Posts

Nestapa Investasi Bodong Ala Ponzi dan Investasi Kripto: Alarm Keras bagi Ekonomi Syariah

Image
Oleh: M. Ridwan Tragis. Padahal baru awal tahun 2026. Beginilah kesan yang penulis tangkap dari kasus investasi bodong yang kembali mengguncang masyarakat. Kali ini, hal yang paling menyakitkan bukan sekadar kerugian materi, melainkan rusaknya kepercayaan masyarakat terhadap label “syariah” dan semangat investasi berbasis nilai. Dugaan praktik investasi bodong ala skema ponzi- kembali menerpa Indonesia. Perusahaan yang katanya berbasis Syariah -silahkan cek namanya- dilaporkan ke polisi oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK). Bersamaan dengan itu pula, muncul pula berita kerugian investor ritel di sektor kripto -yang jumlahnya ditaksir 300 milyraran- menjadi alarm keras bagi sistem ekonomi dan moneter syariah di Indonesia. Masalahnya bukan pada syariah atau teknologi kripto itu sendiri, melainkan pada cara keduanya dipraktikkan dan dipromosikan. Syariah yang Direduksi Menjadi Alat Pemasaran Dalam berbagai kesaksian korban yang beredar di ruang publik, perusahaan diduga menjalankan pola peng...

Wak Lontong dan Maaf-nya

Image
   By: M. Ridwan Wak Lontong membuat kehebohan lagi di kampung. Pasalnya, ketika Idul Fitri datang, dia termasuk orang pertama yang mendatangi rumah penduduk. Untuk meminta meminta maaf tentunya. Anehnya, bukan diterima dengan baik, para tetangga justru banyak yang menghindar. Apa sebab? Dalam pemahaman Wak Lontong, meminta maaf harus disertai dengan keterangan atas kesalahan apa yang dilakukan. "Masak aku meminta maaf kepada seseorang sedang dia sendiri tidak tahu apa kesalahanku padanya," demikian argumen Wak Lontong. Logis kelihatannya. Tapi, berabe dalam praktiknya.    Misalnya, ia mendatangi rumah Pak Koplo, juragan sukses di kampungnya. Awalnya, Pak Koplo senang dengan kehadiran tamunya ini. Setelah bersalaman, Wak Lontong meminta maaf kepada Pak Koplo dan membuat pengakuan bahwa dia selalu cemburu kepadanya.   "Aku kira selama ini engkau memelihara tuyul dan minta bantuan dukun untuk pesugihan, termasuk tak membayarkan kesejahteraan kary...

Wak Lontong dan Rendang Daging

Image
 By: M. Ridwan Wak Lontong masih bersedih. Kematian sohibnya, Wak Bedol, di akhir Ramadhan, membuatnya yakin bahwa Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuk hidupnya. Meski ia tak tahu seperti apa.  Wak Bedol meninggalkan 3 orang anak yatim piatu yang kini menjadi tanggung jawab Wak Lontong. Soalnya, isteri Wak Bedol juga sudah lama meninggal. Wak Bedol pun tak memiliki saudara dan teman akrab, kecuali Wak Lontong ini. Para jiran tetangga bersilaturahim ke rumah Wak Lontong. Mencoba menghibur dan menguatkannya. Wak Lontong menyuguhi tamunya dengan lontong rendang daging yang dimasaknya sendiri. Perkara masak memasak, Wak Lontong memang ahlinya. Sesuai dengan namanya. :) Anehnya, ketika para tamu sedang asyik makan. Wak Lontong tidak ikut serta. Alasannya, sedang berpuasa. Para tamu kaget.  "Puasa pada 1 Syawal haram hukumnya" kata sang ustaz yang hadir pagi itu.  "Meski Wak sangat ingin dekat dengan Tuhan, tapi Tuhan juga memiliki aturan yang humanis dan sayang kepada ...

