Ticker

6/recent/ticker-posts

Pilkada dan Narkoba


By: M. Ridwan

Kali ini kita mau bincang-bincang tentang narkoba di Indonesia. Berbagai berita menunjukkan fakta bahwa penyebaran narkoba di Indonesia sudah berada pada tahap mengerikan, bukan lagi memprihatinkan. Bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti, manakala jumlah pecandu narkoba sudah tak terhitung dan mereka juga punya hak pilih, maka bisa saja para bandar narkoba pun berani mencalonkan diri masuk ke ajang Pilkada, bukan?.

Apalagi, kalau beberapa jenis narkoba dilegalkan, maka bukan tidak mungkin, iklan kampanye pun berubah, misalnya, “Pilihlah calon A, karena terbukti sukses melegalkan ganja. Atau, pilihlah si A karena akan membuat para pecandu narkoba sehat dan sejahtera”. Ini analisis asal-asalan, sih, tapi bisa saja terjadi.

Saya pernah menulis di blog ini dengan judul “Republik Candu” yang terinspirasi dari fenomena perokok yang terus bertambah di negeri ini. Dengar-denger sih, para pecandu narkoba itu dimulai dari aktifitas merokok, lho. Jangan marah ya para perokok. So, hati-hatilah PARA perokok untuk membentengi diri, supaya tidak masuk ke dalam tahap advance dari merokok, yaitu menjadi pemakai narkoba. :)

Lho, bukankah narkoba dilarang di negeri ini?

Dilarang saja sudah begini parahnya penyebaran narkoba. Konon pula kalau tidak dilarang. Sepintar dan segesit apapun aparat hukum, para bandar narkoba ternyata lebih lihai dan canggih. Kuantitas peredaran narkoba pun sudah gila-gilaan. Berton-ton. Ada kecurigaan aparta ikut mem-backing. Maka, saya setuju dengan meme WA yang beredar. Bunyinya, “ Kalau narkoba yang masuk ke Indonesia sudah berton- ton, maka itu namanya ngajak perang, bukan lagi pengedar kelas teri,.” Negeri pemasoknya juga itu-itu juga. Apa sih maksud lu?

Saya yakin, penyebaran naroba di Indonesia sudah masuk ke seluruh darah dan sendi masyarakt. Kasus yang tertangkap dan diberitakan itu hanya puncak gunung es. Tanya saja masyarakat kita, dari mulai dari kampung  sampai ke kota-kota, niscaya mereka akan dengan mudah menemukan pemakai atau pecandu narkoba di tempat masing-masing. Tapi, banyak yang tidak terang-terangan mengaku. Narkoba agaknya menjadi rahasia umum saja. Maka, saya sangat setuju, dengan gebrakan BNN yang tegas terhadap para pengedar dan pemakai narkoba yang coba-coba mencicipi barang haram ini. Bahkan ada perintah tembak di tempat.

Tak terhitung artis yang tertangkap, katanya untuk menambah stamina. Ada pula aparat tertangkap, mungkin stress karena pekerjaan ya. Atau anak remaja yang kehilangan perhatian dan kasih sayang orang tua. Narkoba tidak mengenal tua muda, laki-laki, perempuan. Semua digarap menjadi korban para bandar. Ngeri….

Maka, Pilkada dan narkoba bisa dihubungkan. 
Misal, ada peringatan dari BNN untuk mewaspadai kemungkinan dana kampanye bisa berasal dari bandar narkoba. Dari sebuah berita, BNN bahkan mewanti-wanti jika Pilkada serempak nantinya rawan kecolongan dana dari para bandar. Wah, kaget ya?. Hati-hati ya para timses.

Setahu saya, berdasarkan iklan kampanye, para calon di ajang Pilkada memang tidak banyak  yang jor-jor-an memilih iklan pemberantasan narkoba. Maka, saya mengangkat topi bagi yang bertekad menjadikan narkoba sebagai isu penting dalam kampanye mereka.

