Akhirnya, berita tak diharapkan itu muncul juga. Pengidap virus Corona ditemukan di Indonesia..!!!.
Lebih 2 bulan virus ini menyebar dari Wuhan, kota di Tiongkok yang dicurigai sebagai episentrum pertama, ke seantaro dunia. Selama itu pula, publik dunia heran dengan negeri ini karena tak memiliki penderita yang terinfeksi. Semua mereka-reka, keajaiaban apa yang terjadi dengan daya tahan tubuh warga negeri ini?. Sebegitu hebatkah fisik warga negeri ini?. Jangan menyangkal bahwa kitapun bangga, bukan?
Namun, kenyataan kemarin berkata lain. Indonesia tak jauh beda dengan negara lain. Rentan.
Sang virus yang tak kasat ini “berhasil” menjangkiti warga negeri ini. Bermula dari Depok, tanda-tanda kepanikan mulai tampak, dibuktikan dengan aksi punic buying sembako sebagian warga, melonjaknya harga masker dan aksi tak terpuji menumpuknya. What the hell is going on?
Tulisan ini bukan untuk memperburuk keadaan, bro. Swear. Siapa sih yang tak takut dengan serangan virus yang bisa menyerang tanpa diketahui?. Tiba-tiba, kita berhadapan dengan suatu makhluk menyeramkan dan tak tampak. Pamornya mengalahkan “hantu-hantu” buatan manusia yang sering muncul di film-film itu.
Berbicara tentang film. Banyak sih film yang menceritakan serangan virus di sebuah negeri atau kota. Sebut saja Carriers, 28 Days Later atau Outbreak. Di antara film itu, saya merekomendasikan film berjudul “THE FLU”.
Film produksi 2013 ini menceritakan wabah virus yang melanda sebuah kota di Korea Selatan. Sanking ganasnya, seluruh kota dikarantina dan hendak dibumi hanguskan. Ribuan nyawa melayang, dan kepanikan melanda semua negeri. Soalnya, antivirusnya belum ditemukan. Kejadian di film ini kok memiliki kemiripan dengan yang terjadi di Wuhan dan Korea saat ini ya. Aneh bin ajaib saja.
Back to Indonesia.
Saya tidak tahu seberapa besar pengaruh sebuah film dan media terhadap kepanikan. Namun, kejadian punic buying sembako dan ludesnya masker beberapa hari ini bisa saja menjadi bukti bahwa kita sangat rentan dengan sebuah kepanikan. Manusiawi sih, namun mungkin saja itu kepanikan semu.
Apapun yang terjadi, itulah fakta.
Virus Corona mulai menghambat aktifitas warga dunia. Sosial, dan ekonomi terganggu. Karena Corona tak butuh Visa, ia lalu melalang ke seluruh dunia. Dengan bebasnya. Pertumbuhan ekonomi terancam melambat.
Minggu lalu, Arab Saudi menghentikan sementara jamaah umrah ke negaranya. Ribuan jamaah dipaksa kembali ke negeri masing-masing setelah tiba di King Abdul Aziz.
Sebagian lagi kecewa menunggu di bandara karena tak ada penerbangan ke tanah suci. Banyak negara yang memberlakukan larangan terbang ke negara yang terdampak Corona. Dan, Indonesia juga kecipratan dampak, dengan terhentinya pasokan turis dan produk dari China. Multiplier effect yang negatif.
Tak heran, ada pihak yang mengkaitkan fenomena ini dengan tanda-tanda kiamat akan datang. Bisa jadi juga. Who knows?
Namun, saya pun yakin dengan ketangguhan manusia menghadapi kehidupan. Terutama negeri bernama Indonesia ini.
Saya menyebutnya, Indonesian Style. Gaya Indonesia. Pantang menyerah.
Jangan biarkan si Corona merengut ikatan bangsa ini. Merampas kebersamaan dan cinta kasih kita. Jangan tiru aksi tak manusiawi yang dilakonkan dalam film THE FLU itu. Dimana ketika wabah melanda dan nyawa melayang, KEMANUSIAAN pun lenyap demi mencari selamat sendiri-sendiri.
Sayangnya, sebagian sudah terjadi di bumi ini ketika Corona menyapa. Di Tiongkok, ada aksi seseorang membunuh karena rebutan penangkal virus. Siapa kuat dia menang. Kok bisa ya, merengut kehidupan orang lain supaya dia hidup. Memang enak hidup sendirian?. Gila bukan?
Di Indonesia?
Saya tidak tahu.
Namun, aksi borong sembako
dan melonjaknya harga masker dan aksi menumpuk masker bisa jadi pertanda bahwa
kemanusiaan kita pun mulai tercabik. Para
produsen hoakspun tak ketinggalan beraksi. Mengharap untung di tengah derita. Manusia selalu begitukah? Rugi banget.
Tapi, sudahlah.
Cukup sudah berpolemik. Akui saja kita sering alfa dan lupa.
Cukup sudah berpolemik. Akui saja kita sering alfa dan lupa.
Namun, sembari menunggu vaksin ada hentikan dulu kekisruhan yang mungkin akan terjadi.
Malu-maluin bangsa saja.
Anggap Corona adalah cobaan bersama. Untuk menyatukan langkah dan hati yang mungkin sudah lupa.
Bisa jadi, Tuhan sedang menunjukkan sayang-Nya kepada manusia dan khususnya Indonesia. Dia mengingatkan manusia untuk berhenti bertengkar dan memperbesar perbedaan.
Tentunya, kewaspadaan dan langkah medis antisipatif perlu gencar dilakukan. Cuci tangan, hidup sehat dan tingkatkan kekebalan tubuh. May God with Us. Corona, pliz Go Away form our country.
Amin
Anggap Corona adalah cobaan bersama. Untuk menyatukan langkah dan hati yang mungkin sudah lupa.
Bisa jadi, Tuhan sedang menunjukkan sayang-Nya kepada manusia dan khususnya Indonesia. Dia mengingatkan manusia untuk berhenti bertengkar dan memperbesar perbedaan.
Tentunya, kewaspadaan dan langkah medis antisipatif perlu gencar dilakukan. Cuci tangan, hidup sehat dan tingkatkan kekebalan tubuh. May God with Us. Corona, pliz Go Away form our country.
Amin


0 Comments