Wak Lontong dan Ramadhan-nya

Image
  By: M. Ridwan Wak Lontong, demikian orang memanggilnya. Mungkin karena terlalu sering mengomentari orang dengan kata-kata "Memang Lontong dia tu", maka akhirnya orang memberinya gelar dengan "Wak Lontong". Terkena karma, sepertinya. Anehnya,, dia suka dan senyum-senyum saja. Wak Lontong mengakui bahwa dirinya bukanlah muslim yang sejati. Katanya, sholatku banyak tinggal dan akhlakku pun tak baik-baik amat. Masih hobby ghibah dan sesekali memfitnah. "Tapi aku cepat tobat, lho," katanya membela diri.  Kalau bersedekah, dia pun mengakui sekedar saja. Selalu memilih lembaran ribuan terkecil di didompetnya. Ia sangat takut salah memegang uang berwarna biru atau merah ketika kotak infaq lewat di depan matanya. "Sedekahku tidak banyak membantu" katanya suatu hari. Selalu ada alasan. Ketika Ramadhan datang, Wak Lontong termasuk orang yang menyambut dengan biasa-biasa saja. Tidak terlalu gembira, namun tidak juga menolaknya. Seperti kebanyakan orang, di...

Digital Happiness or Digital Satisfaction?

Image
By: M. Ridwan    “In a world full of digital memories, people forget to make real ones" -- Meeta Ahluwalia Sejenak kita tinggalkan hebohnya Amerika dengan tingkah Trump yang tak rela kursi jabatannya diserahkan kepada Biden. Apalagi ketika pendukungnya menduduki Capitol Hill dan melakukan aksi anarkis, maka imej Amerika sebagai negara paling demokratis di dunia tak pelak lagi, tercoreng. Ternyata Amrik hanya sportif di film-film saja, bukan? :) . Sampai-sampai Twitter akhirnya mem-block akun mantan presiden nyentik ini. Tweetnya banyak me-rusak sih :) Ada baiknya kita membahas topik kebahagiaan atau happiness. Soalnya sudah masuk tahun 2021. Kata orang, kita harus punya resolusi. Dan, resolusi yang terbaik tentunya, menggapai hidup yang lebih bahagia. Setuju bukan? Sudah ada beberapa tulisan di blog ini yang membahas tentang kebahagiaan. Ada terkait pseudo happiness, index kebahagiaan, dan lain sebagainya.   Tapi, kali ini saya tertarik membahas tentang digital ...

The World After Corona: Seribu Ahwal, Sejuta Tafakkur?

Image
By: M. Ridwan “What you seek is seeking you.” ― Mawlana Jalal-al-Din Rumi Ketika tulisan ini dibuat, 19 April, Indonesia sedang bertarung mengalahkan Covid-19 dan belum memasuki masa puncak pandemi. Artinya, diperlukan beberapa bulan mendatang supaya virus ini terkendali dan hengkang dari negeri pertiwi.  Konsekuensinya, kesabaran warga negeri ini diharapkan bertahan meski dihantui angka dan data, entah itu korban jiwa, statistik ekonomi yang anjlok, atau defisit negara di depan mata.   Tak hanya Indonesia, Covid-19 lebih dahulu membungkam negara lain di sana, dengan aksi yang tak kalah ganas. Si virus tak memilih negara, mau terkebelakang atau adikuasa, meyakini Tuhan atau tidak, semua mendapat giliran, menjadi korban.  Pemenangnya?, mungkin siapa yang berhasil “melandaikan” kurva penyebaran. Jika tercapai, negara yang bersangkutan bolehlah kembali ke kehidupan sedia kala, meski mungkin serangan ke dua bisa saja terjadi. Atau reinfeksi dan pasie...

The World After Corona: Mewaspadai Tuhan yang Mungkin “Hilang”

Image
By: M. Ridwan “When you can see God in small things, you'll see God in all things.” ― Wise Word- To the point saja.  Covid-19 sedang mewabah. Ikhtiar sudah dilakukan manusia. Lockdown, social distancing, sampai kepada pembuatan antivirus. Tinggallah masa menunggu. Harap-harap cemas. Antara khauf dan raja’ kata para ustaz.  Soalnya, meski pengidapnya bisa sembuh tapi sebaran wabahnya begitu massif. Siapa yang tak takut. Lalu, katakanlah vaksin anti Covid-19 ditemukan, dalam waktu 3-6 bulan mendatang –itu doa kita pastinya-, lalu, ada pertanyaan, saya kira cukup menggelitik,  ”Seperti apa peran Tuhan di hati manusia ketika wabah Corona ini SIRNA, di muka bumi?. “Akankah Dia KEMBALI disembah dan dihargai oleh manusia sebagai Tuhan, dengan penuh keiklasan?. “Atau, apakah mungkin keberadaan Tuhan justru akan “hilang?, di hati penduduk bumi?” Maaf, jangan salah arti dengan pertanyaan "konyol" di atas. Setidaknya ada beberapa sebaba meng...