Oleh: M. Ridwan
Konferensi
Asia Afrika 28-24 April 2015 telah usai. Para delegasi dari puluhan negera telah
kembali ke negara masing-masing. Membawa senyum sumringah. Bukan saja karena
mendapat service yang memuaskan selama mengikuti acara, namun juga
mendapatkan souvenir beragam dari Indonesia. Menurut informasi, salah satu
souvenirnya adalah liontin bermata akik pancawarna nan rupawan yang ditambang
dari tanah Garut, Jawa Barat. Akik ini indah dan mahal. Tingkat kejernihan dan
kekerasannya menjadi daya jual yang tinggi.
Kendati
perbincangan tentang batu akik sangat menarik, tapi saya tidak akan mengupas
topik itu di tulisan ini. Biarlah para pakar batu membahasnya. Mudah-mudahan, nilai jual pancawarna menjadi
naik.
Saya
lebih tertarik melihat KAA dari dimensi lain. Sebagai sebuah ajang bergengsi, KAA diharapkan memberikan banyak
pengaruh kepada dunia untuk menjadi lebih baik. Dan ini dimotori oleh negara di
Benua Asia dan Afrika.
Perhelatan akbar 10 tahun-an ini pasti menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi negera-negara yang berpartisipasi di dalamnya. Sesuai dengan temanya: Strengthening South-South Cooperation to Promote Peace and Prosperity (Kerjasama Selatan-Selatan Menuju Perdamaian dan Kemakmuran), maka hasil dari KAA diharapkan bisa terealisasi dengan baik berupa komitmen dan langkah - Langkah Konkret.
Perhelatan akbar 10 tahun-an ini pasti menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi negera-negara yang berpartisipasi di dalamnya. Sesuai dengan temanya: Strengthening South-South Cooperation to Promote Peace and Prosperity (Kerjasama Selatan-Selatan Menuju Perdamaian dan Kemakmuran), maka hasil dari KAA diharapkan bisa terealisasi dengan baik berupa komitmen dan langkah - Langkah Konkret.
Bagi
tuan rumah, Indonesia, KAA kali ini juga menjadi ajang untuk mulai “bergaya”
kembali di mata dunia. Kita mau menunjukkan bahwa Indonesia masih “bertaji” dan bukan "macan ompong” seperti yang mulai digaungkan banyak orang. Kita ingin,
bangsa-bangsa lain mengakui eksistensi negeri ini. Menunjukkan kepada mereka
bahwa kita tetaplah Asian Miracle (Keajaiban Asia) yang dulu sempat dikagumi
bangsa lain.
Saya
pribadi, kaget ketika Jokowi menyampaikan pidatonya di hadapan para delegasi
KAA. Cukup berani. Berbagai kritikan tajam beliau sampaikan. Lembaga selevel
PBB dan lembaga keuangan dunia seperti Bank Dunia, IMF atau ADB bahkan kena
“semprot” olehnya. Beliau menyoroti
berbagai ketimpangan ekonomi yang terjadi kasat mata di dunia. Menurutnya, sebanyak
70% sumber-sumber kekayaan bumi ternyata hanya dikuasai oleh 20% penduduk
dunia ini. Tragis memang, namun begitulah adanya. Bahkan, saya yakin jumlah yang
ada di lapangan jauh melebihi angka yang ada tertera dalam laporan statistik.
Pidatonya
cukup menyentak dunia. Tidak heran banyak pihak yang merasa kebakaran
jenggot. Terutama lembaga-lembaga luar
negeri yang langsung ditunjuk hidungnya oleh sang presiden. Tentu
pula, banyak pihak yang memuji pidato tersebut. Memuji ketegasannya. Jokowi
terlihat berhasil membuat Indonesia memiliki wibawa kembali.
Salah satu yang merusak wibawa adalah
utang. Kata orang, sekeren apapun seseorang, jika utang bertumpuk, maka biasanya dia
pasti akan tertunduk malu ketika berhadapan dengan si pengutang. Pemeo
mengatakan pula, bahwa jika Anda berhutang kepada seseorang, maka Anda akan menjadi
budaknya. Sebaliknya, jika Anda memberi utang kepada seseorang, maka dia akan
menjadi musuh Anda.
Nah, berdasarkan pameo itu, saya mencoba
mempelototi posisi utang Indonesia. Ternyata, sejak Februari 2015 lalu utang
pemerintah telah bertambah menjadi Rp 2.744,36 triliun dari angka Rp 2.702,29
triliun di akhir Januari. Angka ini ternyata meningkat sebanyak Rp 42 triliun.
Ternyata, dalam dua bulan pertama tahun
2015, utang pemerintah RI sudah bertambah hingga Rp 139,43 triliun karena per
akhir tahun 2014 utang pemerintah “hanya” Rp 2.604,93 triliun.
