By: M. Ridwan
Kali ini kita mau bincang-bincang
tentang narkoba di Indonesia. Berbagai berita menunjukkan fakta bahwa
penyebaran narkoba di Indonesia sudah berada pada tahap mengerikan, bukan lagi
memprihatinkan. Bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti, manakala jumlah
pecandu narkoba sudah tak terhitung dan mereka juga punya hak pilih, maka bisa
saja para bandar narkoba pun berani mencalonkan diri masuk ke ajang Pilkada,
bukan?.
Apalagi, kalau beberapa jenis
narkoba dilegalkan, maka bukan tidak mungkin, iklan kampanye pun berubah,
misalnya, “Pilihlah calon A, karena terbukti sukses melegalkan ganja. Atau,
pilihlah si A karena akan membuat para pecandu narkoba sehat dan sejahtera”.
Ini analisis asal-asalan, sih, tapi bisa saja terjadi.
Saya pernah menulis di blog ini
dengan judul “Republik Candu” yang terinspirasi dari fenomena perokok yang
terus bertambah di negeri ini. Dengar-denger sih, para pecandu narkoba
itu dimulai dari aktifitas merokok, lho. Jangan marah ya para perokok. So,
hati-hatilah PARA perokok untuk membentengi diri, supaya tidak masuk ke dalam
tahap advance dari merokok, yaitu menjadi pemakai narkoba. :)
Lho, bukankah narkoba
dilarang di negeri ini?
Dilarang saja sudah begini
parahnya penyebaran narkoba. Konon pula kalau tidak dilarang. Sepintar dan
segesit apapun aparat hukum, para bandar narkoba ternyata lebih lihai dan
canggih. Kuantitas peredaran narkoba pun sudah gila-gilaan. Berton-ton. Ada
kecurigaan aparta ikut mem-backing. Maka, saya setuju dengan meme WA yang beredar.
Bunyinya, “ Kalau narkoba yang masuk ke Indonesia sudah berton- ton, maka itu
namanya ngajak perang, bukan lagi pengedar kelas teri,.” Negeri pemasoknya juga
itu-itu juga. Apa sih maksud lu?
Saya yakin, penyebaran naroba di
Indonesia sudah masuk ke seluruh darah dan sendi masyarakt. Kasus yang
tertangkap dan diberitakan itu hanya puncak gunung es. Tanya saja masyarakat
kita, dari mulai dari kampung sampai ke
kota-kota, niscaya mereka akan dengan mudah menemukan pemakai atau pecandu
narkoba di tempat masing-masing. Tapi, banyak yang tidak terang-terangan
mengaku. Narkoba agaknya menjadi rahasia umum saja. Maka, saya sangat setuju,
dengan gebrakan BNN yang tegas terhadap para pengedar dan pemakai narkoba yang
coba-coba mencicipi barang haram ini. Bahkan ada perintah tembak di tempat.
Tak terhitung artis yang
tertangkap, katanya untuk menambah stamina. Ada pula aparat tertangkap, mungkin
stress karena pekerjaan ya. Atau anak remaja yang kehilangan perhatian dan
kasih sayang orang tua. Narkoba tidak mengenal tua muda, laki-laki, perempuan.
Semua digarap menjadi korban para bandar. Ngeri….
Maka, Pilkada dan narkoba bisa
dihubungkan.
Misal, ada peringatan dari BNN untuk
mewaspadai kemungkinan dana kampanye bisa berasal dari bandar narkoba. Dari sebuah
berita, BNN bahkan mewanti-wanti jika Pilkada serempak nantinya rawan kecolongan
dana dari para bandar. Wah, kaget ya?. Hati-hati ya para timses.
Setahu saya, berdasarkan iklan
kampanye, para calon di ajang Pilkada memang tidak banyak yang jor-jor-an memilih iklan pemberantasan
narkoba. Maka, saya mengangkat topi bagi yang bertekad menjadikan narkoba sebagai
isu penting dalam kampanye mereka.
