Posts

SINTA: Mengukur Kehebatan Peneliti Indonesia

Image
By: M. Ridwan   Tahun 2017 ini, Kemenristek Dikti memperkenalkan SINTA yang merupakan singkatan dari Science and Technology Index . Namanya keren, ya?. Tapi, singkatan ini tidak ada sangkut pautnya dengan tokoh perempuan dalam cerita pewayangan yang terkenal itu.  Sehingga, kita tentu tidak akan menemukan kisah heroik Pandawa atau derita pilu si Kumbakarna yang harus mati berperang melawan Pandawa karena melindungi negaranya. Padahal, saudaranya Rahwana nyata-nyata menculik si Sinta. Kisah ini pernah saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Menyedihkan, sekaligus mencerminkan sikap bela negara seorang warga negeri yang setia. SINTA merupakan portal yang memadukan 3 (tiga) pengukuran sekaligus yakni kinerja peneliti, jurnal dan institusi. Setelah dicek langsung di sinta.ristekdikti.go.id saya cukup tertawan dengan tampilannya. Icon SINTA tokoh wayang itu terlihat jelas. Wah, membanggakan nih. Tapi, saya yakin, para dalang mungkin tidak suka mampir ke sini :). Terus teran...

First Travel: Menakar Kadar "Kegilaan" Kita Terhadap Harta

Image
By: M. Ridwan Berat rasanya menggunakan judul di atas. Penggunaan kata "kita" tidak bermaksud menyatakan bahwa saya dan Anda terlibat dalam kegilaan ini. Saya memasukkan kata "kita" hanya untuk mewakili spesies manusia saja. Moga saja prilaku manusia yang mengeruk kekayaan dari derita jamaah umrah yang terkatung itu tidak terjadi pada diri kita. Amin. Tadi pagi, di mushalla kecil kami, kajian subuh membahas topik harta yang diperoleh dari jalan yang zalim. Pembahasannya panjang. Tidak cukup sekali pertemuan saja. Intinya, kita harus memastikan harta yang kita peroleh itu bersih dari kezaliman. Zalim adalah tindakan menyimpang dari ketentuan Allah. Lawannya adalah adil. Kezaliman itu banyak memiliki banyak jenis termasuk di dalam mencari harta.  Kezaliman itu bisa terkait atas hak Allah, hak manusia tertentu dan hak masyarakat keseluruhan. Dalam kasus travel umrah, kezaliman ini bisa dimasukkan dalam kategori ketiga yaitu menzalimi hak masyaraka. T...

The Independence Daya: Siapa Bilang Kita Belum Merdeka?

Image
By: M. Ridwan Hari ini, kita memperingati HUT RI ke 72. Seperti biasa, momen ini pasti diperingati dengan meriah. Dari Ibukota sampai pedalaman Papua, Dari Merauke sampai ujung Sabang, selebrasi moment HUT RI pasti dengan mudah ditemukan. Tentu saja, moment seru perlombaan panjat pinang, lari dgn memggunakan sarung atau goni, adalah pemandangan rutin tahunan.  Di kampung saya, perlombaan dayung sampan telah dilakukan puluhan tahun. Seru.... Seperti biasa pula, berbagai tulisan menyoroti HUT RI berseliweran, entah itu media cetak atau online, baik bernada optimis dan tentu saja ada yang pesimis. Nada pesimis biasanya mengkaitkan kondisi Indonesia yang "katanya" belum merdeka, masih dijajah asing, terkebelakang dan lainnya. Pokoknya, bernada keprihatinan, gitu . Saya tersenyum geli membaca beberapa meme unik, misal, " Tambang emas, batubara, dan timah kita dicaplok asing, kita hanya kebagian tarik tambang". Atau sebuah stiker di beca berbunyi "Indon...

The Independence Day: Siapa Bilang Kita Belum Merdeka?