Komposisi utang pemerintah yang sebesar Rp 2.744,36 triliun itu ternyata didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN). SBN tercatat sebanyak Rp 2.053,61 triliun (74,8%), sementara sisanya adalah pinjaman sebesar Rp 690,75 triliun (25,2%). Pantaslah kita sering tertunduk tak berdaya di hadapan negara lain :)
Komposisi utang pemerintah yang sebesar Rp 2.744,36 triliun itu ternyata didominasi oleh Surat Berharga Negara (SBN). SBN tercatat sebanyak Rp 2.053,61 triliun (74,8%), sementara sisanya adalah pinjaman sebesar Rp 690,75 triliun (25,2%). Pantaslah kita sering tertunduk tak berdaya di hadapan negara lain :)
Lalu, siapa kreditur yang “sudi” memberi utang
ini?. Ternyata, Jepang adalah negara pemberi utang terbesar dengan porsi hingga
32%. Sedangkan Bank Dunia tercatat hanya menempati porsi 26%, disusul ADB
sebesar 16%. Kedua lembaga ini yang kena “sindir” oleh Jokowi Padang pembukaan KAA
lalu. Saya sedikit koreksi pidato presiden, bahwa hutang Dengan IMF sebenarnya sudah dilunasi sejak
tahun 2006 lalu di era SBY. Namun, kalaupun mau tetap dikritik saya kira tidak menjadi masalah:)
Demikianpun, Kemenkeu mengatakan bahwa pinjaman
luar negeri dari Bank Dunia, ADB dan Jepang merupakan sumber pembiayaan yang relatif murah
dan jangka panjang sehingga tidak Perlu dikhawatirkan. Terserahlah…
Bagaimana cara membayarnya?
Untuk pembayaran utang di atas, pemerintah
mengeluarkan dana Rp 18,504 triliun yang digunakan untuk membayar pokok utang
dan bunga selama Februari 2015. Total keseluruhan, dalam APBN 2015, pemerintah
menganggarkan Rp 413,946 triliun untuk pembayaran pokok utang dan bunga ini. Sangat
fantastis. Melebihi biaya untuk subsidi BBM.
Kendati banyak yang tidak setuju, saya anggap saja kita dapat memaklumi. Itulah anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan negara
ini. Keberlangsungan aktifitas harian di negara ini ternyata banyak ditopang
oleh utang. Sayangnya juga, diarahkan untuk membayar bunga utang juga.
Kondisi di atas ternyata telah menjadi lingkaran
setan yang tak berkesudahan. Kendati defisit anggaran dianggap sebagai sebuah
keniscayaan di negara modern –bahkan sekaliber Amrik saja menanggung puluhan
ribu trilyun utang yang harus dibayar- , namun layak dipertanyakan, tidak adakah jalan keluar atau setidaknya upaya meminimalisir beban utang yang terus
menumpuk, terutama terkait pembayaran bunga utang?
Jawaban pertanyaan ini tentu tidak semudah membalikkan
telapak tangan. Kita memaklumi kompleksitas permasalahannya. Kondisi
negara kita sudah seperti benang kusut. Memang, saat ini ada beberapa alternatif yang
diajukan dan telah dilaksanakan. Misalnya, menghilangkan subsisidi BBM yang
menghabiskan hampir 400 Trilyun. Ini telah dijalankan Kendati, menurut BI, kebijakan
ini akan meningkatkan jumlah orang miskin. Minimal dalam jangka pendek. Anggap
saja kita akan terbiasa dengan situasi ini seperti mungkin yang ada di pikiran
pembuat kebijakan pencabutan subsisidi ini. :)
Ada juga opsi, untuk menggenjot pajak sebesar-besarnya
dalam rangka menghemat anggaran. Ini juga telah dijalankan. Berbagai kebijakan
penghematan saya lihat diluncurkan. Bahkan yang terkini, adanya larangan
menggunakan hotel dan perjalanan dinas bagi pejabat. Saya kira, kebijakan ini
bagus, kendati industri perhotelan telah terkena imbasnya. Banyak yang
gulung tikar. Syukurlah, kebijakan ini sudah mulai dilonggarkan di
tahun 2015 ini.
Namun,
kalau kita lebih arif melihat, maka ada satu hal yang mungkin bisa menjadi
bahan pertimbangan. Lihat saja, APBN banyak dianggarkan untuk membayar bunga. Kita ketemu dengan biang kerok utama kesemrawutan ini. Pembayaran bunga
menghabiskan lebih dari 25% anggaran. Uang ini hilang di tangan pengutang.
Dinikmati tanpa kerja dan diperas dari keringat dan pajak rakyat. Sistem ini
sudah demikian sempurna dan nyaris tidak bisa direformasi. Inilah
sistem moneter modern. Defisit anggaran dan bunga adalah sebuah keniscayaan.
