Ticker

6/recent/ticker-posts

Negeri Tidak Ramah Buku (Negeri Gaya-Gayaan 5)


Oleh: M. Ridwan

Sentakan halus nan mengena disampaikan oleh seorang penulis kebanggaan Sumatera Utara Abangda DR. Azhari Akmal Tarigan. Sentakan ini disampaikannya ketika menjadi pemateri dalam Pelatihan Penulisan Buku Ajar Fakultas Ekonomi Islam UIN-SU Medan hari Kamis lalu. Para peserta adalah dosen-dosen muda dan senior FEBI. Bang Akmal –demikian panggilan akrab beliau- saat itu memang didaulat menjadi salah satu pemateri di pelatihan ini. Bersama beliau, juga dihadirkan seorang pemateri yang tak kalah hebatnya dalam bidang tulis-menulis yaitu Abangda DR. Iswandi Syahputra, dosen dan penulis aktif dari UIN-Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bukan kebetulan pula, keduanya adalah alumni dari MAPK Padang Panjang juga :)

Menurut Bang Akmal dan diperkuat oleh Bang Iswandi, minat menulis para warga negeri ini amat minim bahkan di kalangan perguruan tinggi sendiri. Cukup miris menyaksikan kuantitas hasil karya para dosen dan mahasiswa Indonesia. Kendati ada peningkatan, namun jumlahnya masih sangat tidak signifikan jika dibandingkan dengan potensi karya tulis yang seharusnya bisa dihasilkan.

Lalu, apa penyebabnya?. Salah satunya adalah budaya lisan bangsa ini yang masih dominan. Kalau saya menggunakan bahasa Medannya, lebih banyak bicara ketimbang menuliskannya. Selain itu, penyebab budaya lisan ini menjadi dominan adalah minat baca yang juga minim. Memang, akhirnya seperti teka-teki, manakah dahulu ada, telur atauayam?. Manakah yang harus digenjot terlebih dahulu, banyak membaca baru menulis atau menulis dulu baru membaca. Ternyata, jawaban yang diberikan oleh kedua penulis senada, bahwa aktifitas menulis dan membaca itu merupakan rangkaian yang saling melengkapi, tidak terpisah.

Saya mencoba mendalami lebih lanjut. Faktanya mengejutkan. Ternyata produksi buku negeri kita sangat minim setiap tahunnya jika dibandingkan negera-negara lain. Misalnya Jepang menghasilkan 44.000 judul buku setiap tahunnya termasuk buku terjemahan. Amerika menghasilkan buku 100.000 buku dan Inggeris sebanyak 61.000 buku. Lalu, Indonesia berapa buku?. Ternyata hanya 2500 buku setiap tahunnya. Miris bukan..?. Selidik punya selidik fenomena ini disebabkan karena insentif yang juga minim bagi para penulisnya. Entahlah, kondisi ini seperti mana ayam dan mana telur lagi.

Saya jadi teringat kepada sejarah kejayaan Islam. Kemajuan peradaban Islam di Timur Tengah dan Eropa selama ratusan tahun lalu ternyata menyisakan sebuah petunjuk berarti bagi kita. Peradaban dahsyat yang diperoleh emperium Islam ternyata banyak didukung oleh produksi karya-karya tulis monumental para scholar-nya. Amerika saat ini menunjukkannya di depan mata kita. Masihkah kita tertidur?

Memang, berbagai reason bisa kita ajukan. Sekedar untuk pembenaran minimnya minat tulis tersebut. Katakanlah, seperti tingkat pendapatan perkapita masyarakat yang masih rendah sehingga tidak mampu membeli buku. Dikarenakan tingkat permintaan rendah, maka supply buku juga rendah dan menyebabkan para penulis buku tidak berminat. Sehingga, kondisi negeri pertiwi ini tentu tidak bisa dibandingkan dengan Amerika atau Jepang dalam hal minat membeli buku.

Tapi, alasan di atas termentahkan dengan kenyataan bahwa berbagai produk non buku malah laris manis di negeri ini. Silahkan, adakan pameran elektronik atau gadget terbaru. Dipastikan, peminatnya membludak. Silahkan keluarkan edisi-edisi terbaru mobil, pakaian atau tas di wajah warga negeri ini, maka dipastikan  para pembeli kan berjubel, inden.

Makanya, wajar saja, ketika Bang Akmal pernah mengkritisi fenomena masyarakat yang sangat gemar mengkoleksi batu akik tapi malas mengkoleksi buku. Akik yang berharga ratusan ribu bahkan jutaan menjadi laris manis dan tidak sebanding dengan terseok-seoknya buku di toko buku.

Akhirnya, apa mau dikata?. Kendati belum terlambat untuk memulainya, maka satu-satunya cara untuk memulai menumbuhkan minat tulis dan baca di negeri ini adalah dengan memulainya detik ini juga. Silahkan tulis apa saja yang menjadi passion (hasrat) Anda kemudian baca buku untuk menambah kontennya. Atau, silahkan baca apa saja yang Anda gemari lalu kemudian tuliskan kontennya. Hitung-hitung, untuk amal jariyah. Bukankah cukup sayang, jika uang untuk membeli buku tidak dialirkan dengan membaginya kepada orang lain sebagai amal jariyah?. Sharing is a good hobby, isn't it?

Meski, kesimpulan saya masih belum berubah. Penduduk negeri ini memang terkenal ramah, tapi tidak terhadap BUKU...:)

Post a Comment

0 Comments