Ticker

6/recent/ticker-posts

Negeri Mayoritas Muslim, Mungkinkah Pula Mayoritas Penghuni Surga? (Edisi Ramadhan Nusantara)


Oleh: M. Ridwan

Sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, kita pantas bangga dan bersyukur menjadi warga Indonesia. Dengan jumlah muslim yang sangat besar ini, bukankah cukup rasional jika saya mengatakan bahwa penghuni surga nanti kemungkinan besar akan didominasi oleh penduduk Indonesia, bukan?  :)

Pendapat di atas mungkin terkesan iseng saja. Namun, bukankah ada  baiknya harus kita pertanyakan. Apalagi dalam konteks Ramadhan kali ini. Jangan-jangan, kendati kita pemeluk muslim terbanyak di dunia, namun ternyata surga ternyata bukan didominasi oleh penduduk Indonesia, cukup tragis bukan?.

Kekhawatiran di atas tentu cukup beralasan. Kendati, kita memang harus terus menanamkan keyakinan bahwa surga akan berhasil kita masuki.  Kita harus yakin bahwa Allah akan memberikan surga untuk penduduk negeri ini. Mungkin, satu-satunya pertanyaan adalah apakah muslim negeri ini memang benar-benar telah memiliki kualifikasi TAQWA sehingga kemudian layak mendapatkan surga?.   

Nah, ketika berbicara tentang cara mengukur apakah seseorang itu memiliki kualifikasi TAQWA atau tidak, maka saya kira tentu bukan sesuatu mudah. Taqwa –sebagaimana dikatakan oleh Nabi-  hanya bisa dirasakan di dalam hati. Sifatnya sangat subjektif. Kita hanya bisa mengetahui indikator apakah seseorang itu  bertaqwa atau tidak hanya dari efek atau implikasi perbuatan yang ditunjukkan oleh pelakunya. Hal inipunpun sebenarnya masih juga sulit dan tidak akurat karena tidak semua tampilan perbuatan muslim adalah hasil dari rasa taqwa yang betul-betul sejati. Bisa saja perbuatan yang terkesan baik itu masih berbalut dengan riya, kesombongan atau ketidak ikhlasan. Alhasil, otoritas untuk mengukur seseorang itu apakah bertaqwa atau tidak tentulah sepenuhnya berada dalam ilmu Allah.

Demikianpun, kita masih memiliki celah untuk mengukur kadar ketaqwaan yang dimiliki oleh warga negeri ini melalui kebiasaan harian seorang muslim. Apakah ia melakukan kebiasaan orang yang  bertaqwa atau tidak. Dengan melihat kebiasaan seseorang, dan kemudian membandingkannya (benchmarking) dengan standar yang ditentukan oleh Alquran ataupun hadis maka setidaknya kita akan lebih mudah mengukur tingkat ketaqwaan itu. Termasuk untuk mengukur tingkat ketaqwaan penduduk negeri ini.

Ramadhan Gaya Nusantara: Seperti Apakah?

Untuk mengetahui kebiasaan penduduk negeri ini terkait dengan ketaqwaan tentu memiliki aspek yang luas. Untuk itu, saya mencoba mempersempitnya lagi dengan melihat kebiasaan penduduk negeri ini di bulan Ramadhan saja.  PIlihan ini dikarenakan Ramadhan adalah momen yang dijanjikan Nabi sebagai bulan yang menentukan apakah seseorang itu bisa melewati tangga taqwa atau tidak.  

Artinya, jika di bulan Ramadhan saja seseorang tidak berhasil meraih taqwa, maka dipastikan dia akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan momen yang sama di bulan lain. Ia akan semakin jauh dari kualifikasi taqwa. Implikasinya, suraga juga menjadi jauh. Sebuah kesimpulan yang cukup sederhana.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan di bulan Ramadhan?

Cukup banyak amalan yang bisa dilakukan.

Dari sejak sahur sampai berbuka dan sahur kembali. Banyak amalan yang bisa dilakukan oleh seorang muslim untuk mengeruk pundi-pundi pahala dan meraih kunci taqwa. Syaratnya cuma satu, yaitu bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya.  Ramadhan yang dilalui harus Ramadhan Karim (Secara Mulia) bukan sekedar Ramadhan Keren dan Hura-Hura.

Lho, kok bisa hura-hura?

