mudahan negeri ini dilindungi Allah SWT. Jangan ceritakan tentang reshuffle malaikat ini kepada anakanak di rumah ya. Mereka akan bingung karena sudah kadung menghapal nyanyian yang sering dijarkan di TK dan SD, judulnya "Malaikat Allah dan Tugasnya".  
Amin. Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments