Posts

The World After Corona: Seribu Ahwal, Sejuta Tafakkur?

Image
By: M. Ridwan “What you seek is seeking you.” ― Mawlana Jalal-al-Din Rumi Ketika tulisan ini dibuat, 19 April, Indonesia sedang bertarung mengalahkan Covid-19 dan belum memasuki masa puncak pandemi. Artinya, diperlukan beberapa bulan mendatang supaya virus ini terkendali dan hengkang dari negeri pertiwi.  Konsekuensinya, kesabaran warga negeri ini diharapkan bertahan meski dihantui angka dan data, entah itu korban jiwa, statistik ekonomi yang anjlok, atau defisit negara di depan mata.   Tak hanya Indonesia, Covid-19 lebih dahulu membungkam negara lain di sana, dengan aksi yang tak kalah ganas. Si virus tak memilih negara, mau terkebelakang atau adikuasa, meyakini Tuhan atau tidak, semua mendapat giliran, menjadi korban.  Pemenangnya?, mungkin siapa yang berhasil “melandaikan” kurva penyebaran. Jika tercapai, negara yang bersangkutan bolehlah kembali ke kehidupan sedia kala, meski mungkin serangan ke dua bisa saja terjadi. Atau reinfeksi dan pasie...

The World After Corona: Mewaspadai Tuhan yang Mungkin “Hilang”

Image
By: M. Ridwan “When you can see God in small things, you'll see God in all things.” ― Wise Word- To the point saja.  Covid-19 sedang mewabah. Ikhtiar sudah dilakukan manusia. Lockdown, social distancing, sampai kepada pembuatan antivirus. Tinggallah masa menunggu. Harap-harap cemas. Antara khauf dan raja’ kata para ustaz.  Soalnya, meski pengidapnya bisa sembuh tapi sebaran wabahnya begitu massif. Siapa yang tak takut. Lalu, katakanlah vaksin anti Covid-19 ditemukan, dalam waktu 3-6 bulan mendatang –itu doa kita pastinya-, lalu, ada pertanyaan, saya kira cukup menggelitik,  ”Seperti apa peran Tuhan di hati manusia ketika wabah Corona ini SIRNA, di muka bumi?. “Akankah Dia KEMBALI disembah dan dihargai oleh manusia sebagai Tuhan, dengan penuh keiklasan?. “Atau, apakah mungkin keberadaan Tuhan justru akan “hilang?, di hati penduduk bumi?” Maaf, jangan salah arti dengan pertanyaan "konyol" di atas. Setidaknya ada beberapa sebaba meng...

Karena Corona Tak Butuh Visa

Image
By: M. Ridwan "I think the world should unite and focus on strong health systems to prepare the whole world to prevent epidemics because viruses don't respect borders, and they don't need visas". (Tedros Adhanom)   Akhirnya, berita tak diharapkan itu muncul juga. Pengidap virus Corona ditemukan di Indonesia..!!!. Lebih 2 bulan virus ini menyebar dari Wuhan, kota di Tiongkok yang dicurigai sebagai episentrum pertama, ke seantaro dunia. Selama itu pula, publik dunia heran dengan negeri ini karena tak memiliki penderita yang terinfeksi. Semua mereka-reka, keajaiaban apa yang terjadi dengan daya tahan tubuh warga negeri ini?. Sebegitu hebatkah fisik warga negeri ini?. Jangan menyangkal bahwa kitapun bangga, bukan?   Namun, kenyataan kemarin berkata lain. Indonesia tak jauh beda dengan negara lain. Rentan. Sang virus yang tak kasat ini “berhasil” menjangkiti warga negeri ini. Bermula dari Depok, tanda-tanda kepanikan mulai tampak, dibuktikan dengan aksi punic bu...

Ketika Narasi Menghancurkan Negeri-Negeri

Image
Oleh: M. Ridwan Apakah suatu bangsa atau negeri dapat hancur karena sebuah narasi? Jawabannya, SANGAT BISA...!! Silahkan di googling. Saya kaget bahwa perang Vietnam dan Amerika 1964 yang dikenal kejam dan brutal itu justru dipicu oleh Hoaks. Alkisah, Kementerian Pertahanan Amerika membuat narasi bahwa ada kapal perang Vietnam yang menyerang kapal Amerika. Sontak saja, Amerika marah. Padahal, isu ini hoaks semata. Kebohongan ini baru diakui oleh Amerika pada tahun 2005 lalu. Sayangnya, perang terlanjur terjadi dan memakan korban lebih dari 3 juta orang. Seramnya...!! Film Rambo sampai dibuat beberapa versi berdasarkan perang ini. Tak kalah dustanya. Sebelum itu, tepatnya tahun 1939, Hitler membuat narasi bahwa Polandia telah menembak tentara Jerman. Narasi ini diterima publik, terlihat masuk akal. Jerman lalu menyerang Polandia dan perang Dunia II berkecamuk. Padahal, justru tentara Jerman-lah yang melakukan penembakan itu. Bayangkan betapa kejinya. Perang Dunia II telah ...

