By:
M. Ridwan
“What
you seek is seeking you.”
―
―
Konsekuensinya,
kesabaran warga negeri ini diharapkan bertahan meski dihantui angka dan data,
entah itu korban jiwa, statistik ekonomi yang anjlok, atau defisit negara di
depan mata.
Tak
hanya Indonesia, Covid-19 lebih dahulu membungkam negara lain di sana, dengan
aksi yang tak kalah ganas. Si virus tak memilih negara, mau terkebelakang atau
adikuasa, meyakini Tuhan atau tidak, semua mendapat giliran, menjadi korban.
Pemenangnya?,
mungkin siapa yang berhasil “melandaikan” kurva penyebaran. Jika tercapai, negara
yang bersangkutan bolehlah kembali ke kehidupan sedia kala, meski mungkin serangan
ke dua bisa saja terjadi. Atau reinfeksi dan pasien sembuh terjangkit Kembali.
Duh, dunia yang begitu rentannya.
Kita
tak tahu, seperti apa dunia mencatat pertempuran manusia versus virus ini, 50
atau 100 tahun dari sekarang. Akankah ia ditulis dengan tinta emas karena manusia
menang atas sang virus?, atau sebaliknya, ditulis dengan tinta merah karena manusia
KO dan jatuh terbungkam. Wallahu a’lam.
Namun,
jika doa kita terkabul, ketika vaksin anti Covid-19 ditemukan, lets say,
6-12 bulan mendatang maka cerita dunia bisa saja berbeda. Vaksin tersebut akan dipakai
untuk kesembuhan pasien dunia, memberikan mereka imunitas dan rasa aman meski
mungkin hanya sementara.
Jika
itu terjadi, apakah The Fight against the Covid-19 ini akan game over?
Akankah kisah tragis derita akibatnya, langsung dilupakan seiring denyut
kehidupan yang kembali normal?
Hmm,
bisa saja kisah Covid-19 terjadi sesederhana itu, bak film, dimana ada awal dan
berakhir, berdurasi 1 atau 2 jam. Tergantung filmnya.
Covid-19
juga bak film juga.
Awalnya
muncul tak diduga, dibawa oleh carrier entah darimana, lalu menginfeksi seantaro
dunia, korban jiwa berjatuhan tak terkira.
Dalam
film, biasanya ada cerita para pahlawan, entah itu para medis atau no body yang
tiba-tiba menjadi tokoh utama. Mereka berperan dalam keseluruhan cerita. Tak lupa,,
ada juga tokoh antagonis berbahaya yang biasanya bertindak demi keuntungan
pribadi semata. Menangguk keuntungan di suasana keruh. Penonton biasanya sangat
kesal dengan mereka ini.
Tapi,
ujung cerita, ya tetap berakhir bahagia atau happy ending, bukan? Denger-denger,
para produse film Holywood, merassa pantang memberikan adegan akhir berupa
kesedihan bagi penonton. “Karena mereka telah membayar,” demikian argumen mereka.
Wabah
Covid-19 ini tentu bukan film. Ini benar-benar nyata. Durasinya lebih dari dua
jam.
Meski
saya tidak sedang menyederhanakan masalah. Namun, lakon dan cerita film
biasanya tak jauh berbeda dengan dunia nyata. Ada peran pahlawan dan pecundang
juga. Ada yang membuat kesal, adapula yang menimbulkan haru dan derai air mata.
Bagi
saya, sesederhana apapun cerita Covid-19 ini, atau sedahsyat apapun ia nanti, namun
yang menarik tentu adanya DINAMIKA di antara cerita AWAL dan AKHIR.
Dinamika
ANTARA ini lah yang melahirkan AHWAL dan TAFAKKUR, seperti judul di atas.
Dimulai
dari ahwal…
Dalam
Bahasa Arab, ahwal adalah bentuk jamak dari kata “hal”. Artinya keadaan.
Kata ini telah menjadi Bahasa Indonesia. Jadi orang Indonesia pasti akrab
dengan kata hal.
Perlu
saya konfirmasi bahwa penggunaan kata ahwal disini, bukan seperti yang dipahami
para pegiat sufistik berupa keadaan spiritual menuju Tuhan, yang dilalui dengan
level tertentu. Saya tidak berani mengkaji itu. Silahkan tanyakan ke para ahli.
Kalaupun ada yang mengkait-kaitkan, silahkan saja.
Pengertian
ahwal yang dimaksud di sini sederhana saja, yaitu kondisi manusia ketika Covid-19
mendera. Ada ahwal berupa rasa sedih dan teteasan air mata, ada ahwal berupa
kepanikan, ada juga ahwal berupa semangat berkorban nan penuh ikhlas, atau
ahwal membantu sesama.
Namun,
ada pula ahwal negatif. Berbasis angkara murka atau jiwa yang kering hampa.