Saya kira, tentu tidak arif pula merombak
sistem yang telah ada secara radikal seperti yang digaungkan sebagian kelompok orange. Impossible, dan tidak realistis.
Lalu, bagaimana caranya?. Jawaban saya simple. Mengapa kita tidak memberikan kesempatan kepada sistem keuangan syariah untuk lebih berperan besar?.
Lalu, bagaimana caranya?. Jawaban saya simple. Mengapa kita tidak memberikan kesempatan kepada sistem keuangan syariah untuk lebih berperan besar?.
Sistem keuangan syariah adalah sistem non bunga. Sistem ini telah teruji berabad-abad dan diakui, baik di belahan dunia Islam ataupun Eropa. Sistem ini menegasikan bunga dalam sistem ekonomi.
Anehnya, ketika sistem riba kemudian mengambil alih sistem keuangan, dunia terlihat takluk begitu saja. Tak berdaya. Padahal sejarah menunjukkan bahwa sistem ribawi terus menyempurnakan bentuknya hingga saat ini. Akibatnya mudah ditebak. Krisis demi krisis. Bailout demi bailout menjadi Rutinitas kita. Semua dampak ini adalah hasil nyata dari sistem bunga.
Kalau demikian, mengapa tidak
mencoba resep-resep yang diberikan oleh pakar keuangan syariah saat ini?.
Khususnya untuk Indonesia...Saya kira tugas kita mencoba saja. Misalkan,
ketika para penggerak ekonomi syariah mengajukan opsi untuk membuat sebuah bank
BUMN syariah, lakukan saja :). Toh,
beberapa kendala teknis akan bisa diselesaikan.
Atau ketika ada resep untuk
menempatkan dana APBN dan haji di bank syariah. Lakukan saja-lah. Apa susahnya sih?.
Kayaknya terlalu dipikirkan sekali. Terlalu diperumit.
Atau, ketika para pakar zakat dan wakaf mengajukan rekomendasi untuk menjadikan pajak
sebagai pengurang pajak seperti Malaysia. Just do it.!! Simpel saja.
Jangan
terlalu khawatir bahwa penerimaan pajak akan berkurang. Dulu, ketika Malaysia menerapkan
zakat sebagai pengurang pajak. Departemen perpajakan Malaysia khawatir
sekiranya penerimaan pajak mereka menurun.
Nyatanya, penerimaan pajak justru meningkat. Selidik punya selidik, ternyata kepercayaan masyarakat terhadap negara juga meningkat dikarenakan ikhlas mereka juga bertambah sehingga orang yang selama ini mangkir pajak jadi “bertobat”.
Ternyata, matematika manusia bisa salah. Matematika Tuhan terlihat lebih canggih. Hemat saya, Indonesia bisa meniru langkah Malaysia ini. Insyaallah permasalahan pajak dan pengemplangnya akan sirna. Silahkan dicoba.
Nyatanya, penerimaan pajak justru meningkat. Selidik punya selidik, ternyata kepercayaan masyarakat terhadap negara juga meningkat dikarenakan ikhlas mereka juga bertambah sehingga orang yang selama ini mangkir pajak jadi “bertobat”.
Ternyata, matematika manusia bisa salah. Matematika Tuhan terlihat lebih canggih. Hemat saya, Indonesia bisa meniru langkah Malaysia ini. Insyaallah permasalahan pajak dan pengemplangnya akan sirna. Silahkan dicoba.
Ketika
otoritas negara dan institusi keuangan menunjukkan aksinya, maka masyarakat juga
jangan mau ketinggalan. Jangan habiskan energi selalu mengkritik lembaga keuangan syariah
secara tidak proporsional. Ketimbang membuang energi pikiran dan suara, mengapa
tidak tempatkan saja dana kita di lembaga keuangan syariah. Lembaga-lembaga itu akan
semakin kompetitif. Keberhasilan mereka akan mendorong kesejahteraan ekonomi negeri ini. Akan ada multiplier effect. Tindakan ini jauh
lebih produktif dalam membantu negara ketimbang sibuk mencari celah
kekurangan yang ada. Serahkan saja kepada para ahli untuk melihat celah yang harus
diperbaiki.
Saya
kira, sinerji di atas akan menghasilkan sebuah simponi yang indah. Semoga
negeri kita tidak lagi dicap sebagai negeri yang punya hanya hobby pengutang. Sehingga para delegasi negara lain tidak hanya mengagui keindahan bantu pancawarna nan indah, tapi mereka juga mengagumi ketegasan kita untuk mulai menyembuhkan sistem keuangan yang ada.
Jika
tidak sekarang kapan lagi?

0 Comments