By: M. Ridwan
“In a world full of digital memories, people forget to make real ones"
Sejenak kita tinggalkan hebohnya Amerika dengan tingkah Trump yang tak rela kursi jabatannya diserahkan kepada Biden. Apalagi ketika pendukungnya menduduki Capitol Hill dan melakukan aksi anarkis, maka imej Amerika sebagai negara paling demokratis di dunia tak pelak lagi, tercoreng. Ternyata Amrik hanya sportif di film-film saja, bukan? :). Sampai-sampai Twitter akhirnya mem-block akun mantan presiden nyentik ini. Tweetnya banyak me-rusak sih :)
Ada baiknya kita membahas topik kebahagiaan atau happiness. Soalnya sudah masuk tahun 2021.
Kata orang, kita harus punya resolusi. Dan, resolusi yang terbaik tentunya, menggapai hidup yang lebih bahagia. Setuju bukan?
Sudah ada beberapa tulisan di blog ini yang membahas tentang kebahagiaan. Ada terkait pseudo happiness, index kebahagiaan, dan lain sebagainya. Tapi, kali ini saya tertarik membahas tentang digital happiness.
Apa itu DIGITAL HAPPINESS?.
Ini bukan nama perusahaan startup di Bandung itu ya. Istilah ini made in dewe saja.
Gambarannya begini.
Digital happiness adalah kebahagiaan berbasis digital atau kebahagiaan yang disebabkan media digital atau diperoleh dari penggunaan perangkat digital. Kebahagiaannya diwujudkan dalam ekspresi joyfull, plong, nyaman atau nikmat dan masuk ke dalam hati serta bertahan lama.
Jika tidak bertahan lama?,
Itu disebut SATISFACTION atau KEPUASAN semata, bukan kebahagiaan. Karena, yang
dipuaskan hanyalah panca indera, sifatnya fisikal dan sementara. Dari abad ke abad, membedakan kedua hal ini selalu menjadi masalah manusia. Ada yang mengejar kepuasan dengan harapan akan berakhir dengan kebahagiaan. Padahal, kepuasan yang dirasakan manusia sedikit sekali berkorelasi dengan kebahagiaan manusia. Jadi banyak manusia yang salah tujuan.
Nah, itu pula masalahnya dalam dunia digital.
Kebanyakan manusia mungkin saja beranggapan bahwa apa yang
didapat dari kesenangan di depan perangkat digital adalah sebuah kebahagiaan,
padahal bisa jadi itu hanya sebuah kesenangan temporer semata.Nyenengi mata, telinga semata. Termasuk senang melihat angka digital di rekening bank lho..:)
Satisfaction memiliki SATURATION POINT, atau TITIK JENUH. Bahasa ekonominya, akan terjadi The Law of Diminishing Marginal Utility dimana konsumsi MENINGKAT namun KEPUASAN marginal justru menurun. Ketika ini terjadi, apapun produk digital yang dikonsumsi tidak lagi memberikan kepuasan apalagi kebahagiaan. Produktifitas menurun. Ujungnya, kualitas hidup pasti turun.
So, masalah kita tentu bagaimana menjadi DIGITAL SATISFACTION menjadi DIGITAL HAPPINESS?, iya kan? Bagimana mendapatkan TRUE HAPPINESS, yaitu kebahagiaan sejati via perangkat digital. Bukan, kebahagiaan SEMU atau PSEUDO HAPPINESS yang pernah diungkap di tulisan sebelumnya.
Detailnya mungkin begini....
Remaja atau ibu-ibu bahkan bapak-bapak, yang menari dan menyanyi di depan
gadget, atau wara wiri di media sosial, bagaimana menjadikan mereka bahagia
seutuhnya?. Mendapatkan makna hidup dan teriakan "eureka" "Aku mendapatkan sebuah pencerahan, kearifan dan sebagainya".
Atau, seseorang yang mengakses berbagai aplikasi e-commerce
atau media sosial, bagaimana mendapatkan kebahagian di hati?. Bisakah mereka bahagia
melihat berbagai produk e-commerce tanpa memasukkannya ke keranjang dan tidak jadi
dibeli? :).