Kebangkrutan Thomas Cook, Korban Disrupsi Digital Berikutnya

Image
Oleh: M. Ridwan Jagad bisnis heboh. Perusahaan travel Inggeris, Thomas Cook, bangkrut. Tepatnya hari Minggu lalu. Salah satu perusahaan travel tertua di dunia ini gulung tikar dengan meninggalkan lebih dari 150 ribu konsumen yang terluntang-lantung di berbagai negara, menunggu kepastian, kapan pulang dan bagaimana pembayaran hotel mereka dilakukan. Termasuk wisatawan mereka, di Bali. Menyedihkan. Thomas Cook memiliki 22 ribu karyawan, bekerjasama dengan 100 penerbangan dunia, 200 pemilik hotel dan resor di 47 destinasi, dan 19 juta pelanggan. Pokoknya besar sekali. Sampai-sampai, saya pernah membaca berita dimana Menteri Pariwisata Indonesia, sangat menaruh pada Thomas Cook untuk mempromosikan Indonesia di Eropa. Berita kebangkrutan ini tentu tidak mengejutkan terutama jika dikaitkan bagaimana hebatnya bisnis digital menghantam berbagai bisnis konvensional. Sebelumnya kita akrab dengan berita transportasi dan perhotelan offline dipaksa gulung tikar dengan kehadiran bisnis mod...

The Power of Telur

Image
Oleh: M. Ridwan Telur yang dimaksudkan dalam tulisan ini bisa saja, TELUR DADAR, TELUR MATA SAPI, OMLET, TELUR ASIN, bahkan TELUR PUYUH. Saya tidak bermaksud mendiskriditkan satu telur dengan telur lainnya. Meskipun bagi saya, TELUR DADAR menempati posisi teratas di hatiku.:) Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk tujuan lain. Apalagi terkait politik misal gonjang-ganjing aksi demo minggu lalu. Soalnya, dalam aksi kemarin, kita tidak melihat ada lempar-melempar telur, bukan?. Lagipula, RUU Tentang Telur, pasti tidak menarik didiskusikan, iya kan? Cerita tentang TELUR itu asyik, tidak hanya rasanya. Menjadi makanan favorit, tidak hanya penduduk Indonesia namun juga penduduk bumi , TELUR pantas berbangga menjadi makanan yang dicari-cari. "The Power of Telur" itu nyata. Kharismanya diakui dunia. Tidak pernah ada protes terhadap telur atau ayam yang menghasilkannya. Paling protes jika harga telur naik atau protes karena harga turun dari sisi peternak. Alkisah, mas...

Demo dan "Just in a Minute Generation"

Image
Oleh: M. Ridwan Banyak orang menyebut masa kini sebagai era digital. Meskipun, itu tak lagi sepenuhnya benar karena sebenarnya kita telah memasuki era disrupsi di mana teknologi digital memang menjadi pintu masuknya. Saat ini kita justru memasuki era Big Data atau kecerdasan buatan di mana sebuah sistem bahkan mampu mengambil alih peran manusia sebagai PEMBUAT KEPUTUSAN. Orang juga menyebut anak kini sebagai GENERASI MILLENIAL. Ini juga tidak sepenuhnya benar. Karena, saat ini, anak-anak yang lahir setelah tahun 1995 justru lebih pantas disebut GENERASI Z. Mereka berbeda dengan generasi millennial yang lahir di bawah tahun itu. Anak generasi Z, itu adalah WARGA ASLI DUNIA DIGITAL. Mereka lahir, tanpa pernah mengalami sensasi teknologi analog yang jadul itu. Kalau tidak percaya? Ajak anak-anak itu menonton film keluaran tahun 1990 an. Anda akan kaget, jika melihat mimik heran di wajah mereka. Saya pernah mendapatkan pertanyaan mereka, kok di dalam film itu, smartphone tidak ad...