Posts

Daging Sapi Vs Daging Babi: Sekuat Apa Pertahanan Warga Muslim Negeri Ini?

Oleh: M. Ridwan Hari-hari di bulan kemerdekaan ini diwarnai gonjang-ganjing masalah ekonomi. Setelah beberapa hari sebelumnya publik Indonesia dihentakkan dengan harga daging sapi yang melonjak tinggi dan kemarin ditutup dengan penurunan nilai rupiah yang anjlok sampai hampir menyentuh angka 14.000 rupiah/ dollar. Dalam tulisan kali ini, saya tertarik dengan pembahasan harga daging sapi yang melonjak. Iseng-iseng saya melihat website PD Pasar Jaya untuk melihat berapa sih perbedaan antara daging sapi dan daging babi. Cukup mengejutkan. Untuk minggu ke 2 bulan Agustus 2015 ini, harga daging sapi jenis Has (Paha Belakang) mencapai 119.091 rupiah sedangkan daging babi berlemak mencapai 68.000 rupiah. Oh ya, daging kambing dihargai 108.375 rupiah. Tentu saja, biasanya, harga-harga yang tertera mungkin saja akan berbeda dengan kondisi di pasar. Namun, setidaknya kita mendapatkan sebuah kenyataan bahwa harga daging sapi itu lebih mahal dibandingkan dengan harga daging babi...

Selamat Buat Rupiah yang Anjlok, Mudah-Mudahan Kita Tidak Cari Selamat Sendiri

Oleh: M. Ridwan Apapun ceritanya, hari ini Rupiah sudah terpuruk. Betapapun hebatnya program Nawacita Kabinet Jokowi namun hari Rabu ini, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rapor merah. Situs okezone.com melansir Bloomberg Dollar Index, menunjukkan bahwa pada perdagangan non-delivery forward (NDF) Rupiah melemah 192 poin atau 1,42 persen ke Rp13.800 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp13.607 per USD. Pergerakan Rupiah, memang sempat menembus level Rp13.800 per USD. Namun, pada pukul 10.00 WIB, Rupiah kembali ke level Rp13.798 per USD. Bagi kebanyakan masyarakat awam terutama yang tidak memiliki Dollar, berita ini tentu tidak terlalu memusingkan kepala. Paling-paling nanti, pusingnya ketika harga-harga barang terutama barang impor melonjak. Masyarakat seperti kita sudah terbiasa dengan segala kejutan-kejutan politik, ekonomi atau bencana alam yang silih berganti terjadi di negeri ini. Termasuk mungkin apabila krisis e...

Get The Sipirit of Fikih Muamalah: Antara Over Fleksibel dan Fanatisme Mazhab

Oleh: M. Ridwan Banyak kalangan yang masih meragukan bahwa muamalah itu bersifat fleksibel. Padahal, kaidah utama dalam muamalah berbunyi al-ashl fi al-mu’amalah al-ibahah illa dalla al-dalil ‘ala tahrimihi  (hukum asal dari muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya). Kaidah ini sangat mudah dipahami, yaitu diperbolehkan melakukan aktifitas atau mendesain sebuah akad muamalah selama tidak ada ketentuan syariah yang melarangnya. Kaidah muamalah ini berbeda dengan kaidah ibadah yaitu al-ashl fi al-‘ibadah al-tahrim illa dalla al-dalil ‘ala ibahatihi  (hukum asal dari ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang membolehkannya) . Dalam ibadah  tidak diperbolehkan mendesain sebuah praktik ibadah baru kecuali ada aturan syariah yang membolehkannya. Misalnya diharamkan, menambah rakaat sholat subuh menjadi 4 rakaat karena ingin lebih khusuk di pagi hari, dsb. Jamal al-Din al-‘Atiyyah mengatakan bahwa kebolehan dalam muamalah it...

Screening Harta Ala Ibrahim bin Adham, Berani Coba?

