Posts

Selamat Datang di Negeri Candu

Oleh: M. Ridwan Tiada hari tanpa candu. Demikian kesimpulan yang saya berikan. Candu yang saya maksud adalah ketagihan dengan rokok, narkoba, minuman keras, judi atau prostitusi. Betapa tidak, data menunjukkan bahwa jumlah perokok sudah mencapai angka lebh dari 52   juta jiwa di seluruh Indonesia. Dengan jumlah sedemikian, maka Indonesia menempati urutan ke dua perokok terbanyak di dunia setelah negara Timor Leste yang dahulunya juga bagian dari Indonesia.  Dengan jumlah sebanyak itu, maka akan ada uang yang dibakar sebanyak 105,3 trilyun setiap tahunnya. Angka ini cukup realistis mengingat setiap tahunnya konsumsi rokok di Indonesia cukup fantastis yaitu sebanyak 302 milyar batang rokok.   Kalau biaya konsumsi rokok itu ditambah dengan kerugian lainnya seperti biaya para penderita kanker akibat rokok, maka kita akan mendapatkan angka 254 trilyun setiap tahun. Padahal, penerimaan cukai dari tembakau hanya sekitar 50-60 trilyun setiap tahunnya. Hebat… Se...

Enaknya Pamer di Negeri Ini

Oleh: M. Ridwan Indonesia menawarkan sejuta kejutan. Bahkan, banyak kejutan yang ditunjukkan di hadapan kita adalah kejutan aneh.   Kejutannya di luar perkiraan. Misalnya, ketika dua selebriti perempuan Indonesia yang sangat tajir –tentu untuk ukuran Indonesia- memamerkan kekayaan mereka. Tidak tanggung-tanggung, Lamborgini, rekening bank sejumlah ratusan milyaran rupiah, perhiasan, tas dan sepatu, bahkan biaya rawat kecantikan bulanan senilai ratusan juta, dengan bangga ditampilkan. Narsis level satu. Saya salut karena ternyata di Indonesia banyak orang kaya. Bukan hanya kelas menengah seperti tulisan saya sebelumnya. Makanya, saya tersenyum ketika mendengar beberapa komentar miring terhadap sang artis. “Sungguh tidak etis, mereka pamer harta di tengah kondisi masyarakat   yang yang serba sulit saat ini. Mana hati nurani mereka?”, demikian ungkapan kejengkelan yang santer saya dengar. Ada juga yang curiga, jangan-jangan hartanya diperoleh dari jalan yang tidak ben...

Berharap Kepada Kelas Menengah Indonesia: Mengapa Tidak?

Oleh: M. Ridwan Jika Anda memiliki pengeluaran dalam rentang $ 2-40 per-hari (kira-kira sekitar 20-400 ribu Rupiah), maka Anda boleh berbahagia karena menurut Asian Development Bank, Anda termasuk kelas menengah Indonesia. Memang, banyak kriteria untuk mengukur kelompok kelas menengah. Ada yang membuat rentang   antara $12-50 perhari yaitu berdasarkan tingkat purchasing power parity (PPP), dimana pendapatan Brazil sebanyak $ 12 sebagai batas bawah ( floor ) dan Italia sebanyak $50 sebagai batas atas ( ceiling ). Ada juga kriteria Bank Dunia yang mensyaratkan pendapatan sekitar 1-6 juta rupiah perbulan. Saya menggunakan kriteria ADB, karenadirasa lebih cocok untuk negara-negara berkembang terutama di Asia. Selain itu, negara-negara Asia berbeda dengan Eropah bukan?. Terma “Kelas Menengah” memang sedang ramai diperbincangkan dan selalu dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan, kelas menengah juga menjadi sorotan ketika dikaitkan dengan perkembangan ekonomi sy...

Negeri Para Hedon

Oleh: M. Ridwan   Jika kita membaca berbagai literatur sejarah, maka akan didapatkan fakta banyak terjadi peristiwa kehancuran umat-umat terdahulu. Katakanlah, umat Nuh yang diterjang banjir raksasa atau kaum Sodom yang dihujani batu-batu panas dan memusnahkan semua penduduk Sodom. Demikian pula, Kaum Fir’aun ditimpa bencana alam berupa paceklik, wabah kutu, kodok dan belalang. Bencana juga terjadi kepada kaum Saba’ dengan bobolnya bendungan Maghrib yang menjadi kebanggaan dan tumpuan kemakmuran mereka. Akibatnya, mereka kelaparan dan negeri mereka berubah menjadi tandus dan kering. Atau, kisah Kaum Pompeii (79 M) yang dimusnahkan oleh letusan gunung Vesuvius di Itali. Peristiwanya terjadi di malam hari sehingga mereka tidak sempat menyelamatkan diri. Kaum ini ternyata gemar melakukan aksi perzinahan, gladiator dan kemaksiatan lainnya. Banyak peristiwa kehancuran lainnya yang terukir dalam sejarah namun tidak ditulis dalam artikel singkat ini. Jika kita amati peri...