Jumat malam kemarin, Kota Tanjung Balai menjadi headline. Berita tentang pembakaran rumah ibadah menjadi penyebabnya. pemicunya adalah kemarahan dan hati yang membara. Dan, seperti biasa, berbagai analisis dan respon bermunculan, termasuk tulisan kali ini. Saya mendapat info kejadian ini di pagi Sabtunya. Tepat berbarengan ketika saya, bersama si bocah-bocah (Aisha dan Raifa) menuntaskan film Angry Birds yang sudah lama kami tunggu. Angry Birds adalah film produksi tahun 2016 yang diangkat dari sebuah game terkenal di smartphone. Saya yakin, game ini pasti masih terinstall di smartphone Anda, bukan?
Baik game dan filmnya menceritakan hal yang sama yaitu tentang sekawanan burung yang naik pitam karena telur-telur mereka dicuri oleh gerombolan babi. Ceritanya, suatu hari, sekawanan babi datang ke pulau para burung dengan wajah manis dan menawarkan persahabatan.
Padahal?, kawanan babi itu ternyata merencanakan sebuah konspirasi untuk mencuri telur-telur burung yang lucu. Ternyata, kedatangan mereka karena ada udang di balik batu, lho. Para babi sudah lama memendam keingnan menyantap lezatnya telur burung. Dan, itu sudah menjadi obsesi terpendam para babi sejak turun-temurun. Selama ini, mereka tidak pernah menemukan dimana telur itu berada. Kali ini, Raja Babi yang baru bertahta berhasil menemukan lokasi para burung ini. Dan, ia memang berhasil membawa telur-telur itu ke negeri mereka kembali termasuk memprovokasi warganya untuk rela berperang demi telur yang dicuri itu. Hebatnya sebuah provokasi.
Akhirnya, peperangan antara burung dan babi-pun tidak dapat dihindarkan. Di bawah pimpinan si Red, seekor burung berbulu merah, kawanan burung itu memang akhirnya berhasil membawa kembali telur-telur itu ke pulau mereka. Pertarungan yang seru dan dialognya lucu-lucu. Kami sampai menontonnya 3 kali. Film Angry Birds ini penuh dengan animasi yang sempurna. Ceritanya pun dikemas heroik ala burung dan sarat pesan terutama tentang mengelola kemarahan. Jangankan anak-anak, orang setua saya saja suka sekali melihat tontonan animasi ini. Silahkan saja ditonton ya...
Saya kira, orang yang mampu menjadikan sebuah "kemarahan" menjadi produk bernilai jual tinggi tentunya produser Angry Birds ini. Game-nya saja sudah berhasil meraup untung milyaran dollar dari iklan dan berbagai aksesoris yang terkait. Belum lagi dari filmnya ini. Ternyata, marah yang dikemas dalam sebuah logika sehat akan mendatangkan keuntungan bukan?. Apakah ada kemarahan yang bisa dibungkus logika sehat dan bersih?. Jawabannya ada, kemarahan dalam film dan game-lah. :). Saya menyebutnya, "Kemarahan yang dipertontonkan, atau kemarahan yang ditertawakan".
Namun, di dunia nyata, kemarahan itu 100% merusak. Tidak ada kemarahan tanpa kerusakan, entah itu kerusakan benda-benda, hilangnya nyawa atau rusaknya hati. Tidak ada kemarahan di dunia nyata yang menguntungkan, kecuali bagi yang memang berencana menyulutnya. Saya kira, kemarahan di Tanjung Balai kemarin juga tidak menguntungkan -untuk mengatakan sebuah kerugian-. Semuanya menjadi korban, bos. Masih ingat kejadian 1998 bukan. Betapa mahalnya akibat dari sebuah kemarahan.Siapa yang menang? Tidak ada toh. Ada luka yang tak tersembuhkan. Ada dendam yang terus membara.
Di dunia nyata, syarat untuk marah ya harus mencampakkan logika. Tanpa itu, kita tidak akan pernah bisa marah. Atau, minimal, ketika kita marah, harus ada "logika sementara" yang kita buat untuk menjustifikasi kemarahan itu. Misalnya, marah karena perasaan ditindas, marah karena dihina, atau marah karena dizalimi. Itu biasanya alasan yang membuat sebuah kemarahan itu menjadi logis, layak dan bermartabat. Keren yang kebablasan, bukan?.
Makanya, Ali bin Thalib itu hebat sekali. Bayangkan, ia pernah melepaskan seorang musuh di medan peperangan. Padahal Ali sudah bersiap-siap hendak membunuhnya. Si musuh itu telah membunuh banyak pasukan muslim. Ali memiliki semua alasan rasional dan logis untuk melakukannya. Lalu, mengapa Ali melepaskannya?
