Posts

The Handbook of Iblis: Mencoba Menyingkap Jejak Iblis Di Bumi Melalui Dialog Kontemporer

Image
Oleh: M. Ridwan dan Fera Susanti (Ibrahim berdoa): "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah Aku ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.   Dan jadikanlah Aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) Kemudian.   Dan jadikanlah Aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan”, (Asy-Su’ara, 83-85)               Kali ini saya promosi buku ya :) Tentang Buku The Handbook of Iblis yang diterbitkan oleh FEBI Press  dalam rangka menyambut Ramadhan 1416 H kali ini. Kami sendiri "tersinggung" dengan kehadiran buku ini. Soalnya, si Iblis terlihat begitu piawai mendesain jebakannya untuk manusia. :) Ide awal penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal.           Pertama , adanya keinginan kami untuk  memberikan hadiah kepada kedua puteri tercinta kami yaitu Aisha Sahrazeida Afira (8 Tahun) dan Raifa Filza ...

Ketika “Kaset Mengaji” Sudah Dianggap Mengganggu

Oleh: M. Ridwan Beberapa waktu ini, penulis membaca adanya polemik seputar pemutaran kaset-kaset ngaji di mesjid-mesjid di negeri ini. Adalah Pak JK yang merupakan wapres negeri ini yang mewacanakan untuk mengevaluasi kembali tradisi pemutaran kaset ngaji di mesjid-mesjid Indonesia. Alasannya, bahwa banyak pihak yang terganggu dengan suara kaset ini. Sarannya, perlu ada regulasi yang mengatur pemutaran kaset-kaset ini sehingga tidak terlalu lama. Selain itu , masih menurut JK- alangkah lebih baik jika yang membaca Alquran adalah “manusia asli” bukan kaset rekaman. Saya kira, pendapat JK boleh-boleh saja. Apalagi dengan kapasitasnya sebagai seorang wapres, tentulah harus mengakomodir banyak kepentingan dan pendapat. Saya yakin, mungkin banyak yang curhat kepada beliau betapa terganggunya para pendengar kaset-kaset itu ketika setiap jelang masuknya sholat lima waktu, kaset-kaset itu mulai berbunyi. Saya mencoba menebak-nebak, mungkin saja yang terganggu justru bukan dari kalanga...

Mesjid Vs Mall: Gerbang Surga Yang Tak Lagi Menarik?

Oleh: M. Ridwan   Membandingkan antara Mall dan Mesjid sepertinya memang kurang tepat. Bahasa kerennya, tidak “ apple to apple”. Mesjid adalah tempat ibadah sedangkan mall adalah tempat berbelanja dan “cuci mata”. Bagaimana mungkin keduanya dibandingkan?. Namun, jika dilihat dari sisi jumlah pengunjung dan kekuatan daya tariknya, saya kira kita bisa melakukan perbandingan antara keduanya. Lalu, bagaimana hasil perbandinganya?. Saya kira, anak TK di negeri ini juga akan tahu jawabannya. Silahkan, tanyakan kepada mereka, mau jalan-jalan ke mesjid atau ke mall?. Saya, yakin, mereka dengan sukacita akan memilih ke mall. Sehingga, memang tak perlu bersusah payah untuk menentukan pemenangnya. Pesona mall dan tempat perbelanjaan harus diakui melebihi mesjid. Hal ini juga diakui dan senada dengan hasil penelitian dari Prof. Abdullah bin Abd. Ghani dari UUM Malaysia dalam acara Seminar Internasional dan Workshop Pemberdayaan Ekonomi Mesjid tanggal 30-31 Mei yang digagas oleh FEBI mi...

Tragedi Rohingya: Ketika Manusia Berupaya Menjadi Iblis

Oleh: M. Ridwan Tak ada kata-kata yang mampu melukiskan penderitaan penduduk etnis Rohingya di Myanmar.  Penduduk asli Myanmar ini dipaksa meninggalkan negeri leluhur mereka hanya karena mereka dianggap tidak pantas menjadi penduduk negeri. Alasan lainnya, -sebagaimana diungkapkan oleh Ashin Wirathu -sang biksu penebar teror- bahwa ia tidak ingin Myanmar seperti Indonesia, dimana muslim akhirnya menjadi mayoritas. Supaya hal tersebut tidak terjadi, maka etnis Rohingya yang didominasi muslim harus dienyahkan dari bumi Myanmar. Bagaimanapun caranya. Maka, pembunuhan dan kekejian terhadap etnis Rohingya menjadi tak terelakkan. Nyawa mereka menjadi begitu murahnya. Bahkan si Ashin yang berkepala plontos ini menyamakan mereka dengan anjing gila yang harus dibunuh. Betapa mengerikan. Maka, tak heran jika majalah ternama TIME memuat foto sang biksu sebagai cover dan menulis judulnya dengan besar “ THE FACE OF BUDHIST TERROR ”. Artinya, fakta kebengisannya bukanlah isapan jempol ...

Alquran Langgam Jawa: Gaya-Gayaan ala Indonesia?

Oleh: M. Ridwan Sejujurnya, awalnya, saya tidak ingin membahas topik ini. Bukan saja karena kompetensi saya sangat terbatas dengan seluk-beluk teknik baca Alquran, tapi setahu saya di Pulau Jawa, ada ratusan ribu Qari-Qariah yang sangat piawai melantunkan Alquran sekaligus menguasai sampai sedetail-detailnya hal ihwal qiraah Alquran dan hukum bacaanya. Serahkan saja kepada ahlinya. Namun, karena isunya sudah kadung heboh, maka saya kira, ada baiknya juga untuk ikut nimbrung. Lagipula, tema ini sesuai dengan tema blog yaitu negeri gaya-gayaan :) Kemarin sore, saya mendapatkan broadcast tentang Alquran yang dibacakan dengan langgam Jawa. Video itu di sharing di beberapa group WA. Langgam ini dibawakan di istana negera dalam acara Isra Mi’raj Nabi yang pasti dihadiri para Dubes dari negara lain termasuk Timur Tengah. Sejujurnya, langgamnya agak mengusik telinga awam saya. Baik tajwid maupun   makharijul hurufnya agak aneh saja. Saya yakin langgam ini pasti juga aneh d...