Ticker

6/recent/ticker-posts

Healing The World: Mungkinkah?



Oleh: M. Ridwan
Selasa kemarin, adik-adik dari Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (Fossei) Pusat dan Sumatera Bagian Utara mengadakan kegiatan Sekolah Pasar Modal Syariah di Universitas Islam Negeri (UIN-SU). Kegiatan ini menghadirkan beberapa pembicara seperti Bapak Irwan Abdalla yang merupakan pakar investasi syariah sekaligus Kepala Divisi Syariah Bursa Efek Indonesia. 

Selain itu juga dihadirkan Bapak Karnil Hidayat, Anggota Dewan Syariah Nasional dan Bapak Suwito dari Panin Asset Management Pusat. Beberapa praktisi sekuritas dan reksadana juga hadir seperti Bapak Benyamin Gunawan yang akrab disapa Pak Ben. Beliau juga adalah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN-SU sekaligus praktisi di Danareksa yang sangat aktif mengembangkan ekonomi syariah.  Praktisi lain seperti Darmin SE (Panin Sekuritas), Pintor Nasution (BEI Sumut), Yudi Setiawan (Takaful) juga terlihat hadir. Tentunya, kehadiran para guru besar FEBI seperti Bapak Prof. Dr. H. Amiur Nuruddin, MA dan Prof. M. Yasir Nasution, dan Wakil Rektor III Prof. DR. Ilhammuddin Nasution, MA  menjadikan acara ini semakin menemukan ruh-nya. 

Ada hal yang saya kira cukup berkesan ketika melihat penampilan adik-adik Fossei yang membawakan lagu “Ekonom Rabbani”. Liriknya seperti di bawah ini:

Ekonom muda hei ekonom rabbani
tempa dirimu ‘tuk bangun bangsa madani
ekonom cerdas hei ekonom rabbani
mari mandiri kembangkan potensi

Chorus:
Bergerak jangan mengeluh
meski tubuhmu berpeluh
karena kemiskinan semakin membunuh
Bertransaksi adil
tinggalkanlah tipu daya
yakinlah ekonomi Islam kan jaya (2x)

Reff:
Bangkitlah bangkitlah pemuda mulia
bersatu padu lintasi khatulistiwa
Majulah hei ekonom rabbani bisa
mari sembuhkan ekonomi dunia

Bridge:
Berbagi sesama
ketuk nuraninya
yakin ekonomi Islam ‘kan jaya (2x)



Sejujurnya, lagu ini menggetarkan. Hal senada diakui oleh Prof. Amiur yang duduk di sebelah saya. Lagu ini benar-benar memberikan semangat menggelora. Pesannya sampai ke jiwa. Apalagi ketika dinyanyikan oleh paduan suara yang juga apik dalam penampilan. Saya yakin,  lagu ini tidak hanya menumbuhkan semangat kepada adik-adik Fossei yang menggagas acara bagus ini namun juga kepada lebih dari 400 hadirin yang hadir. 

Menyembuhkan Dunia: Mungkinkah?

“Heal The World. Make It A Better Place. For You And For Me. And The Entire Human Race. There Are People Dying. If You Care Enough. For The Living.  Make A Better Place.  For You And For Me” (Menyembuhkan dunia. Jadikanlah ia menjadi tempat yang lebih baik. Untukmu dan bagiku serta seluruh umat manusia. Ada orang mati. Jika Kamu cukup peduli untuk hidup. Buatlah yang lebih baik bagimu dan bagi saya)

Lirik di atas adalah penggalan lagu "Heal The World" (Sembuhkan Dunia) yang dinyanyikan oleh legenda musik, Michael Jackson. Lagu ini dirilis tahun 1991. Menurut Jacko, inilah lagu yang paling dibanggakannya. Lagu ini sangat terkenal di seluruh dunia. Saya sendiri sering menyanyikannya. Lagu ini menggambarkan dunia yang sedang sakit dan menghadapi berbagai penderitaan. Lagu ini menggambarkan betapa banyaknya manusia sekarat dan menghadapi permasalahan hidup. Dunia sakit harus disembuhkan dengan kebersamaan, kepedulian dan tentunya menghentikan peperangan (See The Nations Turn Their Swords Into Plowshares). Demi meyelamatkan anak-anak kita dan menjadikan dunia seperti surga. Demikian kira-kira pesan yang saya tangkap dari lagu ini.

