Posts

Day#25 Seri Syawal 2016: Logika Marah: Antara Angry Birds dan Angry Indonesia

By: M. Ridwan Jumat malam kemarin, Kota Tanjung Balai menjadi headline. Berita tentang pembakaran rumah ibadah menjadi penyebabnya. pemicunya adalah kemarahan dan hati yang membara. Dan, seperti biasa, berbagai analisis dan respon bermunculan, termasuk tulisan kali ini. Saya mendapat info kejadian ini di pagi Sabtunya. Tepat berbarengan ketika saya, bersama si bocah-bocah (Aisha dan Raifa) menuntaskan film Angry Birds yang sudah lama kami tunggu. Angry Birds adalah film produksi tahun 2016 yang diangkat dari sebuah game terkenal di smartphone. Saya yakin, game ini pasti masih terinstall di smartphone Anda, bukan? Baik game dan filmnya menceritakan hal yang sama yaitu tentang sekawanan burung yang naik pitam karena telur-telur mereka dicuri oleh gerombolan babi. Ceritanya, suatu hari, sekawanan babi datang ke pulau para burung dengan wajah manis dan menawarkan persahabatan. Padahal?, kawanan babi itu ternyata merencanakan sebuah konspirasi untuk mencuri telur-telur burung yan...

Day#25 Seri Syawal 2016: Logika Marah: Antara Angry Bird dan Angry Indonesia

By: M. Ridwan Jumat malam kemarin, Kota Tanjung Balai menjadi headline. Berita tentang pembakaran rumah ibadah menjadi penyebabnya. pemicunya adalah kemarahan dan hati yang membara. Dan, seperti biasa, berbagai analisis dan respon bermunculan, termasuk tulisan kali ini. Saya mendapat info kejadian ini di pagi Sabtunya. Tepat berbarengan ketika saya, bersama si bocah-bocah (Aisha dan Raifa) menuntaskan film Angry Birds yang sudah lama kami tunggu. Angry Birds adalah film produksi tahun 2016 yang diangkat dari sebuah game terkenal di smartphone. Saya yakin, game ini pasti masih terinstall di smartphone Anda, bukan? Baik game dan filmnya menceritakan hal yang sama yaitu tentang sekawanan burung yang naik pitam karena telur-telur mereka dicuri oleh gerombolan babi. Ceritanya, suatu hari, sekawanan babi datang ke pulau para burung dengan wajah manis dan menawarkan persahabatan. Padahal?, kawanan babi itu ternyata merencanakan sebuah konspirasi untuk mencuri telur-telur burung yan...

Day#22 Seri Syawal 2016: Andaikan Tuhan Me-Reshuffle Malaikat

By: M. Ridwan Publik Indonesia memang jago bicara politik. Pagi ini saja, pemilik bengkel sekaligus tukang tambal di dekat rumah saya sangat fasih menjelaskan prihal reshuffle menteri jilid II oleh Presiden Jokowi yang dilakukan kemarin. Menurutnya, keputusan Presiden menarik. Dalam pandangannya, memang ada menteri yang layak namun juga tidak layak di-reshuffle. Berbagai analisis dia sampaikan, termasuk prospek Indonesia ke depan dengan adanya resuffle ini. Wah, rupanya si abang ini pakar politik juga ya. Mungkin karena banyak membaca dan mengikuti perkembangan politik Indonesia. Padahal bulan lalu, saya masih ingat ketika dia masih sibuk membincangkan maling yang mengambil barang jualannya, termasuk kekecewaannya karena aparat hukum justru cuek dengan laporannya. "Nilai kehilanganmu cuma 300 ribu, tidak bisa diproses", demikian kata aparat sebagaimana yang dituturkannya, dengan masyghul. Nah, kali ini, si abang justru lebih tertarik membahas politik Indonesia. Ceri...

Day#21 Seri Syawal 2016: Trade Off, Mbah Agus dan Balada Negeri Orang Baik

By: M. Ridwan Trade off adalah pengorbanan yang dilakukan seseorang ketika melakukan satu pilihan tertentu. Istilah ini memang lazim dipakai untuk menggambarkan pilihan seseorang dalam aktifitas ekonomi. Misal, seseorang yang memutuskan membeli roti, maka ia mengorbankan keinginan membeli baju. Asumsinya, uang yang dimilikinya terbatas. Dalam konteks negara, contoh yang biasa dipakai biasanya mengenai keputusan negara antara memproduksi senjata atau makanan?. Pilihan sulit bukan? Soalnya, keduanya perlu. Senjata untuk mempertahankan negara, dan makanan untuk keberlangsungan hidup penduduknya. Tentara juga butuh makan, bukan?. Namun, karena harus ada pilihan, maka terpaksa harus ada yang dikorbankan. Indonesia juga pernah dihadapkan pada pilihan trade off ini ketika dihadapkan pada pilihan untuk bangun pertanian atau pesawat terbang?. Pilih impor beras atau bangun pertanian?. Impor mobil atau buat mobil nasional?. Termasuk, impor tenaga kerja luar negeri atau penduduk lokal?.  Nah...

