Ticker

6/recent/ticker-posts

The World After Corona: Seribu Ahwal, Sejuta Tafakkur?


By: M. Ridwan

“What you seek is seeking you.”
Mawlana Jalal-al-Din Rumi

Ketika tulisan ini dibuat, 19 April, Indonesia sedang bertarung mengalahkan Covid-19 dan belum memasuki masa puncak pandemi. Artinya, diperlukan beberapa bulan mendatang supaya virus ini terkendali dan hengkang dari negeri pertiwi. 

Konsekuensinya, kesabaran warga negeri ini diharapkan bertahan meski dihantui angka dan data, entah itu korban jiwa, statistik ekonomi yang anjlok, atau defisit negara di depan mata.  

Tak hanya Indonesia, Covid-19 lebih dahulu membungkam negara lain di sana, dengan aksi yang tak kalah ganas. Si virus tak memilih negara, mau terkebelakang atau adikuasa, meyakini Tuhan atau tidak, semua mendapat giliran, menjadi korban. 

Pemenangnya?, mungkin siapa yang berhasil “melandaikan” kurva penyebaran. Jika tercapai, negara yang bersangkutan bolehlah kembali ke kehidupan sedia kala, meski mungkin serangan ke dua bisa saja terjadi. Atau reinfeksi dan pasien sembuh terjangkit Kembali. Duh, dunia yang begitu rentannya.

Kita tak tahu, seperti apa dunia mencatat pertempuran manusia versus virus ini, 50 atau 100 tahun dari sekarang. Akankah ia ditulis dengan tinta emas karena manusia menang atas sang virus?, atau sebaliknya, ditulis dengan tinta merah karena manusia KO dan jatuh terbungkam. Wallahu a’lam.

Namun, jika doa kita terkabul, ketika vaksin anti Covid-19 ditemukan, lets say, 6-12 bulan mendatang maka cerita dunia bisa saja berbeda. Vaksin tersebut akan dipakai untuk kesembuhan pasien dunia, memberikan mereka imunitas dan rasa aman meski mungkin hanya sementara.

Jika itu terjadi, apakah The Fight against the Covid-19 ini akan game over? Akankah kisah tragis derita akibatnya, langsung dilupakan seiring denyut kehidupan yang kembali normal?
Hmm, bisa saja kisah Covid-19 terjadi sesederhana itu, bak film, dimana ada awal dan berakhir, berdurasi 1 atau 2 jam. Tergantung filmnya.  

Covid-19 juga bak film juga.

Awalnya muncul tak diduga, dibawa oleh carrier entah darimana, lalu menginfeksi seantaro dunia, korban jiwa berjatuhan tak terkira.

Dalam film, biasanya ada cerita para pahlawan, entah itu para medis atau no body yang tiba-tiba menjadi tokoh utama. Mereka berperan dalam keseluruhan cerita. Tak lupa,, ada juga tokoh antagonis berbahaya yang biasanya bertindak demi keuntungan pribadi semata. Menangguk keuntungan di suasana keruh. Penonton biasanya sangat kesal dengan mereka ini.

Tapi, ujung cerita, ya tetap berakhir bahagia atau happy ending, bukan? Denger-denger, para produse film Holywood, merassa pantang memberikan adegan akhir berupa kesedihan bagi penonton. “Karena mereka telah membayar,” demikian argumen mereka.

Wabah Covid-19 ini tentu bukan film. Ini benar-benar nyata. Durasinya lebih dari dua jam.

Meski saya tidak sedang menyederhanakan masalah. Namun, lakon dan cerita film biasanya tak jauh berbeda dengan dunia nyata. Ada peran pahlawan dan pecundang juga. Ada yang membuat kesal, adapula yang menimbulkan haru dan derai air mata. 

Bagi saya, sesederhana apapun cerita Covid-19 ini, atau sedahsyat apapun ia nanti, namun yang menarik tentu adanya DINAMIKA di antara cerita AWAL dan AKHIR.  
Dinamika ANTARA ini lah yang melahirkan AHWAL dan TAFAKKUR, seperti judul di atas.  

Dimulai dari ahwal…
Dalam Bahasa Arab, ahwal adalah bentuk jamak dari kata “hal”. Artinya keadaan. Kata ini telah menjadi Bahasa Indonesia. Jadi orang Indonesia pasti akrab dengan kata hal.

Perlu saya konfirmasi bahwa penggunaan kata ahwal disini, bukan seperti yang dipahami para pegiat sufistik berupa keadaan spiritual menuju Tuhan, yang dilalui dengan level tertentu. Saya tidak berani mengkaji itu. Silahkan tanyakan ke para ahli. Kalaupun ada yang mengkait-kaitkan, silahkan saja.

Pengertian ahwal yang dimaksud di sini sederhana saja, yaitu kondisi manusia ketika Covid-19 mendera. Ada ahwal berupa rasa sedih dan teteasan air mata, ada ahwal berupa kepanikan, ada juga ahwal berupa semangat berkorban nan penuh ikhlas, atau ahwal membantu sesama.

