Oleh: M. Ridwan
Selasa
kemarin, adik-adik dari Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam (Fossei) Pusat dan Sumatera
Bagian Utara mengadakan kegiatan Sekolah Pasar Modal Syariah di Universitas
Islam Negeri (UIN-SU). Kegiatan ini menghadirkan beberapa pembicara seperti
Bapak Irwan Abdalla yang merupakan pakar investasi syariah sekaligus Kepala
Divisi Syariah Bursa Efek Indonesia.
Selain itu juga dihadirkan Bapak Karnil
Hidayat, Anggota Dewan Syariah Nasional dan Bapak Suwito dari Panin Asset
Management Pusat. Beberapa praktisi sekuritas dan reksadana juga hadir seperti
Bapak Benyamin Gunawan yang akrab disapa Pak Ben. Beliau juga adalah dosen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN-SU sekaligus praktisi di Danareksa yang
sangat aktif mengembangkan ekonomi syariah.
Praktisi lain seperti Darmin SE (Panin Sekuritas), Pintor Nasution (BEI
Sumut), Yudi Setiawan (Takaful) juga terlihat hadir. Tentunya, kehadiran para
guru besar FEBI seperti Bapak Prof. Dr. H. Amiur Nuruddin, MA dan Prof. M.
Yasir Nasution, dan Wakil Rektor III Prof. DR. Ilhammuddin Nasution, MA menjadikan acara ini semakin menemukan
ruh-nya.
Ada hal yang saya kira cukup berkesan ketika
melihat penampilan adik-adik Fossei yang membawakan lagu “Ekonom Rabbani”. Liriknya
seperti di bawah ini:
Ekonom muda hei ekonom rabbani
tempa dirimu ‘tuk bangun bangsa madani
ekonom cerdas hei ekonom rabbani
mari mandiri kembangkan potensi
tempa dirimu ‘tuk bangun bangsa madani
ekonom cerdas hei ekonom rabbani
mari mandiri kembangkan potensi
Chorus:
Bergerak jangan mengeluh
meski tubuhmu berpeluh
karena kemiskinan semakin membunuh
Bergerak jangan mengeluh
meski tubuhmu berpeluh
karena kemiskinan semakin membunuh
Bertransaksi adil
tinggalkanlah tipu daya
yakinlah ekonomi Islam kan jaya (2x)
tinggalkanlah tipu daya
yakinlah ekonomi Islam kan jaya (2x)
Reff:
Bangkitlah bangkitlah pemuda mulia
bersatu padu lintasi khatulistiwa
Majulah hei ekonom rabbani bisa
mari sembuhkan ekonomi dunia
Bangkitlah bangkitlah pemuda mulia
bersatu padu lintasi khatulistiwa
Majulah hei ekonom rabbani bisa
mari sembuhkan ekonomi dunia
Bridge:
Berbagi sesama
ketuk nuraninya
yakin ekonomi Islam ‘kan jaya (2x)
Berbagi sesama
ketuk nuraninya
yakin ekonomi Islam ‘kan jaya (2x)
Sejujurnya,
lagu ini menggetarkan. Hal senada diakui oleh Prof. Amiur yang duduk di sebelah
saya. Lagu ini benar-benar memberikan semangat menggelora. Pesannya sampai ke
jiwa. Apalagi ketika dinyanyikan oleh paduan suara yang juga apik dalam penampilan.
Saya yakin, lagu ini tidak hanya menumbuhkan
semangat kepada adik-adik Fossei yang menggagas acara bagus ini namun juga
kepada lebih dari 400 hadirin yang hadir.
Menyembuhkan
Dunia: Mungkinkah?
“Heal The World.
Make It A Better Place. For You And For Me. And The Entire Human Race. There
Are People Dying. If You Care Enough. For The Living. Make A Better Place. For You And For Me” (Menyembuhkan
dunia. Jadikanlah ia menjadi tempat yang lebih baik. Untukmu dan bagiku serta seluruh umat manusia. Ada orang mati. Jika Kamu cukup peduli untuk
hidup. Buatlah yang lebih baik bagimu dan bagi saya)
Lirik
di atas adalah penggalan lagu "Heal The World" (Sembuhkan Dunia) yang dinyanyikan oleh legenda musik, Michael Jackson. Lagu ini dirilis tahun 1991. Menurut Jacko, inilah lagu yang paling dibanggakannya. Lagu
ini sangat terkenal di seluruh dunia. Saya sendiri sering menyanyikannya. Lagu
ini menggambarkan dunia yang sedang sakit dan menghadapi berbagai penderitaan. Lagu ini menggambarkan betapa banyaknya manusia sekarat dan menghadapi permasalahan hidup.