Lalu apa hubungan lagu ini dengan kegiatan Fossei kemarin?

Tentu saja, Michael Jackson belum pernah bertemu dengan adik-adik Fossei ketika meliris lagu “Heal The World” tersebut.  Namun, saya kira baik Jacko maupun adik-adik Fossei menyampaikan pesan yang sama yaitu "Heal The World" (Menyembuhkan Dunia). Bedanya, sang legendaries menekankan pentingnya perdamaian, kepedulian dan penghentian peperangan, sedangkan adik-adik Fossei menekankan pada pentingnya tatanan ekonomi yang berkeadilan dimana tidak terjadi eksploitasi dan penyebaran keserakahan di bumi.

Jika dilihat dari penyebab kesengsaraan manusia dari ke masa, akan didapatkan fakta bahwa memang permasalahan ekonomi menempati urutan terpenting dari akar permasalahan dunia. Dimulai dari kekurangan resources, maka manusia berupaya memenuhi kebutuhannya. Ini alamiah.

Sayangnya, upaya pemenuhan kebutuhan ini banyak dilakukan dengan melanggar rambu-rambu etika bahkan kemanusian. Akibatnya, konflik dan peperangan menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Indonesia sudah merasakan pahitnya penjajahan hanya karena negeri kita kaya dengan hasil bumi dan menarik minat serikat dagang Belanda, alias VOC. Lihat juga, Afrika yang menjadi lahan eksploitasi Eropa karena adanya barang tambang berharga. Atau, Timur Tengah yang menjadi ladang perang berbagai negara lain karena minyaknya yang melimpah. Tragis bukan?

Ketika berbagai konflik bahkan peperangan atas nama pencarian sumber daya menjadi sebuah keniscayaan, maka adakah jalan keluar yang bisa dilakukan?. Bisakah dunia disembuhkan dari penyakit kronis ini?. Mungkinkah kita masih sempat menyaksikan dunia bak surga seperti senandung si Jacko?.

Saya kira, impian ini bisa tercapai. Setidaknya jika dilihat dari betapa kerasnya  upaya manusia untuk terus menemukan resep cesplang untuk mengatasi berbagai permasalahan ini. Berpuluh penerima nobel (Nobel laureates) berusaha keras memberikan formula ekonomi jitu untuk memperbaiki resep-resep menciptakan kesejahteraan manusia dan memakmurkan mereka. Kendati, belum seorangpun ekonom Islam yang berhasil mendapatkan angerah penghargaan prestisius ini.Saya yakin akan segera ada.

Saya yakin, bahwa momentum ini harus dimanfaatkan para pegiat ekonomi Islam.  Mereka harus berada di garis terdepan gerakan menyembuhkan dunia. Minimal dalam ruang lingkup negeri tercinta ini.  Tidak usah ragu. Ekonomi berbasis asset alias ekonomi Islam merupakan jalan keluar atas penyakit ekonomi dunia. Sudah ratusan tahun, kita dihantui dengan bubble economy alias ekonomi ribawi. Tidak kapok-kapok. 

Pada sisi lain. Jika kita memang sepakat bahwa dunia saat ini sedang sakit, maka fase pertama tentulah sedapat mungkin menghindarkan diri kita menjadi bagian dari penyebab penyakit yang ada. Jika fase ini telah berhasil dilewati, maka fase selanjutnya akan menjadi lebih mudah yaitu membantu penderita lainnya untuk recovery. Tidak mungkin seorang dokter bisa membantu seseorang jika ia sendiri terserang penyakit.

Tugas ini berat. Makanya, ketika adik-adik Fossei menyanyikan lagu Ekonom Rabbani dengan penuh semangat dan ketulusan, maka saya hanya berdoa, mudah-mudahan kita masih sempat menyaksikan hasil perjuangan mereka, menyembuhkan dunia ini. Tentunya dengan dukungan kita semua. Semoga…

Post a Comment

0 Comments