Posts

Meramal Masa Depan Fashion

Saya bukan desainer. Peminat fashion juga tidak, dalam arti tidak terlalu ribet dalam memilih pakaian. Kal a u bersih dan masih layak pakai, saya dengan senang hati memakainya. Katanya, laki-laki begitu ya. Kendati, saya sering juga bertemu kaum pria yang sangat detail dalam memilih bahkan merancang pakaian. Saya kira, manusia yang menjadi "desainer" awal pakaian tentulah Adam dan Hawa yaitu ketika keduanya dipaksa menanggalkan pakaian surga dan telanjang. Karena malu, mereka menutupi tubuh mereka dengan daun-daun dari surga. Tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa bahan awal pakaian buatan manusia adalah daun, benar bukan? Saya tidak mendapatkan info terbuat dari apakah pakaian Adam sebelum akhirnya ditanggalkan oleh Allah. Alquran memang ada menyitir tentang kain sutera. Mungkin saja sutera itulah pakaian Adam dan isterinya. Kendati, tentu kualitas sutera surga sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan sutera di bumi, dengan kualitas terbaik sekalipun. Desainer pakaian...

Sorry Honey,.. It’s not fog, It’s smoke

By: M. Ridwan “Ayah, lihat, kabut pagi banyak sekali, indah sekali” Aisha dan Raifa tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya menyaksikan gumpalan putih menyambut pagi mereka di depan pintu rumah. Seperti biasa, aktifitas mengantar anak sekolah merupakan rutinitas paling membahagiakan yang kami lakukan setiap paginya. Saya kaget dan hampir bahagia. Maklum, memang kami ada rencana untuk menikmati kabut embun ini di Berastagi –kawasan pegunungan indah dan sejuk di Sumut. Namun, kebahagiaan saya -dalam hitungan detik sirna- karena saya langsung menyadari bahwa itu sama sekali bukanlah kabut embun yang dinanti bocah-bocah lugu ini.   Itu adalah ASAP . Entah dari mana datangnya. Saya hanya mencoba menerka-nerka bahwa mungkin saja asap ini adalah   kiriman dari provinsi Riau atau Jambi atau somewhere –lah. Saya kira, dalam kondisi ini tidak begitu begitu penting lagi untuk mengetahui dari mana asal asap putih ini, bukan?. Kalaulah benar asap ini dari Riau, Jambi...

2 (Dua) Pertandingan: Analogi Ekonomi Dunia dan Posisi Ekonomi Islam

Oleh: M . Ridwan Saya sering ditanya mengenai perkembangan ekonomi syariah. Tepatnya, sering mendapat kritikan-lah. Bahkan, para pengkritik itu banyak yang berasal dari kalangan akademis. Saya kira, dengan membuka google, jawaban atas berbagai pertanyaan atau kritikan itu pasti bisa diperoleh.   Tapi, that’s oke, namanya juga bertanya. Mau dijawab syukur, tidak dijawab juga, ngak apa-apa, iya kan.? :) Hmmm, untuk menggambarkan bagaimana perkembangan ekonomi syariah atau ekonomi Islam di dunia ini saya punya analogi sendiri. Boleh sepakat boleh juga tidak.  Analoginya seperti ini..... Ada sebuah pertandingan lari cepat di sebuah hutan. Meriah sekali, karena pertandingan ini dilakukan di dua tempat berbeda, meski berdekatan.   Jarang-jarang ada pertandingan seperti itu di hutan. Pertandingan pertama adalah kompetisi lari antara anjing dan babi. Anjing mewakili ekonomi konvensional yang didasarkan pada paradigma sekuler (tolong garis bawa...

Terseok-Seok Mengembalikan Kejayaan?: Catatan Miris Dunia Arab dan Indonesia

Oleh: M. Ridwan Pagi ini saya tertegun membaca tulisan Ikhwanul Kirim Mashuri di kolom Republika yang mengetengahkan judul yang membuat kita tertegun “ Bahaya Besar Mengancam Dunia Arab ”. Tulisannya menyoroti masa depan 13 juta anak-anak Arab yang dipastikan terancam pendidikan mereka dikarenakan konflik yang berkepanjangan. Sebut saja negara-negara pengekpor pengungsi seperti Suriah, Irak, Afghanistan, Yaman, Sudan atau Libya.-an Sejujurnya, saya memang berencana menulis tema yang sama terkait dengan kondisi dunia Arab saat ini. Untuk menyampaikan unek-unek tentunya. Apa yang terjadi di dirimu wahai negeri Arab?. Syukurlah, dengan adanya tulisan dari kolumnis terkemuka Republika ini, maka unek-unek saya menjadi terwakili, dan tentu saja tulisan beliau lebih dalam dari yang saya inginkan. Lebih luas dan menggigit. :) Saya teringat dengan sebuah Round Table pada tahun 2004 lalu. Saat itu, para “ dedengkot ” ekonomi Islam bertemu di Jeddah untuk membincangkan –...

Invisible Akhirat: Seperti Apakah Kusamnya Cermin Kita?

Oleh: M. Ridwan Momentum Idul Adha 1436 H ini merupakan waktu yang tepat untuk mempertanyakan kembali visi ke-akhiratan kita. Yup , tentu kita tidak hanya menyadari bahwa akhirat itu ada. Tidak cukup, karena Iblis pun mengetahui bahwa akhirat itu ada. Untuk konteks jaman -yang katanya modern ini-, kita membutuhkan sebuah clearest vision (penglihatan yang yang paling terang) akan akhirat. Melebihi terangnya mentari si siang hari. Memangnya, kalau kita mempu melihat akhirat dengan jelas, apa konsekuensinya bagi kehidupan? Tentu banyak sekali. Tingkah laku yang ditunjukkan oleh manusia itu muncul dari sebuah visi . Visi dibentuk dari paradigma (pola pikir). Paradigma dibentuk oleh kebiasaan . Tragisnya, kebiasaan tadi selanjutnya ternyata mampu pula membentuk dan mengkristalisasi paradigma dan visi tadi. Gawat sekali. Seperti multikorelasi dalam regresi linear berganda, tidak persis sih. J Terkait akhirat, kebiasaan sehari-hari inilah yang kemudian menjadi barometer ...