Ticker

6/recent/ticker-posts

Day#21 Seri Ramadhan 2016: Lailatul Qadar: Menembus Inter-Universe Index (IUI)

By: M Ridwan

Kemarin sore, Fakultas kami mengudang tokoh muda Ekonomi Islam Indonesia. Namanya DR. Euis Amalia, dosen di Univeristas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Ya, seorang perempuan. Selain pintar, Teh Euis, -demikian kami dulu sering memanggilnya- adalah sosok perempuan enerjik, dan penulis banyak buku ekonomi Islam.  Panitia acara juga para perempuan hebat FEBI, sebut saja DR. Isnaini Harahap dan Hj. Marliyah, MA. Keren

Tema yang dibahas mengenai "Current Issues on Islamic Economics", Isu terkini terkait Ekonomi Islam. Tentunya, tema ini sangat menarik mengingat kajian dan praktik ekonomi Islam adalah trend yang sedang digandrungi dunia. Harapannya, dunia bisa menjadi lebih baik dimulai dengan perbaikan sistem dan praktik ekonomi.

Bagi kami, informasi yang diberikan oleh Bu Euis sangat berarti yaitu tentang posisi berbagai perguruan tinggi dunia termasuk para scholars-nya dalam aktifitas upload artikel di jurnal ilmiah internasional. Ternyata, artikel dari Indonesia sangat minim. Indonesia masih "kalah" dibandingkan Malaysia dalam men-submit artikel di jurnal yang terindeks Scopus, sebuah indeks bergengsi yang didambakan para ilmuawan seluruh dunia. Euis menggunakan 4 kata kunci dlam risetnya yaitu "Ekonomi Islam", "Perbankan Islam", "Lembaga Keuangan Islam" dan "Islamic Microfinance". Para penulis yang sering "nonggol" ya itu-itu saja. Katakanlah Masudul Alam Choudry, Rodney Wilson, Timur Kuran, dan akademisi dari Malaysia.

Sangat menarik, sekaligus prihatin juga sih. Soalnya, ada kecendrungan penurunan jumlah artikel-artikel internasional bernuansa Ekonomi Islam terutama dari Indonesia. Apa masalah? Kemungkinan besar terletak pada minat menulis jurnal internasional yang belum membudaya. "Ayo, segera menulis jurnal internasional" demikian pesan Bu Euis. Thanks Bu...

Kita kembali ke judul. Saya kaitkan dengan indeks ini.
Acara kemarin ditutup dengan tausiyah dari Bang Akmal, Dekan FEBI, yang juga sangat enerjik. Temanya tentang Lailatul Qadar. Ini adalah "Current Issues" di bulan Ramadhan, bukan?

Lailatul Qadar ini tema menarik.
Momentum malam ini lebih baik dari seribu. Saya menghitung di Excell, 1000/12, maka kita mendapatkan angka 83 tahun.  Andaikan kita memiliki umur efektif 60 tahun maka kita mendapatkan kebaikan selama 83x 60 tahun atau 4980 tahun. Cukup lah untuk menambah durasi masa tinggal kita di surga, ditambah dengan amal jariyah dan rahmat Allah tentunya. Itupun, kalau setiap tahun kita mendapatkannya :)

Nah, problemnya adalah apa dan bagaimana mendapatkan Lailatul Qadar itu?

Saya menyebut Lailatul Qadar itu adalah momen manusia untuk terdaftar di Indeks Lintas Semesta (Inter Universe Index) yaitu ukuran keberhasilan seseorang men-submit jurnal Ramadhan-nya untuk dinilai di hadapan Allah dan penghuni semesta, yaitu para malaikat. Malaikat yang akan turun ke bumi di malam itu bertugas memverifikasi "jurnal-jurnal Ramadhan" kita, bukan?. Apakah layak atau tidak  dipersembahkan di hadapan Allah. Trilyunan Malaikat turun dan parade, tuh..."Jumlahnya melebihi pasir di bumi", demikian hadis Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah.

Sehingga, terdafatr di indeks ini pastilah sangat bergengsi.  Rasakan nikmatnya disapa malaikat, Salamun Alaikum, Selamat buatmu. Sejahtera buat negerimu.