Bagi yang enggan, saya bertanya-tanya mengapa ya? Apa karena iklan narkoba tidak seksi, sama seperti iklan sampah yang tidak menarik, gitu?. Apakah takut nantinya, para pecandu narkoba malah tidak memilih, jika ada kampanye untuk memberantas narkoba?. Bagaimana pula jika ada 200 ribu pemakai narkoba mendatangi seorang calon dan berkata, kami siap memilih Bapak/Ibu dengan syarata, biarkan kami memakai narkoba. Berani terima ngak ya? 200 ribu orang tuh…

Hehe, hush ngak boleh syu’uzzhan, jangan berpikir macam-macem, dosa tahu.  Saya yakin, para calon akan menolak mentah-mentah. Emang, mereka ingin melihat negeri dihancurkan narkoba?. Pasti ngak lah.

Makanya, Pilkada dan narkoba saya hubung-hubungkan (mode usil: on)…
Beberapa waktu lalu, ada isteri seorang walikota yang tertangkap menggunakan narkoba. Katanya sih si isteri menjadi korban dan pantas direhabilitasi. Wah,,kasihan.  Point saya, apakah si isteri pernah menjadi timses suami atau menjadi korban narkoba setelah menjadi isteri pejabat?

Ada pula aparat yang tertangkap mengedarkan narkoba. Di Lampung, ada seorang hakim yang tertangkap menggunakan narkoba. Bukannya memberi contoh baik, malah menjadi cibiran. Nauzubillah.

Bahkan, dalam sebuah berita disebutkan ada lima bakal calon Pilkada dari sebuah daerah, terindikasi menggunakan narkoba, kalau ngak salah namanya  Benzo. Saya ngak tahu makhluk apa itu. Gila man.  What a crazy world, welcome to this strange world...!!! . Tapi saya yakin, calon yang berlaga di Pilkada tidak seperti itu ya.. Amin.

Namun, tentunya kita sangat prihatin. Masyghul, dan mungkin tidak tahu harus berbuat apa. Everyday kita mendengar berita narkoba. Every seconds, kita mendengar jerit pilu para orang tua dari anak yang menjadi korban narkoba. Menyedihkan sekali.

Nah, maksud saya nih.
Para calon seyogyanya harus peduli dengan isu ini. Meski tidak seksi dan menarik, namun kampanye anti narkoba itu sudah bernilai ibadah. Niatkan untuk menyelamatkan generasi. Itu pahalanyangak tanggung-tanggung. Sampai anak cucu. Kalaupun kalah bertanding, pahalanya sudah direkap lebih dahulu di alam langit. Jadi bekal untuk di akhirat. Mana tahu amal ibadah yang lain kurang alias tekor. Pintar menghitungah…:)

Untuk para timses , baik individu atau partai, mana depan umat di tangan Anda.
Timses harus harus berani mengingatkan calon bahwa narkoba yang penuh halusinasi akan megambil alih dunia nyata, maka kampanye ingtakan mereka untuk menyelamatkan dunia nyata ini. Ingatkan para calon tentang risiko tanggung jawab seorang pemimpin jika masyarakat sudah kecanduan narkoba. Dosanya akan mengalir dan menghapus kebaikan yang sudah dikumpul.

Ngak usah muluk-muluk memimpikan yang sejahtera atau terangkat harkat hidup mereka jika narkoba telah menjadi candu. Memangnya enak memimpin rakyat yang sakau dan overdosis?. Emangnya berkah sebuah daereah dimana pecandu narkoba bertambah terus setiap hari?

Tapi saya haqqul yakin, bahwa para timses dan calon Pilkada sudah memikirkan hal ini.
Saya lihat, para timses banyak dari kalangan ulama dan ustaz. Jadi pasti banyak yang mengingatkan mereka. Syukurlah.

Untuk yang sudah kadung diamanahkan menjadi pemimpin, maka seyogyanya masalah narkoba harus menjadi masalah isu utama. Galakkan gerakan bersihkan lingkungan dari narkoba. Selamatkan generasi muda dan rumah tangga di lingkungan kita. 

Nah, untuk kita, para rakyat jelata ini.
Seksamalah memilih calon. Pilihlah yang rekam jejaknya sudah teruji dalam perhatian kepada penanggulangan narkoba. Lihatlah timsesnya, mana tahu ada yang pecandu narkoba..:)

Wallahu a'lam.






Post a Comment

0 Comments