Oleh: M. Ridwan
Sentakan halus nan mengena
disampaikan oleh seorang penulis kebanggaan Sumatera Utara Abangda DR. Azhari
Akmal Tarigan. Sentakan ini disampaikannya ketika menjadi pemateri dalam
Pelatihan Penulisan Buku Ajar Fakultas Ekonomi Islam UIN-SU Medan hari Kamis
lalu. Para peserta adalah dosen-dosen muda dan senior FEBI. Bang Akmal –demikian
panggilan akrab beliau- saat itu memang didaulat menjadi salah satu pemateri di
pelatihan ini. Bersama beliau, juga dihadirkan seorang pemateri yang tak kalah
hebatnya dalam bidang tulis-menulis yaitu Abangda DR. Iswandi Syahputra, dosen
dan penulis aktif dari UIN-Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bukan kebetulan
pula, keduanya adalah alumni dari MAPK Padang Panjang juga :)
Menurut Bang Akmal dan diperkuat
oleh Bang Iswandi, minat menulis para warga negeri ini amat minim bahkan di
kalangan perguruan tinggi sendiri. Cukup miris menyaksikan kuantitas hasil
karya para dosen dan mahasiswa Indonesia. Kendati ada peningkatan, namun
jumlahnya masih sangat tidak signifikan jika dibandingkan dengan potensi karya
tulis yang seharusnya bisa dihasilkan.
Lalu, apa penyebabnya?. Salah
satunya adalah budaya lisan bangsa ini yang masih dominan. Kalau saya
menggunakan bahasa Medannya, lebih banyak bicara ketimbang menuliskannya. Selain
itu, penyebab budaya lisan ini menjadi dominan adalah minat baca yang juga
minim. Memang, akhirnya seperti teka-teki, manakah dahulu ada, telur atauayam?.
Manakah yang harus digenjot terlebih dahulu, banyak membaca baru menulis atau
menulis dulu baru membaca. Ternyata, jawaban yang diberikan oleh kedua penulis
senada, bahwa aktifitas menulis dan membaca itu merupakan rangkaian yang saling
melengkapi, tidak terpisah.
Saya mencoba mendalami lebih
lanjut. Faktanya mengejutkan. Ternyata produksi buku negeri kita sangat minim
setiap tahunnya jika dibandingkan negera-negara lain. Misalnya Jepang
menghasilkan 44.000 judul buku setiap tahunnya termasuk buku terjemahan. Amerika
menghasilkan buku 100.000 buku dan Inggeris sebanyak 61.000 buku. Lalu,
Indonesia berapa buku?. Ternyata hanya 2500 buku setiap tahunnya. Miris
bukan..?. Selidik punya selidik fenomena ini disebabkan karena insentif yang
juga minim bagi para penulisnya. Entahlah, kondisi ini seperti mana ayam dan
mana telur lagi.
Saya jadi teringat kepada sejarah
kejayaan Islam. Kemajuan peradaban Islam di Timur Tengah dan Eropa selama
ratusan tahun lalu ternyata menyisakan sebuah petunjuk berarti bagi kita.
Peradaban dahsyat yang diperoleh emperium Islam ternyata banyak didukung oleh
produksi karya-karya tulis monumental para scholar-nya. Amerika saat ini
menunjukkannya di depan mata kita. Masihkah kita tertidur?
Memang, berbagai reason bisa kita
ajukan. Sekedar untuk pembenaran minimnya minat tulis tersebut. Katakanlah,
seperti tingkat pendapatan perkapita masyarakat yang masih rendah sehingga tidak
mampu membeli buku. Dikarenakan tingkat permintaan rendah, maka supply buku
juga rendah dan menyebabkan para penulis buku tidak berminat. Sehingga, kondisi
negeri pertiwi ini tentu tidak bisa dibandingkan dengan Amerika atau Jepang
dalam hal minat membeli buku.
Tapi, alasan di atas termentahkan
dengan kenyataan bahwa berbagai produk non buku malah laris manis di negeri
ini. Silahkan, adakan pameran elektronik atau gadget terbaru. Dipastikan, peminatnya membludak. Silahkan keluarkan edisi-edisi terbaru mobil, pakaian
atau tas di wajah warga negeri ini, maka dipastikan para pembeli kan berjubel, inden.
Makanya, wajar saja, ketika Bang
Akmal pernah mengkritisi fenomena masyarakat yang sangat gemar mengkoleksi batu
akik tapi malas mengkoleksi buku. Akik yang berharga ratusan ribu bahkan jutaan
menjadi laris manis dan tidak sebanding dengan terseok-seoknya buku di toko buku.
Akhirnya, apa mau dikata?. Kendati
belum terlambat untuk memulainya, maka satu-satunya cara untuk memulai
menumbuhkan minat tulis dan baca di negeri ini adalah dengan memulainya detik
ini juga. Silahkan tulis apa saja yang menjadi passion (hasrat) Anda kemudian
baca buku untuk menambah kontennya. Atau, silahkan baca apa saja yang Anda gemari lalu kemudian
tuliskan kontennya. Hitung-hitung, untuk amal jariyah. Bukankah cukup sayang,
jika uang untuk membeli buku tidak dialirkan dengan membaginya kepada orang
lain sebagai amal jariyah?. Sharing is a good hobby, isn't it?
Meski, kesimpulan saya masih
belum berubah. Penduduk negeri ini memang terkenal ramah, tapi tidak terhadap
BUKU...:)

0 Comments