Oleh: M. Ridwan
Sebagai negeri berpenduduk muslim
terbesar di dunia, kita pantas bangga dan bersyukur menjadi warga Indonesia. Dengan
jumlah muslim yang sangat besar ini, bukankah cukup rasional jika saya mengatakan
bahwa penghuni surga nanti kemungkinan besar akan didominasi oleh penduduk
Indonesia, bukan? :)
Pendapat di atas mungkin terkesan
iseng saja. Namun, bukankah ada baiknya harus
kita pertanyakan. Apalagi dalam konteks Ramadhan kali ini. Jangan-jangan,
kendati kita pemeluk muslim terbanyak di dunia, namun ternyata surga ternyata
bukan didominasi oleh penduduk Indonesia, cukup tragis bukan?.
Kekhawatiran di atas tentu cukup
beralasan. Kendati, kita memang harus terus menanamkan keyakinan bahwa surga
akan berhasil kita masuki. Kita harus
yakin bahwa Allah akan memberikan surga untuk penduduk negeri ini. Mungkin,
satu-satunya pertanyaan adalah apakah muslim negeri ini memang benar-benar
telah memiliki kualifikasi TAQWA sehingga kemudian layak mendapatkan surga?.
Nah, ketika berbicara tentang cara
mengukur apakah seseorang itu memiliki kualifikasi TAQWA atau tidak, maka saya
kira tentu bukan sesuatu mudah. Taqwa –sebagaimana dikatakan oleh Nabi- hanya bisa dirasakan di dalam hati. Sifatnya sangat
subjektif. Kita hanya bisa mengetahui indikator apakah seseorang itu bertaqwa atau tidak hanya dari efek atau
implikasi perbuatan yang ditunjukkan oleh pelakunya. Hal inipunpun sebenarnya
masih juga sulit dan tidak akurat karena tidak semua tampilan perbuatan muslim
adalah hasil dari rasa taqwa yang betul-betul sejati. Bisa saja perbuatan yang
terkesan baik itu masih berbalut dengan riya, kesombongan atau ketidak
ikhlasan. Alhasil, otoritas untuk mengukur seseorang itu apakah bertaqwa atau
tidak tentulah sepenuhnya berada dalam ilmu Allah.
Demikianpun, kita masih memiliki
celah untuk mengukur kadar ketaqwaan yang dimiliki oleh warga negeri ini
melalui kebiasaan harian seorang muslim. Apakah ia melakukan kebiasaan orang
yang bertaqwa atau tidak. Dengan melihat
kebiasaan seseorang, dan kemudian membandingkannya (benchmarking) dengan
standar yang ditentukan oleh Alquran ataupun hadis maka setidaknya kita akan
lebih mudah mengukur tingkat ketaqwaan itu. Termasuk untuk mengukur tingkat
ketaqwaan penduduk negeri ini.
Ramadhan Gaya Nusantara: Seperti
Apakah?
Untuk mengetahui kebiasaan
penduduk negeri ini terkait dengan ketaqwaan tentu memiliki aspek yang luas.
Untuk itu, saya mencoba mempersempitnya lagi dengan melihat kebiasaan penduduk
negeri ini di bulan Ramadhan saja.
PIlihan ini dikarenakan Ramadhan adalah momen yang dijanjikan Nabi
sebagai bulan yang menentukan apakah seseorang itu bisa melewati tangga taqwa
atau tidak.
Artinya, jika di bulan Ramadhan
saja seseorang tidak berhasil meraih taqwa, maka dipastikan dia akan mengalami
kesulitan untuk mendapatkan momen yang sama di bulan lain. Ia akan semakin jauh
dari kualifikasi taqwa. Implikasinya, suraga juga menjadi jauh. Sebuah
kesimpulan yang cukup sederhana.
Lalu apa yang seharusnya
dilakukan di bulan Ramadhan?
Cukup banyak amalan yang bisa dilakukan.
Dari sejak sahur sampai berbuka
dan sahur kembali. Banyak amalan yang bisa dilakukan oleh seorang muslim untuk
mengeruk pundi-pundi pahala dan meraih kunci taqwa. Syaratnya cuma satu, yaitu
bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Ramadhan yang dilalui harus Ramadhan Karim
(Secara Mulia) bukan sekedar Ramadhan Keren dan Hura-Hura.
Lho, kok bisa hura-hura?