Day#16 Seri Syawal 2016: Antara Pokemon Go dan Dunia Go: Ilusi yang Menjadi Realita?

By: M. Ridwan Tulisan ini dibuat tahun 2016. Bagi yang membacanya di tahun 2116, -seratus tahun dari sekarang, maka saya sampaikan bahwa saat ini warga bumi dihebohkan oleh sebuah game bernama Pokemon Go. Prinsip game-nya sebenarnya sederhana, sama seperti game lain yang mampu membangkitkan adiksi (kecanduan), misalnya Angry Bird atau Flappy Bird. Untuk manusia di tahun 2116, game ini mungkin sudah sangat ketinggalan jaman ya.. Pokemon Go ini cukup keren dibandingkan game sejenis di tahun 2016 karena memanfaatkan GPS dan lokasi tertentu sehingga pemain bisa merasakan sensasi virtual dan nyata. Game ini disebut Augmented Reality. Iseng-iseng, saya mencoba menginstall game ini di smartphone jadul saya. Tidak memerlukan waktu lama, aplikasi ini berhasil di- install . Oh ya, saya tidak menginstallnya dari Google Store , belum nemu sih. Katanya masih belum di ada lisensi untuk Indonesia. Ada sebuah situs yang berbaik hati memberikan APK-nya. Meskipun, mungkin belum diverifikasi dan ...

Day#14 Seri Syawal 2016: Vaksin Palsu dan Pupusnya Mimpi Children of Heaven

By: M. Ridwan Jumlah orang "sakit" di negeri ini memang sudah dalam tahap memprihatinkan. Baik sakit fisik maupun mental spiritual. Tumben ya, saya kali ini mengarahkan sedikit pesimis. Kalau dari sakit fisik, ditandai dengan membludaknya jumlah penderita permasalahan medis yang diderita masyarakat negeri ini. Di daerah saya, Medan, sudah merupakan kelaziman bila orang sakit ramai-ramai berobat ke negeri tetangga, Malaysia atau Singapura. Katanya sih, selain murah, pelayanan di sana juga lebih profesional bila dibandingkan dengan di dalam negeri.  Katanya pula, profesionalitas ini terjadi karena dokter-dokter di sana tidak terlalu disibukkkan dengan banyak rumah sakit. Mereka hanya fokus kepada 2-3 rumah sakit. Makanya, mereka bisa fokus kepada penyembuhan pasien. Masih dari info yang saya terima, kondisi ini tidak terjadi di Indonesia, dimana para dokter kita terlanjur disibukkan dengan banyak rumah sakit dan tempat praktik. Makanya, penanganan pasien menjadi tidak maksi...

Day#14 Seri Syawal 2016: Vaksin Palsu dan Pupusnya Mimpi Children of Heaven

By: M. Ridwan Jumlah orang "sakit" di negeri ini memang sudah dalam tahap memprihatinkan. Baik sakit fisik maupun mental spiritual. Tumben ya, saya kali ini mengarahkan sedikit pesimis. Kalau dari sakit fisik, ditandai dengan membludaknya jumlah penderita permasalahan medis yang diderita masyarakat negeri ini. Di daerah saya, Medan, sudah merupakan kelaziman bila orang sakit ramai-ramai berobat ke negeri tetangga, Malaysia atau Singapura. Katanya sih, selain murah, pelayanan di sana juga lebih profesional bila dibandingkan dengan di dalam negeri.  Katanya pula, profesionalitas ini terjadi karena dokter-dokter di sana tidak terlalu disibukkkan dengan banyak rumah sakit. Mereka hanya fokus kepada 2-3 rumah sakit. Makanya, mereka bisa fokus kepada penyembuhan pasien. Masih dari info yang saya terima, kondisi ini tidak terjadi di Indonesia, dimana para dokter kita terlanjur disibukkan dengan banyak rumah sakit dan tempat praktik. Makanya, penanganan pasien menjadi tidak maksi...