Sepertinya, ini yang paling banyak terlihat. Jiwa merana, terdampak Covid-19,
katanya.
Di
India, seorang Ibu tega menceburkan 5 anaknya ke sungai Gangga, tak sanggup
menanggung derita lapar karena lockdown.
Di
Italia, para dokter menangis, menyaksikan pasien yang meregang nyawa, dan
mereka harus memilih siapa yang harus meninggal karena alat tak tersedia.
Mereka tak mampu berbuat apa-apa. Hilangnya nyawa pasien tanpa mampu mereka
tolong adalah derita buat mereka.
Di
sebuah negara adikuasa, ada yang presiden sibuk menyalahkan negara lain bahkan mengembargo
bantuan ke organisasi Kesehatan Dunia. Alasanya simple, karena mereka dianggap
gagal mengantisipasi wabah. Padahal, mungkin saja saja, justru sang presiden
itu yang lambat menyikapinya.
Di
Banten, ada yang perawat yang terusir dari tempat kos-nya karena dikhawatirkan
menularkan virus. Ada pula daerah yang menolak jenazah korban Covid-19
dikuburkan di tempat mereka kendati tak bukti jenazah akan menularkan virus.
Tragisnya,
ada pula negara yang melakukan uji coba rudal di tengah pandemi dan pamer peperangan
dan konflik. Narsis banget. Anehnya manusia.
Alhasil,
ada jutaan ahwal antara cerita AWAL dan AKHIR Covid-19 ini. Jumlahnya mungkin
sebanyak manusia di bumi. Ahwal ini lahir dari pikiran, jiwa dan hati manusia. Terintegrasi menjadi satu. Meski, mungkin berbeda
antara satu manusia dengan lainnya, namun, satu ahwal bisa mempengaruhi ahwal
orang lain.
Saya
yakin, sejarah ke depan akan banyak ditulis karena banyaknya ahwal ini. Manusia
memilih ahwal mana yang diminatinya, apakah ahwal positif atau negatif. Lalu,
ia memilih pula menjadi sosok apa di tengah pandemi, menjadi pahlawan penyelamat
atau pecundang nan berputus asa. Atau mungkin menjadi sosok serakah mencari untung.
Kesempatan dalam kesempitan.
Selain
ahwal ada pula tafakkur. Aktifitas menggunakan pikiran. Bolehlah dipakai kata merenung,
intropeksi dan refleksi diri. Maksudnya sama saja.
Di
saat ini kita yakin, jutaan tafakkur sedang terjadi. Suka atau tidak, sadar
atau tidak, manusia dipaksa merenungi diri, berupaya mengorek rahasia di balik wabah.
Menerka dan bertanya menggunakan semua kalimat tanya, what, when, whom, why dan
how?
Apakah
ini azab, musibah atau ujian? Kapan ia berakhir? Siapa yang rentan terkena? Siapa
yang harus bertanggung jawab? Berapa kerugian social ekonomi? Bagaimana menghentikannya?, and so on. Seribu
satu pertanyaan pasti ada. Jawaban pasti tak selalu sama.
Kata
cerdik cendikia, hanya Nabi dan wali terpilih oleh Tuhan yang memahami rahasia peristiwa
termasuk Covid-19 ini. Sayangnya, manusia berkategori wali ini sedikit untuk
megatakan tak terlihat mata, karena mereka tak pernah mau mengekspose diri
seperti kita-kita. Adapun yang terbanyak adalah manusia berlevel newbie
mencoba menebak dan menerka. Membeberkan berbagai pelajaran dan hikmah. Jangan
sombong pula tak mau mendengarkan mereka.
Alhasil?
Yah,
seperti kata para ustaz, nikmati saja ahwal yang muncul, ketika pandemi ini.
Tuhan memang sedang memberi waktu kepada manusia dengan keheningan, kesendirian
dan mungkin kekosongan jiwa. Ia sedang membiarkan manusia merasakan gemuruh
jiwa yang berteriak, bahkan menangis dengan harapan manusia akhirnya
menyapa-Nya. Ia juga ingin manusia mendengarkan derita batin sesama, jangan-jangan
doa mereka terzalim lah yang membuat Tuhan murka.
Nikmati
pula segala tafakkur di tengah kondisi ini. Kendati tafakkur yang dilakukan pun
tak pakai pattern atau pola tertentu. Tak perlu habis waktu mendiskusikannya. Tafakkur
saja dengan aksi nyata.
Syukur-syukur,
ada kilatan langit masuk ke hati. Ada divine flashes atau sinar pencerahan
yang didapat.
Jika
tidak?
Ya,
sudah.
Tak
usah berpikir macem-macem. Tunggu saja virusnya terputus dan meredup habis, Life
must go on. Bersatu dan berpikir positif saja.
Have
a nice day. Selamat menikmati ahwal dan bertafakkur ria.


0 Comments