Mari kita lihat. Apa yang kita
lakukan setelah habis sahur?. Apakah langsung tidur atau mempelototi TV, ataukah
mengerjakan sholat subuh berjamaah dan kemudian membaca Alquran?. Lalu, apa
yang kita lakukan di siang harinya. Apakah terus dikendalikan dan dipersulit oleh
mulut, telinga, mata dan panca indera lainnya ataukah kita telah berhasil menjadi
pengendali panca indera kita?.
Apa pula yang kita lakukan sebelum
berbuka? Ngabuburit ala Indonesia. Memborong semua panganan berbuka ataukah
membaca Alquran yang akan dikhatamkan?. Apa pula yang dilakukan setelah
berbuka?. Bergegas sholat maghrib berjamaah, ataukah kemudian melanjutkan
tontonan sinetron dan pergi ke tempat hiburan sekaligus cuci mata di mall sampai
larut malam dan meninggalkan sholat Isya dan Tarawih?.
Bagaimana pula konsumsi makan dan
minum kita ketika berbuka?. Apakah Ramadhan kita jadikan sekedar bulan “menunda”
makan dan minum ataukah bukan “mengendalikan” makan dan minum?.
Pertanyaan di atas baru seputar aktifitas pribadi. Bagaimana pula aktifitas sosial dan kepedulian kita terhadap lingkungan di bulan ini. Misalnya, sudah berapa fakir miskin yang kita santuni?. Berapa puluh juta zakat yang akan kita salurkan? Sudah berapa banyak anak-anak muda yang berhasil kita cegah untuk tawuran?. Sudah berapa banyak orang yang kita selamatkan dari permasalahannya?.
Wallahu ‘Alam.
Hanya kita dan Tuhanlah yang tahu
apa yang kita lakukan di bukan Ramadhan kali ini. Jangan-jangan, di bulan ini,
tingkat kegelisahan kita semakin memuncak. Entah karena alasan apa saja. Dari mulai
THR yang belum cair, tiket atau baju yang belum dibeli, atau kendaraan yang
belum diganti :). Atau bisa saja
kekhawatiran bahwa krisis Yunani akan sampai ke negeri ini, pesawat Hercules
yang jatuh, atau kasus pembunuhan Angeline yang belum duduk titik terangnya.
Semua memang masuk akal untuk dikhawatirkan. Sangat manusiawi kendati tidak
mesti semuanya harus menghantui.
Oh ya, kita masih punya Lailatul
Qadar. Bulan yang lebih baik dari seribu bulan ini bisa menjadi momen mendulang
pahala yang berlimpah. Lagi-lagi
pertanyaannya, apakah kita memang telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk
mendapatkan malam mulia ini?. jangan-jangan, banyak yang menerapkan prinsip
ekonomi dalam beribadah. Beramal dengan sedikit mungkin, namun mendapatkan
hasil semaksimal mungkin. Mana tahu sih :)
Ada anekdot yang menyatakan bahwa
di Indonesia, pada 10 hari pertama Ramadhan biasanya mesjid penuh sesak. Pada
10 hari kedua yang akan penuh sesak adalah mall atau pusat perbelanjaan.
Maklum, untuk mempersiapkan lebaran. Sedangkan pada 10 ketiga yang penuh sesak
adalah stasiun kereta, bus atau bandara udara. Untuk mudik tentunya. Kondisi ini sangat kontras dengan tradisi di negara-negara Timur Tengah yang sangat fokus di 10 malam terakhir Ramadhan.
Nah, apakah mungkin masyarakat
Indonesia justru mendapatkan lailatul qadarnya ketika berdesak-desakan di
terminal bis, kereta atau pesawat dan bukan di mesjid? :). Ramadhan gaya
Nusantara ya Bro? …:).
Masih banyak pertanyaan yang bisa
kita ajukan untuk mengukur kebiasaan harian kita di Bulan Ramadhan ini.
Kebiasaan Ramadhan yang dilakukan akan membentuk karakter dan pola pikir TAQWA.
Karakter dan pola pikir TAQWA inilah yang kemudian akan menjadi tiket kita ke
surga. Teorinya simple.
Mudahan-mudahan, warga negeri ini
menjadi penghuni surga secara dominan. Dengan “membaikkan” kebiasaan Ramadhan
tahun ini tentunya. Masih ada hari-hari yang berharga ke depan. Amin.

0 Comments