Selidik punya selidik, ternyata si musuh itu meludahi wajah Ali. Nah, Ali tidak jadi membunuhnya karena ia khawatir bahwa alasan membunuh musuh ini bukan lagi karena Allah, tapi karena kemarahan. Sudah banyak musuh yang ia bunuh di peperangan karena Allah, namun ia khawatir itu tidak terjadi kali ini. Bayangkan, bagaimana hebatnya hati dan pikiran seorang Ali. Berani mencoba?
Apakah ia bisa terjadi di alam manusia kini? Saya kira, beratlah. Kita pasti mengatakan, "kita ini bukan Ali, kok". "Kita ini tertindas dan dihina, kok". Benarkah?,
Memang, Manusia kini sudah terlanjur hidup dalam suasana temperamental. Hot dan stress. Logika kita sering tidak lurus dan hati kita mudah sekali panas bahkan oleh percikan bara sekecil debu. Entah itu karena suara azan dan teriakan yang yang melarang azan. Apalagi kalau kemarahan karena idiologi dan harga diri.
Memang, tidak selamanya kemarahan berasal dari kita, bisa saja kita marah karena ketularan "kemarahan" orang lain. Klop-lah. Dalam perspektif per-iblisan- dan per-setan-an kondisi ini sangat diharapkan. Ini menjadi leverage (daya ungkit) bagi mereka. Low cost high impact. "Ketika seseorang menjadi marah, Aku kan menjadi mata mereka, aku akan memanasi hatinya dan mengalir di darahnya," demikian kata makhluk api ini Mungkinkah ini penyebab maka orang yang marah itu suka main bakar-bakar ya? Hehe
Kejadian Tanjung Balai adalah bukti bahwa kita sangat rentan untuk marah di negeri ini, terlepas ada yang memprovokasi atau tidak, memperjuangkan kebenaran atau merasa terhina karena dinjak harga diri atau tidak. Kita bisa menemukan seribu bahkan sejuta alasan untuk marah, baik untuk mendukung "marahnya para jamaah mesjid" atau "marahnya" orang yang mendengar azan. Kita mudah menajdi Angry Indonesia. Indonesia yang pemarah.
Tapi, kalaupun alasan itu sudah ditemukan, apa gunanya?. Apakah bangsa ini akan langsung menjadi hebat di mata dunia?. Apakah gengsi dan harga diri kita langsung terangkat dan disegani dunia lain?. Apakah agama kita akan diminati orang lain?. Apakah kesenjangan ekonomi akan segera hilang dan terangkat?. Hehe,,tumben nih....:)
Tapi, denger-denger, bangsa ini dikenal dengan bangsa ramah dan lembut, lho.
Tidak ada manusia di negeri ini yang tidak bisa tersenyum. Semuanya suka mengalah dan menahan diri. Saya tetap berkeyakinan, bahwa meskipun katanya, masalah ekonomi menjadi pemicu terpendam, tapi yakinlah, kita sudah terbiasa untuk itu bukan? :). Memangnya, kalau kita semua memiliki uang, kemarahan itu akan hilang?. Makanya, kata ustaz, kuncinya adalah di hati. Tinggi rendahnya kemarahan yang dimiliki seseorang tergantung kepada tinggi rendahnya kualitas hati yang dimilikinya. Kita hidup di dunia penuh cobaan, mau kemana lagi. Setuju,,?
Bro, kalau marah itu bisa membesarkan sebuah negeri. Dari dulu nabi sudah pasti mengajarkan "sunnah marah". Kalau kemarahan itu bisa mendekatkan dengan Tuhan, sudah pasti ada zikir khusus untuk meningkatkan kemarahan. Tidak ada toh? yang ada justru larangan marah dan trik untuk menghindarinya. "Orang kuat itu bukan orang yang menag dalam ertarungan, namun adalah orang mampu mengendalikan dirinya ketika marah", demikian Nabi bersabda.
Sudah deh.
Film Angry Birds mengajarkan banyak hal terutama untuk mengelola kemarahan. Si Red, tokoh utama dalam Agry Birds ini awalnya adalah sosok pemarah yang berupa keras untuk mengelola kemarahannya. Ia bahkan rela masuk ke kelas khusus untuk mendapatkan terapi mengelola kemarahan. Si Red berhasil meskipun berikutnya mereka dihadapkan pada keharusan untuk melawan para babi. Marahnya tersulut tapi kali ini lebih terkelola dan adem. Marah yang produktif ini mendorong semangat juang dan pikiran cerdas para burung. Kali ini, ia melakukannya dengan gentlemen. "The Anger is not solution," demikian pesannya kepada para burung yang sedang marah.
Mudah-mudahan, warga negeri ini menjadi negeri yang lemah lembut dan terhindar dari kemarahan yang merusak. Bukan, apa-apa sih. Kalau kemarahan itu tidak bisa kita hilangkan atau dikelola dengan baik, lalu apa bedanya kita dengan Angry Birds? Wallahu A'lam.

0 Comments