Namun, ada pula ahwal negatif. Berbasis angkara murka atau jiwa yang kering hampa. Sepertinya, ini yang paling banyak terlihat. Jiwa merana, terdampak Covid-19, katanya.

Di India, seorang Ibu tega menceburkan 5 anaknya ke sungai Gangga, tak sanggup menanggung derita lapar karena lockdown.

Di Italia, para dokter menangis, menyaksikan pasien yang meregang nyawa, dan mereka harus memilih siapa yang harus meninggal karena alat tak tersedia. Mereka tak mampu berbuat apa-apa. Hilangnya nyawa pasien tanpa mampu mereka tolong adalah derita buat mereka.

Di sebuah negara adikuasa, ada yang presiden sibuk menyalahkan negara lain bahkan mengembargo bantuan ke organisasi Kesehatan Dunia. Alasanya simple, karena mereka dianggap gagal mengantisipasi wabah. Padahal, mungkin saja saja, justru sang presiden itu yang lambat menyikapinya.

Di Banten, ada yang perawat yang terusir dari tempat kos-nya karena dikhawatirkan menularkan virus. Ada pula daerah yang menolak jenazah korban Covid-19 dikuburkan di tempat mereka kendati tak bukti jenazah akan menularkan virus. 

Tragisnya, ada pula negara yang melakukan uji coba rudal di tengah pandemi dan pamer peperangan dan konflik. Narsis banget. Anehnya manusia.

Alhasil, ada jutaan ahwal antara cerita AWAL dan AKHIR Covid-19 ini. Jumlahnya mungkin sebanyak manusia di bumi. Ahwal ini lahir dari pikiran, jiwa dan hati manusia.  Terintegrasi menjadi satu. Meski, mungkin berbeda antara satu manusia dengan lainnya, namun, satu ahwal bisa mempengaruhi ahwal orang lain.

Saya yakin, sejarah ke depan akan banyak ditulis karena banyaknya ahwal ini. Manusia memilih ahwal mana yang diminatinya, apakah ahwal positif atau negatif. Lalu, ia memilih pula menjadi sosok apa di tengah pandemi, menjadi pahlawan penyelamat atau pecundang nan berputus asa. Atau mungkin menjadi sosok serakah mencari untung. Kesempatan dalam kesempitan.

Selain ahwal ada pula tafakkur. Aktifitas menggunakan pikiran. Bolehlah dipakai kata merenung, intropeksi dan refleksi diri. Maksudnya sama saja.

Di saat ini kita yakin, jutaan tafakkur sedang terjadi. Suka atau tidak, sadar atau tidak, manusia dipaksa merenungi diri, berupaya mengorek rahasia di balik wabah. Menerka dan bertanya menggunakan semua kalimat tanya, what, when, whom, why dan how?

Apakah ini azab, musibah atau ujian? Kapan ia berakhir? Siapa yang rentan terkena? Siapa yang harus bertanggung jawab? Berapa kerugian social ekonomi?  Bagaimana menghentikannya?, and so on. Seribu satu pertanyaan pasti ada. Jawaban pasti tak selalu sama.

Kata cerdik cendikia, hanya Nabi dan wali terpilih oleh Tuhan yang memahami rahasia peristiwa termasuk Covid-19 ini. Sayangnya, manusia berkategori wali ini sedikit untuk megatakan tak terlihat mata, karena mereka tak pernah mau mengekspose diri seperti kita-kita. Adapun yang terbanyak adalah manusia berlevel newbie mencoba menebak dan menerka. Membeberkan berbagai pelajaran dan hikmah. Jangan sombong pula tak mau mendengarkan mereka.

Alhasil?

Yah, seperti kata para ustaz, nikmati saja ahwal yang muncul, ketika pandemi ini. Tuhan memang sedang memberi waktu kepada manusia dengan keheningan, kesendirian dan mungkin kekosongan jiwa. Ia sedang membiarkan manusia merasakan gemuruh jiwa yang berteriak, bahkan menangis dengan harapan manusia akhirnya menyapa-Nya. Ia juga ingin manusia mendengarkan derita batin sesama, jangan-jangan doa mereka terzalim lah yang membuat Tuhan murka.

Nikmati pula segala tafakkur di tengah kondisi ini. Kendati tafakkur yang dilakukan pun tak pakai pattern atau pola tertentu. Tak perlu habis waktu mendiskusikannya. Tafakkur saja dengan aksi nyata.
Syukur-syukur, ada kilatan langit masuk ke hati. Ada divine flashes atau sinar pencerahan yang didapat.   

Jika tidak?
Ya, sudah.

Tak usah berpikir macem-macem. Tunggu saja virusnya terputus dan meredup habis, Life must go on. Bersatu dan berpikir positif saja.

Have a nice day. Selamat menikmati ahwal dan bertafakkur ria.


Post a Comment

0 Comments