Maka, jangan sepele dengan Lailatul Qadar. Nilainya mahal.
Sayangnya, laporan tentang Indeks Lintas Semesta atau Lailatul Qadar ini tidak di-publish, ya. Tidak ada website, bukan? Sehingga tidak bisa diketahui negara-negara mana saja yang memiliki penduduk terbanyak mendapatkan Lailatul Qadar. Tidak juga diketahui nama-nama manusia yang terindeks di dalamnya. Kalau indeks ini dipublish,enak juga ya?.

Namun, tentu saja kita memiliki semacam "clues" atau petunjuk bagaimana terindeks di Lailatul Qadar.

Misal, Rasulullah bersiap-siap menyambut malam ini dengan memperbanyak ibadahnya di akhir-akhir Ramadhan. Terbayang gak banyaknya ibadah Rasul?. Dalam kondisi normal saja, beliau beribadah sampai bengkak kakinya. Istighfarnya tak pernah berhenti.  Bagaimana pula ketika menyambut Lailatul Qadar ini. Silahkan saja dihitung.


Beliau ini Nabi, lho. Sudah dijamin masuk surga, bahkan sudah melihat surga dan neraka. Beliau adalah sosok VVVVVIP di hadapan Allah. Dalam keadaan demikian saja, beliau masih terus beristighfar dan beribadah maksimal kepada Allah. Lalu kita?, Saya langsung tembak nih..

Kalau bicara tentang kondisi manusia modern, seperti kita-kita ini, memang cukup problematis dan dilematis.
Problemnya, manusia seperti kita ini bawaannya malas, sih. Sukanya serba instan. Maunya dapat Lailatul Qadar dengan upaya yang minimal. Upaya sekecil-kecilnya, namun mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Ramadhan yang dipilih adalah Paket Hemat, sebagaimana di artikel sebelumnya. Malahan bisa jadi semakin minimalis di penghujung akhir. Menghadapi Syndrom Idul Fitri Effects. THR yang  belum turun-lah, baju belum dibeli-lah, kendaraan yang belum diganti-lah dan segala macamnya.  Ayo, ngaku? Hehe, silahkan protes, kalau Anda tidak setuju.

Bahkan, seringnya, Lailatul Qadar ini berakhir di meja diskusi semata. Dipahami konsep, definisi dan teknisnya namun sering tidak diperjuangkan . Mungkin sudah capek ya?. Hari-hari Ramadhan sudah sedemikian beratkah?. 

Terdaftar di IUI itu bukan sekedar bergengsi, tapi memiliki dampak langsung dalam kehidupan ini. Keberhasilan terdaftar di IUI di malam Lailatul Qadar akan memberikan pengaruh luar biasa bagi seorang manusia. Hidupnya akan diberkahi, dan keberadaannya di dunia menjadi pembaawa kebaikan. Semakin banyak orang yang mendapat keberkahan di malam ini, maka semakin baiklah sebuah negeri. Saya membayangkan ada tim Ru'yatul Lailatul Qadar negeri ini. Bukan hanya tim Ru'yatul Hilal menjelang Ramadhan dan Idul Fitri ya..
Kita yakin, banyak kebaikan akan muncul dari negeri ini. Namun, kebaikan ini hanya bisa dimunculkan dan dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar baik. Orang itu harus tercerahkan dan ter-barukan (renewable). Kayak energi juga, tuh. Sehingga, momen Lailatul Qadar ini menjadi penting. Karyawan dan bos di perusahaan harus mendapatkan keberkahan malam ini. Presiden dan para menterinya harus mendapatkannya. Rakyat dan pemimpin, suami isteri, anak, laki-laki dan perempuan ini harus mendapatkan Lailatul Qadar. Sesuatu banget, sih.


Ramadhan tanpa mendapatkan Lailatul Qadar itu sama saja dengan gaya-gaya.  Meminjam istilah sahabat saya, Yafiz.  
Oke, deh.
Kita masih memiliki 9 malam lagi untuk terdaftar di Inter-Universe Index. Persiapkan jurnal dan artikel Anda. Perbanyak ibadah, bersedakah dan istighfar.  Dan, tentunya, gunakan bahasa Inter-Semesta yaitu Alquran. Mudah atau sulitkah? Insyallah, Wallahu a'lam.


Post a Comment

0 Comments