Mari kita lihat. Apa yang kita lakukan setelah habis sahur?. Apakah langsung tidur atau mempelototi TV, ataukah mengerjakan sholat subuh berjamaah dan kemudian membaca Alquran?. Lalu, apa yang kita lakukan di siang harinya. Apakah terus dikendalikan dan dipersulit oleh mulut, telinga, mata dan panca indera lainnya ataukah kita telah berhasil menjadi pengendali panca indera kita?.

Apa pula yang kita lakukan sebelum berbuka? Ngabuburit ala Indonesia. Memborong semua panganan berbuka ataukah membaca Alquran yang akan dikhatamkan?. Apa pula yang dilakukan setelah berbuka?. Bergegas sholat maghrib berjamaah, ataukah kemudian melanjutkan tontonan sinetron dan pergi ke tempat hiburan sekaligus cuci mata di mall sampai larut malam dan meninggalkan sholat Isya dan Tarawih?.

Bagaimana pula konsumsi makan dan minum kita ketika berbuka?. Apakah Ramadhan kita jadikan sekedar bulan “menunda” makan dan minum ataukah bukan “mengendalikan” makan dan minum?.

Pertanyaan di atas baru seputar aktifitas pribadi. Bagaimana pula aktifitas sosial dan kepedulian kita terhadap lingkungan di bulan ini. Misalnya, sudah berapa fakir miskin yang kita santuni?. Berapa puluh juta zakat yang akan kita salurkan? Sudah berapa banyak anak-anak muda yang berhasil kita cegah untuk tawuran?.  Sudah berapa banyak orang yang kita selamatkan dari permasalahannya?.
Wallahu ‘Alam.

Hanya kita dan Tuhanlah yang tahu apa yang kita lakukan di bukan Ramadhan kali ini. Jangan-jangan, di bulan ini, tingkat kegelisahan kita semakin memuncak. Entah karena alasan apa saja. Dari mulai THR yang belum cair, tiket atau baju yang belum dibeli, atau kendaraan yang belum diganti :).  Atau bisa saja kekhawatiran bahwa krisis Yunani akan sampai ke negeri ini, pesawat Hercules yang jatuh, atau kasus pembunuhan Angeline yang belum duduk titik terangnya. Semua memang masuk akal untuk dikhawatirkan. Sangat manusiawi kendati tidak mesti semuanya harus menghantui.

Oh ya, kita masih punya Lailatul Qadar. Bulan yang lebih baik dari seribu bulan ini bisa menjadi momen mendulang pahala yang berlimpah.  Lagi-lagi pertanyaannya, apakah kita memang telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk mendapatkan malam mulia ini?. jangan-jangan, banyak yang menerapkan prinsip ekonomi dalam beribadah. Beramal dengan sedikit mungkin, namun mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Mana tahu sih :)

Ada anekdot yang menyatakan bahwa di Indonesia, pada 10 hari pertama Ramadhan biasanya mesjid penuh sesak. Pada 10 hari kedua yang akan penuh sesak adalah mall atau pusat perbelanjaan. Maklum, untuk mempersiapkan lebaran. Sedangkan pada 10 ketiga yang penuh sesak adalah stasiun kereta, bus atau bandara udara. Untuk mudik tentunya. Kondisi ini sangat kontras dengan tradisi di negara-negara Timur Tengah yang sangat fokus di 10 malam terakhir Ramadhan. 

Nah, apakah mungkin masyarakat Indonesia justru mendapatkan lailatul qadarnya ketika berdesak-desakan di terminal bis, kereta atau pesawat dan bukan di mesjid? :). Ramadhan gaya Nusantara ya Bro? …:). 

Masih banyak pertanyaan yang bisa kita ajukan untuk mengukur kebiasaan harian kita di Bulan Ramadhan ini. Kebiasaan Ramadhan yang dilakukan akan membentuk karakter dan pola pikir TAQWA. Karakter dan pola pikir TAQWA inilah yang kemudian akan menjadi tiket kita ke surga. Teorinya simple.

Mudahan-mudahan, warga negeri ini menjadi penghuni surga secara dominan. Dengan “membaikkan” kebiasaan Ramadhan tahun ini tentunya. Masih ada hari-hari yang berharga ke depan. Amin.





  




Post a Comment

0 Comments