Bagaimana menjadikan para developer aplikasi merasa bahagia
dengan pekerjaannya atau membuat operator digital bangga dalam hidupnya meski harus terjaga 24 jam melayani dan menghubungkan banyak orang. Itu sesuatu banget, bukan?
Bagaimana menjadikan perusahaan teknologi informasi memiliki
misi suci untuk membantu masyarakat dan bukan sekedar taking profit?. Sharing activity kan?
Bagaimana pula menjadikan orang yang setiap saat mengakses berita digital, gambar dan film digital, mendapatkan kebahagian yang meningkat dari hari ke hari? Tanpa tekanan atau depresi hidup karena simpang siurnya informasi digital dan sumber berita?. Ada ribuan pertanyaan “bagaimana” yang harus dijawab.
Ini tentu pertanyaan yang tidak gampang untuk dijawab apalagi jalan keluarnya.
Bukan pula dijawab dengan cara pesimis, misalnya
meninggalkan penggunaan gadget atau lari ke suatu tempat yang tidak memiliki
akses internet, di gunung atau goa misalnya. Atau, melarang anak dan remaja
menghindarinya, bla bla,,,atau saabrek aksi simplistis, menyederhanakan masalah lainnya.
Saya kira, kemampuan manusia untuk beradaptasi adalah berita baiknya.
Maka, beradaptasi saja dengan segala perubahan jaman yang kali ini
didominasi aspek digital. Jangan ditolak, tingkatkan saja pengetahuan dan
kemampuan teknis digital kita. Kita tak tahu bagaimana jaman ini bergerak ke
depan. Seperti dunia digital yang juga tak pernah diprediksi seperti ini jadinya.
Namun,,,kalau nasehat dari para orang bijak. Tidak cukup adaptasi saja.
Harus ada sebuah kesadaran dalam melakukan interaksi dengan media
digital. Harus ada niat yang baik dan terencana. Harus kuat “Bismillah”-nya.
Harus tertanam misi pengabdian untuk mencari pahala dan memproduksi KEBAIKAN. Dunia digital pun penuh dengan peluang kebaikan. Peluang nya bahkan lebih masif dan cepat. Pendek kata, dunia digital memiliki pintu surga dan nerakanya sendiri.
Seperti kata seorang ustaz, buka Google pakai nama Tuhan, berdoa dan niatkan mengakses informasi untuk mencari keridhaan Tuhan, jangan gunakan perangkat digital untuk ajang ghibah, bertengkar apalagi fitnah dan membuat manusia lain stress. Harus ada keinginan membuat orang lain menjadi lebih baik, Menolong manusia lain mengatasi masalahnya.
Harus ada kata "Why" di balik semua aksi digital. Mengapa harus posting ini itu, mengapa harus mengupload photo dan video itu, mengapa harus membuka situs ini itu, bla bla..
Sejujurnya, itu tidak gampang. Tidak segampang
menuliskannya.Tidak gampang menolak hasrat dan keinginan tahu manusia. Tidak mudah menolak kepuasan digital. Iya kan?
Tapi, sebagaimana kata orang bijak lainnya, “Life without challenges is like a journey without adventures”. Hidup tanpa tantangan, bagaikan perjalanan tanpa petualangan”, ngak indah dan gak enak. “Life without problems is like a grave yard”. Hidup tanpa problem bagaikan tanah pekuburan.
So, jangan jadikan dunia digital sebagai problem apalagi musuh. Namun, hal yang agaknya perlu dicamkan sebagaimana kata Meeta Ahluwalia bahwa “In a World Full of Digital Memories, People Forget to Make Real Ones"
Lalu, nikmati dan bahagialah di era digital, temukan saja bagaimana caranya. Kalau belum mampu, nikmati saja dulu makluk ciptaan Tuhan lainnya, yang mungkin lebih nyata di sekeliling kita:).


0 Comments