Dunia sakit harus disembuhkan dengan kebersamaan, kepedulian dan tentunya menghentikan
peperangan (See The Nations Turn Their Swords Into Plowshares). Demi meyelamatkan
anak-anak kita dan menjadikan dunia seperti surga. Demikian kira-kira pesan yang
saya tangkap dari lagu ini.
Lalu apa hubungan lagu ini dengan
kegiatan Fossei kemarin?
Tentu
saja, Michael Jackson belum pernah bertemu dengan adik-adik Fossei ketika meliris
lagu “Heal The World” tersebut. Namun, saya kira baik Jacko maupun adik-adik
Fossei menyampaikan pesan yang sama yaitu "Heal The World" (Menyembuhkan Dunia). Bedanya, sang legendaries menekankan
pentingnya perdamaian, kepedulian dan penghentian peperangan, sedangkan
adik-adik Fossei menekankan pada pentingnya tatanan ekonomi yang berkeadilan
dimana tidak terjadi eksploitasi dan penyebaran keserakahan di bumi.
Jika
dilihat dari penyebab kesengsaraan manusia dari ke masa, akan didapatkan fakta
bahwa memang permasalahan ekonomi menempati urutan terpenting dari akar
permasalahan dunia. Dimulai dari kekurangan resources, maka manusia berupaya
memenuhi kebutuhannya. Ini alamiah.
Sayangnya,
upaya pemenuhan kebutuhan ini banyak dilakukan dengan melanggar rambu-rambu
etika bahkan kemanusian. Akibatnya, konflik dan peperangan menjadi sesuatu yang
tak terelakkan. Indonesia sudah merasakan pahitnya penjajahan hanya karena
negeri kita kaya dengan hasil bumi dan menarik minat serikat dagang Belanda,
alias VOC. Lihat juga, Afrika yang menjadi lahan eksploitasi Eropa karena
adanya barang tambang berharga. Atau, Timur Tengah yang menjadi ladang perang berbagai
negara lain karena minyaknya yang melimpah. Tragis bukan?
Ketika
berbagai konflik bahkan peperangan atas nama pencarian sumber daya menjadi
sebuah keniscayaan, maka adakah jalan keluar yang bisa dilakukan?. Bisakah
dunia disembuhkan dari penyakit kronis ini?. Mungkinkah kita masih sempat
menyaksikan dunia bak surga seperti senandung si Jacko?.
Saya
kira, impian ini bisa tercapai. Setidaknya jika dilihat dari betapa kerasnya upaya manusia untuk terus menemukan resep cesplang
untuk mengatasi berbagai permasalahan ini. Berpuluh penerima nobel (Nobel laureates) berusaha keras memberikan formula ekonomi jitu untuk memperbaiki resep-resep menciptakan kesejahteraan manusia dan memakmurkan mereka. Kendati, belum seorangpun ekonom Islam yang berhasil mendapatkan angerah penghargaan prestisius ini.Saya yakin akan segera ada.
Saya
yakin, bahwa momentum ini harus dimanfaatkan para pegiat ekonomi Islam. Mereka harus berada di garis terdepan gerakan
menyembuhkan dunia. Minimal dalam ruang lingkup negeri tercinta ini. Tidak usah ragu. Ekonomi berbasis asset alias ekonomi Islam merupakan
jalan keluar atas penyakit ekonomi dunia. Sudah ratusan tahun, kita dihantui
dengan bubble economy alias ekonomi ribawi. Tidak kapok-kapok.
Pada
sisi lain. Jika kita memang sepakat bahwa dunia saat ini sedang sakit, maka fase
pertama tentulah sedapat mungkin menghindarkan diri kita menjadi bagian dari penyebab penyakit
yang ada. Jika fase ini telah berhasil dilewati, maka fase selanjutnya akan
menjadi lebih mudah yaitu membantu penderita lainnya untuk recovery. Tidak
mungkin seorang dokter bisa membantu seseorang jika ia sendiri terserang
penyakit.
Tugas
ini berat. Makanya, ketika adik-adik Fossei menyanyikan lagu
Ekonom Rabbani dengan penuh semangat dan ketulusan, maka saya hanya berdoa,
mudah-mudahan kita masih sempat menyaksikan hasil perjuangan mereka, menyembuhkan
dunia ini. Tentunya dengan dukungan kita semua. Semoga…

0 Comments