Bagi yang enggan, saya bertanya-tanya
mengapa ya? Apa karena iklan narkoba tidak seksi, sama seperti iklan sampah yang
tidak menarik, gitu?. Apakah takut nantinya, para pecandu narkoba malah tidak
memilih, jika ada kampanye untuk memberantas narkoba?. Bagaimana pula jika ada
200 ribu pemakai narkoba mendatangi seorang calon dan berkata, kami siap
memilih Bapak/Ibu dengan syarata, biarkan kami memakai narkoba. Berani terima
ngak ya? 200 ribu orang tuh…
Hehe, hush ngak boleh syu’uzzhan,
jangan berpikir macam-macem, dosa tahu. Saya
yakin, para calon akan menolak mentah-mentah. Emang, mereka ingin melihat
negeri dihancurkan narkoba?. Pasti ngak lah.
Makanya, Pilkada dan narkoba saya
hubung-hubungkan (mode usil: on)…
Beberapa waktu lalu, ada isteri
seorang walikota yang tertangkap menggunakan narkoba. Katanya sih si isteri
menjadi korban dan pantas direhabilitasi. Wah,,kasihan. Point saya, apakah si isteri pernah menjadi
timses suami atau menjadi korban narkoba setelah menjadi isteri pejabat?
Ada pula aparat yang tertangkap
mengedarkan narkoba. Di Lampung, ada seorang hakim yang tertangkap menggunakan
narkoba. Bukannya memberi contoh baik, malah menjadi cibiran. Nauzubillah.
Bahkan, dalam sebuah berita
disebutkan ada lima bakal calon Pilkada dari sebuah daerah, terindikasi
menggunakan narkoba, kalau ngak salah namanya Benzo. Saya ngak tahu makhluk apa itu. Gila man. What a crazy world, welcome to this
strange world...!!! . Tapi saya yakin, calon yang berlaga di Pilkada tidak seperti itu ya.. Amin.
Namun, tentunya kita sangat prihatin.
Masyghul, dan mungkin tidak tahu harus berbuat apa. Everyday kita
mendengar berita narkoba. Every seconds, kita mendengar jerit pilu para
orang tua dari anak yang menjadi korban narkoba. Menyedihkan sekali.
Nah, maksud saya nih.
Para calon seyogyanya harus peduli
dengan isu ini. Meski tidak seksi dan menarik, namun kampanye anti narkoba itu
sudah bernilai ibadah. Niatkan untuk menyelamatkan generasi. Itu pahalanyangak
tanggung-tanggung. Sampai anak cucu. Kalaupun kalah bertanding, pahalanya sudah
direkap lebih dahulu di alam langit. Jadi bekal untuk di akhirat. Mana tahu
amal ibadah yang lain kurang alias tekor. Pintar menghitungah…:)
Untuk para timses , baik individu
atau partai, mana depan umat di tangan Anda.
Timses harus harus berani mengingatkan
calon bahwa narkoba yang penuh halusinasi akan megambil alih dunia nyata, maka
kampanye ingtakan mereka untuk menyelamatkan dunia nyata ini. Ingatkan para
calon tentang risiko tanggung jawab seorang pemimpin jika masyarakat sudah
kecanduan narkoba. Dosanya akan mengalir dan menghapus kebaikan yang sudah
dikumpul.
Ngak usah muluk-muluk memimpikan
yang sejahtera atau terangkat harkat hidup mereka jika narkoba telah menjadi
candu. Memangnya enak memimpin rakyat yang sakau dan overdosis?.
Emangnya berkah sebuah daereah dimana pecandu narkoba bertambah terus setiap
hari?
Tapi saya haqqul yakin, bahwa
para timses dan calon Pilkada sudah memikirkan hal ini.
Saya lihat, para timses banyak
dari kalangan ulama dan ustaz. Jadi pasti banyak yang mengingatkan mereka.
Syukurlah.
Untuk yang sudah kadung
diamanahkan menjadi pemimpin, maka seyogyanya
masalah narkoba harus menjadi masalah isu utama. Galakkan gerakan bersihkan lingkungan dari narkoba. Selamatkan generasi muda dan rumah tangga di lingkungan kita.
Nah, untuk kita, para rakyat jelata ini.
Seksamalah memilih calon. Pilihlah yang rekam jejaknya sudah teruji dalam perhatian kepada penanggulangan narkoba. Lihatlah timsesnya, mana tahu ada yang pecandu narkoba..:)
Wallahu a'lam.


0 Comments