Image
By: M. Ridwan   Hari ini, kita memperingati HUT RI ke 72. Seperti biasa, momen ini pasti diperingati dengan meriah. Dari Ibukota sampai pedalaman Papua, Dari Merauke sampai ujung Sabang, selebrasi moment HUT RI pasti dengan mudah ditemukan. Tentu saja, moment seru perlombaan panjat pinang, lari dgn memggunakan sarung atau goni, adalah pemandangan rutin tahunan.  Di kampung saya, perlombaan dayung sampan telah dilakukan puluhan tahun. Seru.... Seperti biasa pula, berbagai tulisan menyoroti HUT RI berseliweran, entah itu media cetak atau online, baik bernada optimis dan tentu saja ada yang pesimis. Nada pesimis biasanya mengkaitkan kondisi Indonesia yang "katanya" belum merdeka, masih dijajah asing, terkebelakang dan lainnya. Pokoknya, bernada keprihatinan, gitu . Saya tersenyum geli membaca beberapa meme unik, misal, " Tambang emas, batubara, dan timah kita dicaplok asing, kita hanya kebagian tarik tambang". Atau sebuah stiker di beca berbunyi "In...

Suddenly Indonesia

Image
By: M. Ridwan   Suddenly itu artinya tiba-tiba, kosakata bahasa Inggeris. Dalam bahasa Arab disebut faj'ah atau baghtatan. Saya mencoba mentabulasi beberapa "tiba-tiba" yang muncul di Indonesia. Mohon teman-teman menambahkannya ya... 1. Tiba-tiba saja sesama anak negeri ini punya kebiasaan baru yaitu saling menghujat dan menunjukkan kelemahan sesama warga tanpa merasa bersalah apalagi berupaya supaya mereka membaik. Kita merasa merdeka sepenuhnya memaki, menghujat, mencemooh, tertawa bahkan menjatuhkan karakter orang lain demgan semau gue. Tapi kita tak pernah mau menunjukkan bagaimana cara memperbaikinya. 2. Tiba-tiba, kita diusik dengan kata-kata  "aneh seperti anti NKRI, anti Pancasila, intoleran, kafir, radikal, dan penista agama padahal para pendiri negeri ini tidak pernah mempersalahkan hal itu. Saya yakin, yang lantang menyuarakannya sama sekali tidak pernah merasakan desingan peluru Portugis, Belanda, Jepang, atau Knggeris. Kita tidak pernah me...

Ketika Hukum-pun Akhirnya Takut Menjadi Raja

Image
Oleh: M. Ridwan (“ ..Gadoh Aneuk Meupat Jrat, Gadoh Hukum Ngon Adat Pat Tamita…?. “Hilang anak masih ada kuburan yang bisa kita lihat, tetapi jika hukum dan adat yang hilang, hendak kemana kita cari?”. (Sultan Iskandar Muda, ketika mengeksekusi putera mahkotanya) Kita tentu pernah mendengar istilah hukum menjadi raja, bukan?.  Alkisah, suatu ketika Sultan Iskandar Muda –Penguasa Sumatera dan Semenanjung Malaka saat itu- menghukum putera mahkotanya yang bernama Meurah Pupok atau Sultan Muda. Anak kesayangan calon pewaris tahta ini dilaporkan berbuat mesum dengan seorang wanita. Padahal, riwayat menyatakan, bahwa sang putera mahkota adalah korban konspirasi orang-orang yang tidak ingin dirinya menjadi raja. Para konspirator itu kemudian menjebak putera mahkota dengan seorang wanita cantik yang tak lain merupakan isteri dari seorang perwira kerajaan. Kisah ini memilukan.Saya memperolehnya ketika belajar di Aceh beberapa puluh tahun lalu. Sang Sultan sendiri ...

Catur: Be A Humble Winner and A Good Looser

Image
By: M. Ridwan Pada masa kanak-kanak, saya lazim bertengkar dengan adikku, Fauzi, tatkala bermain catur. Permainan yang awalnya mengasyikkan ini sering "berantakan" bahkan porak-poranda. ketika salah satu dari kami memenangkan permainan. Entah itu ketika saya kena "skakmat" atau giliran dia yang tidak bisa lagi menggerakkan sang raja alias skakmat juga.  Berantakan yang saya maksud adalah ketidaksiapan kami menghadapi kekalahan dan kemenangan. Biasanya, pertarungan catur dilanjutkan dengan pertengkaran lanjutan dan sering berakhir dengan tangisan atau aksi destruktif seperti membanting catur. Makanya, bidak catur sering hilang. Saya sering tertawa ketika mengingat kejadian ini. Kalau diingat-ingat, malu juga sih, "kok, sesama saudara bisa bertengkar hanya karena permainan yang harusnya menyenangkan, bukan?". Nah, biasanya, ketika terjadi pertengkaran, ayah kami, selalu mengingatkan untuk bisa bermain fair dan saling menghargai. Menurutnya, ...