Oleh: M. Ridwan "Setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka nerakalah lebih berhak atasnya”  (Hadis) Ibhrahim bin Adham seorang tokoh sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Suatu hari, ketika sedang tertidur di bawah sebuah pohon, sayup-sayup ia mendengar percakapan dua malaikat. Malaikat pertama berkata ”lihatlah, itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang mulia yang doanya pasti dikabulkan oleh Allah karena Allah begitu menyayanginya”. Malaikat kedua berkata, ”tidak, sekarang tidak lagi. 40 hari yang lalu, segala amal dan doanya memang diterima Allah, namun sekarang tidak lagi, karena Ibrahim bin Adham ini telah memakan harta haram.” Ibrahim bin Adham kaget dan terbangun dari tidurnya. Ia kaget karena setahunya ia tidak pernah memakan harta yang haram. Jangankan yang haram, yang subhat (tidak jelas haram atau halal) saja ditinggalkannya. Lalu, harta haram mana yang dimaksudkan oleh malaikat itu?. Ia bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya ia i...

Do We Have a Same Dream? : Menuju Lembaga Keuangan Islam Ideal

Oleh : M. Ridwan Tak diragukan lagi, harapan sebagian besar komunitas muslim di dunia terhadap realisasi praktik ekonomi Islam pasti lebih dominan ditujukan kepada lembaga keuangan khususnya perbankan Islam. Ketika awal munculnya 3 dekade lalu, lembaga keuangan ini diharapkan bisa menjadi penghibur lara umat Islam yang telah begitu lama mendambakan implementasi nilai-nilai syariah dalam kehiduan sehari-hari.  Kenapa dipilih bidang keuangan? Jawabannya tidak lain bahwa bidang inilah yang memainkan peran penting bagi terciptanya tatanan ekonomi dunia yang berkeadilan. Selama ini, lembaga keuangan ribawi dianggap sebagai biang kerok seluruh kerusakan ekonomi di dunia ini dan merembet kepada bidang-bidang lainnya. Tak heran kalau, sampai saat ini, ada kalangan yang terus menunjukkan sikap “ permusuhan ” instusi perbankan termasuk perbankan Islam. Menujukkan sikap “permusuhan” terhadap sistem ribawi saya kira merupakan kewajiban kita semua, tetapi menujukkan s...

Jahiliy Age : Catatan Di Hari Minggu

Oleh: M. Ridwan "Demand terhadap sosok orang  baik dan benar terus meningkat sementara supply-nya terus berkurang. Makanya, dulu, berita Jokowi dan Dahlan Iskan paling mudah mudah ditemui di berbagai media. Para kandidat pilkada pun  ramai-ramai melakukan dumping dan replikasi sosok keduanya karena dianggap citra -nya baik" Sebelum kedatangan Islam, kaum Quraisy Mekkah disebut hidup dalam kejahiliyyahan (kebodohan). Mereka bodoh bukan karena tidak pintar dagang, politik, seni atau budaya. Mereka jahiliyyah karena ukuran kebenaran yang diakui hanyalah berasal dari akal pikiran dan budaya manusia. Parameter ini tentu sangat berbeda dan berpeluang mengalami deviasi dan distorsi dari kebenaran hakiki yang berasal dari wahyu. Mayoritas suku Quraisy saat itu adalah pedagang. Mereka ahli di bidang itu. Mereka juga pintar sastra dan kuat persatuan secara kabilah. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pembiayaan bagi hasil itu adalah model perniagaan yang biasa dilakukan suku Qu...

Berebut Jadi Pemimpin: Pilihan Cerdas atau Bodoh? (Highlight Jelang Pilkada)

Oleh : M. Ridwan “ Sesungguhnya pemimpin itu bagaikan perisai, di mana orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. Jika ia menyuruh bertaqwa kepada Allah dan berlaku adil, maka ia akan mendapat pahala, dan jika dia menyuruh selainnya, maka ia mendapat dosa ” (H.R Bukhari dan Muslim) “ Yang aku takuti terhadap umatku ialah para pemimpin-pemimpin yang menyesatkan ” (HR Abu Daud) Imam al-Tabari di dalam kitab  Tarikh al-Umam wa al-Muluk  menjelaskan bahwa ada kaitan antara akhlak dan moral pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya. Beliau memberikan contoh tiga khalifah di jaman Umayyah yaitu al-Walid Ibn Abd al-Malik, Sulaiman Ibn Abd al-Malik dan Umar Ibn Abd al-Aziz. Menurutnya, Khalifah al-Walid merupakan pemimpin yang suka kepada pembangunan dan perindustrian, maka masyarakatnya juga bersaing dalam pembangunan dan mendirikan bangunan pencakar langit. Hal ini berbeda dengan rakyat di jaman Sulaiman Ibn Abd al-Malik. Menurutn...